Showing posts with label prosa. Show all posts
Showing posts with label prosa. Show all posts

Monday, March 06, 2017

Teruntuk Seseorang Dalam Genggaman



Sumber gambar: Yulianahakim's Gallery




Ini adalah surat pertama yang kutujukan kepada seseorang yang nyata dan benar-benar ada di depan mata. Dan mungkin ini adalah cara paling kolot yang pernah kamu temui selama perjalanan usia.

Surat ini kutulis, secara sadar. Ketika gelap sudah menggelar jubah kebesaran dan sudut kota berangsur senyap.
Ketika rindu mulai menggelayut dalam dada.


Kepada seseorang dengan tatap paling teduh,

Tuesday, July 12, 2016

Duapuluhsatu. | Surat untuk diri sendiri chapter:2

Sumber gambar: Yulianahakim's Gallery

Tepat hari ini, di 21 tahun yang lalu telah lahir seorang bayi perempuan dari rahim seorang wanita. Panggil saja namanya Aku. Jari-jarinya mungil, pipinya cukup tembem.
Aku, 21 tahun yang lalu hanya bisa menangis. Mencari kehangatan dari dekapan seseorang yang bernama Ibu.
21 tahun yang lalu, si Aku yang di gusinya masih belum ditumbuhi gigi susu akan tertawa lebar ketika seseorang yang bernama Ibu menepuk-nepuk punggung dan pahanya sambil menyanyikan lagu lucu.
21 tahun yang lalu, Aku akan menangis keras bila disuapi pisang yang diserut dengan sendok ataupun dicekoki minum obat yang sudah digerus lembut lalu dicampur sedikit air.

Kini.. Setelah Aku tumbuh menjadi seorang gadis, ia masih sama seperti bayi di 21 tahun yang lalu.
Ia masih sering merengek, mencari kehangatan dekapan seseorang yang bernama Ibu pada malam-malam dingin yang dilaluinya.
Ia masih sering tertawa lebar, manakala lagu yang dulu dinyanyikan seseorang yang bernama Ibu terngiang di telinga dan memenuhi isi kepalanya.

Namun, ada yang sedikit berbeda. Si Aku kini sudah mampu berjalan sendiri. Ia kini mampu merebus mie instan lalu dicampur dengan potongan cabai dan sawi. Ia pun mampu mengeja kata demi kata yang diucapkan dari lawan bicaranya.
....
Untuk Aku, yang kini telah tumbuh menjadi gadis 21 tahun, saya salut padamu yang dapat tumbuh dengan sehat dan bahagia. Semoga kebahagiaan dan kesehatan selalu berada dalam dekapanmu.

Untuk Aku, bayi yang dulunya sering merengek minta ditimang saat akan tidur, kuatkan hati dan tenagamu. Karena untuk hari-hari kedepan, tantangan dan ujian hidup akan dimulai. Jangan sering mengeluh dan mudah menyerah sebelum kamu benar-benar telah mengerahkan seluruh usaha dan kemampuan yang kamu miliki, ya.

Untuk Aku, si bayi gendut yang mudah bahagia. Tetaplah menjadi pribadi yang mudah dibahagiakan. Jangan jadi manusia pemilih yang pada akhirnya akan merugikan diri sendiri. Jangan mudah menangis akan hal-hal yang sepele. Dan jangan mudah marah oleh ucapan dan bisikan miring yang sering mengendorkan senyum dan keramahanmu.

Untuk Aku, manusia memang tempat salah dan khilaf. Maka jangan kamu merendah diri akan apa yang ada pada dirimu. Manusia yang bijak bukanlah manusia yang selalu baik selama hidupnya. Melainkan manusia yang mampu berubah menjadi pribadi yang lebih baik dari masa lalunya.

Untuk Aku, terimakasih telah menjadi sehat dan bahagia.
Salam dariku untukmu, Aku.

Tertanda,

Yuliana.
 

Thursday, June 02, 2016

Saya Pamit.

sumber gambar: Google
Selamat tinggal.
Kali ini saya benar-benar akan pamit.
Pergi dari tiap celah hidupmu yang kerap kali kudatangi meski kamu merasa sangat muak.
Saya pamit.
Menghilang dari setiap pandangan yang kamu edarkan dengan mata teduh yang dulu selalu menenangkanku.
Saya pamit.

Sunday, March 13, 2016

Di Persimpangan Kala Itu

Rintik hujan sudah berkali-kali mengecupku sejak jam besar di gedung kota menunjuk angka 3, angka kesukaanmu.
Hingga senja jatuh di pangkuan, aku masih berdiri di tempat yang sama, di persimpangan dekat kedai yang sering kita kunjungi dulu.

Hujan kali ini mengacak-acak loker memori yang sudah kususun rapi dan terstruktur sesuai urutan kedatangan. Menarik dengan paksa ingatan tujuh ratus dua puluh lima hari yang lalu, ingatan tentang persimpangan jalan dimana kakiku berdiri. Dan kita. Memecah kepingan hati yang susah payah kusulam dengan rindu dan tabah agar tak kepalang berantakan.

Sunday, December 13, 2015

Tangisan Seorang Lelaki

sumber gambar: google


Kita bertengkar lagi. Bukan pertengkaran seperti biasanya. Seperti saat aku menyetrika bajumu dan berakhir dengan gosong dan bolong. Bukan pula pertengkaran saat kamu malas membantu bersih-bersih rumah atau mangkir menyiram bunga di kebun.

Kali ini pertengkaran terjadi sangat hebat. Pertengkaran yang membela dan menina-bobokan ego kita masing-masing. Pertengkaran yang akhirnya berujung pada sikap diammu. Diam akan pertanyaan-pertanyaan yang kuajukan berkali-kali di depan matamu. Diam akan segala sikap yang kulakukan. Diam akan tatapan penuh tanya. Diam.

Monday, November 16, 2015

I Miss You

Sumber gambar: Google

Larut sudah berada di singgasananya ketika aku berkutat dengan tugas-tugas kuliah.
lagu "Must Let You Go" dari Young Gun sayup-sayup terdengar dan memenuhi ruangan.
tiba-tiba, rasa sepi mulai menyergapku.
kesepian yang kemudian mencekik rindu yang selama ini bersemayam damai dalam semak-semak jiwaku.
rindu yang kukunci rapat-rapat di peti mati dalam relung hatiku, kini menyeruak dan memaksa untuk muncul.

aah.. aku benci perasaan ini.
saat aku menginginkan kehadiranmu dalam khayal dan nyataku, namun yang kudapati hanya serpih-serpih kenangan kita.
saat aku merasa bahagia mengingat memori masa kita dulu namun juga terasa pahit seketika mendapati itu hanyalah sebuah memori cerita lama.

Wednesday, November 05, 2014

Kamu Tidak Tahu

Sumber gambar: Google

Saya sarankan membaca ini sambil mendengarkan lagu Setengah Hati dari Ada Band.

Kamu tidak tahu, seberapa kecewanya saya saat kamu menolak tanpa pikir panjang perihal bahagia yang saya tawarkan. Meski saya; dengan segenap diri saya, berikrar untuk bersedia menciptakan senyum di wajahmu yang saya perhatikan jarang tersenyum itu. Dan kamu memilih melupakan tawaran saya.

Kamu tidak tahu, betapa saya sangat limbung ketika dari bibirmu yang saya puja-puja itu terucap mantra maha sakti lagi mandraguna yang membuat saya terpental sangat.. Sangat.. Sangat jauh. Jarak jauh yang harus saya tempuh sepanjang seribu tahun cahaya untuk menyeberangi luasnya ego yang memisahkan kepingan hatimu dengan remukan hati saya.

Friday, October 24, 2014

Hanya Saja Saya Terlalu Keras Kepala


Sumber gambar: favim
Langit sedang marah. Atau bahkan malu; saat aku menyendiri di bangku taman kota. Semburat jingganya jatuh di pangkuanku, menimpa jemari yang sawo kecoklatan. Semilir angin dengan lembut menyapu anaksungai yang terburai dari pelupuk mata.

Ah, senja. Ia selalu menghadirkan simfoni sendu lagi rindu. Irama-iramanya dengan sangat sempurna menarik bulir-bulir air mata hingga menggenangi sudut-sudutnya.

Wednesday, September 10, 2014

Bahagia Menurut Saya

Sumber gambar: Google
Untuk sebagian orang, bahagia baginya adalah saat bisa mendapatkan mobil mewah sejenis BMW, Lamborghini, Alphard, atau Ferrari.


Bagi sebagian orang, membeli barang-barang branded di mall-mall di kota besar atau bahkan di luar negeri seperti Chanel, Hermes, Prada, Chloe, Furla, Burberry, dan Gucci adalah bahagia menurutnya.

Sebagian orang lainnya, mendapatkan perhiasan emas, berlian, intan, permata, mutiara, bahkan kristal swarowski yang berharga milyaran rupiah adalah definisi bahagia baginya.

Namun...
Bagi saya. Bahagia itu sederhana. Sesederhana huruf-huruf penyusunnya.

Sunday, September 07, 2014

Kunamai Dia Itu "Kamu"

Sumber gambar: tumblr

Satu. Saat ia hadir dengan senyuman mautnya. Dan aku dengan kedunguanku; terpesona. Entahlah.. Apa yang istimewa dari senyum seorang ia. Hanya saja berpuluh salju berguguran di tubuhku setiap satu senyum manis terlukis dari atas dagu yang kokoh. Menyejukkan, dan aku; menikmati.

Lagi. Saat matanya berkedip mesra. Mungkin Si pemilik mata tak berniat menggoda, hanya saja seorang aku yang lemah pada pesonanya. Hingga roboh sudah benteng yang sudah kubangun bersusah-susah. Semua musnah dikalahkan pesona.

Friday, August 08, 2014

Kita; Sebuah Asa Yang Sia-sia

Sumber gambar: Google
Hari Jumat pukul 2

Ting.. Ting.. Ting

Dentingan sendok dan gelas yang berisi susu coklat hangat beradu. Memecah keheningan yang beku. Yang sejak tadi menyiksa tenggorokan.

Di sini, di kedai di persimpangan jalan. Aku amati lamat-lamat, bulir-bulir hujan jatuh dengan irama syahdu. Membasahi krisan putih yang sejak tadi menatap sendu ke arahku. Bau tanah basah yang sejuk segera menyelinap ke hidungku. Hmm.. Suasana yang amat damai, menyatu dengan suara alam.

Dingin... Ya, dingin. Namun dingin kali ini sungguh berbeda. Dingin yang hampir melumpuhkan sadarku. Dingin yang seolah menjajah ingatan. Dingin yang menarik paksa kenangan yang sudah kubuang jauh-jauh. Jauh.. Jauh di sana. Di perbatasan antara benang-benang nefron di cerebrum dan cerebelum.

Lalu, lobus oksifital dalam otakku mulai aktif berproduksi. Kenangan demi kenangan lima tahun silam mulai berkelebat hebat. Hari yang sama, jam yang sama, dan tempat yang sama. Jumat tepat lima tahun lalu, di bangku yang kududuki, dua muda-mudi sedang berhaha-hihi sambil sesekali mendaratkan ciuman di kening atau pipi. Mereka adalah kita; aku, dan seorang lelaki yang bersahaja, kamu.

Ya, kita pernah dekat. Bahkan lebih dekat dari sela-sela jemari. Saat itu, dunia seperti enggan untuk berotasi. Saat itu, dunia seolah ikut merayakan bahagia. Bagiku, kau adalah semesta. Tempat bagiku untuk berpijak. Aman bergumul dengan nyaman saat berada dalam bahumu yang rindang. Rencana demi rencana baik untuk masa depan tergelar. Merasa yakin bahwa masa depan berada dalam genggaman.

Namun, semesta memang Maha Bercanda. Kamu, yang kemarin masih kugenggam rapat, kini memaksa untuk bebas. Menggeliat, mencipta gelisah dan amarah. Lalu, kita yang sama-sama mendewakan ego, memilih jalan yang sama sekali berlawanan dengan rencana masa depan kita.

Hujan diluar mulai reda. Namun yang kurasakan malah derasnya ingatan tentang getirnya luka yang kini berduka.

Sebuah kita; yang dulu sering kau dan aku ucap, sepertinya telah haram untuk kini direcap.

Semakin keras tamparan semesta bahwa kita adalah sebuah asa yang sia-sia. Ah... Tetiba saja mataku sudah dipenuhi lautan. Lalu tumpah ruah menjadi tangisan. Deras.. Seperti hujan hari Jumat tadi siang.

Monday, August 04, 2014

Siapa Aku?

Sumber gambar: Google
Aku adalah ia yang tak pernah kau acuhkan kehadirannya. Bahkan, acapkali kau anggap aku hilang di negeri antah berantah. Atau musnah dimangsa raja segala raja. Padahal sebenarnya aku tak kemana-mana. Hanya saja kau lupa menyimpanku dimana.

Aku adalah jemari malang yang enggan kau genggam. Mungkin kau malu menggenggam jemari garing pun mulai mengeriput. Kau sibuk menari mencari genggaman yang kokoh. Padahal dalam genggamanku, kau bisa mendapatkan apa yang kau takutkan kala semesta berlaku garang. Tak bisakah aku?

Monday, April 28, 2014

Sebuah Percakapan di Hujan Bulan April

Sumber gambar: tumblr

Kamu ini.. Dipertahankan kok malah main sama yang lain seenaknya gitu. Dasar!

Hey, apa maksudmu? Jelaskan apa maksud dari pernyataanmu itu.

Iya. Aku sudah mati-matian menjaga hati hanya untuk satu nama. Aku sudah setengah sekarat menabung rindu agar bisa membayar lunas untuk bisa bertemu denganmu. Aku tengah setengah hidup membangun singgasana cinta tempat kita bersanding nantinya. Tapi apa balasanmu? Kamu malah bermain api di belakangku dengan hati yang lain. Maksudmu apa? 

Aku? Bermain api? Haha. Jangan salah paham. Sejak berkenalan dekat denganmu, aku berjanji pada diri sendiri, dan pada semesta, untuk memegang kata percaya. Percaya pada kesabaran dalam menghadapi sikapmu. Percaya pada setiap ucap yang keluar dari bibirmu. Dan percaya pada kesetiaan yang kau ajarkan. Tapi, percayaku lama kelamaan memudar, terlebih karna ulahmu. Lalu tergantikan dengan rasa curiga dan seribu tanda tanya. Benarkah yang selama ini kau ucap? Jujurkah yang selama ini kau ajarkan? Lalu.. Dari ulahmu sendiri, aku tahu.. Bahwa hatimu tak benar-benar kau jatuhkan padaku. Aku hanya kau jadikan batu lompatan untuk sekedar mengilangkan kesendirian. Bukan begitu?

Kenapa malah menyalahkan aku? Jangan membelokkan pembicaraan.

Bukan.. Ini bukan membelokkan pembicaraan. Aku hanya menyimpulkan segala analisa dari pengamatan seorang aku. Ya, karna kamu tak pernah mau mengungkapkan perasaanmu yang sebenarnya padaku, bukan? :)

Kamu ini ngelantur. Aku 'kan sudah jujur padamu atas segala rasaku. Apa kamu masih tidak percaya?

Bukan.. Ini bukan masalah percaya atau tidak. Aku.. Aku jelas percaya pada semua ucapmu. Tapi, maaf.. Hatiku cukup dibilang perasa terhadap sesuatu. Sekalipun kata yang keluar dari mulutmu adalah A, tapi dalam hatimu; aku tahu, adalah B.

Jangan berbelit-belit. Langsung intinya saja.

Jadi begini.. Awalnya aku sangat percaya, seribu persen aku percaya. Namun lama-lama aku merasa, sikapmu menimbulkan curiga. Sepertinya.. Segala hal yang kamu lakukan berfokus pada dia yang kau simpan rapat dihatimu. Sepertinya kerinduanmu terpusat pada dia yang kau kunci dalam ingatanmu. Aku.. Yang dengan susah payah mencari celah untuk sampai menuju hatimu, merasa timpang mengetahui bahwa tak ada lagi tempat untukku dihatimu. Aku kacau. Meracau tak menentu. Menggeliat kecewa pada asa dan semesta. Kenapa Tuhan menciptakan "kita" jika pada akhirnya dia yang kau simpan rapat dalam hatimu tak bisa kau singkirkan barang sebentar saja. Bukankah semua orang itu sama, akan kecewa jika yang seharusnya jadi singgasana indah hanya untuk mereka berdua, tapi malah diisi dengan seseorang yang bahkan tak diharapkan kehadirannya? 

..........

Aku telak, kan? Jadi benar; yang kamu pertahankan atas nama setia itu bukan namaku, kan? Yang kau bangunkan singgasana mewah dalam istanamu itu bukan aku, kan? Haha. Selamat, kamu sudah menutupi dengan mulus sampai-sampai aku baru menyadarinya setelah sedikit lama. Jadi hentikan usahamu dalam membangun singgasana yang kau buat sedemikian indah namun hanya kau poles dengan kebahagiaan semu itu. Hentikan, cukup. Aku tak mau lagi hidup bersama orang yang masih diikuti bayang-bayang hitam yang selalu dibawa kemanapun ia berada. Silakan pergi, jika hatimu tak pernah disini. Tak mengapa.." Selamat tinggal. :)"

Friday, April 04, 2014

Maaf, Aku Berpura-pura

Sumber gambar: tumblr
Maaf aku berpura-pura. Menampakkan senyum bahagia di muka namun sebenarnya batinku terluka. Aku berusaha mengatakan "aku tidak apa-apa" melewati tatapan dan senyum meyakinkan yang kupoles di wajahku, untuk sekedar meyakinkan jangan terlalu khawatir terhadapku, namun sebenarnya batinku perih meraung-raung. Karna terkadang ada tangis dalam senyum-senyum manis.

Wednesday, April 02, 2014

Ya Aku Menyerah. Ya Kita Berpisah.


Sumber gambar: Google

Aku, orang terbodoh sedunia. Mempercayakan hatiku yang luka pada seseorang yang kuharap bisa mengobatinya, namun tak tahu baikkah orang yang kupercayai itu. Aku sepenuhnya yakin ia bisa menyembuhkan luka ini. Yakin. Sepenuhnya.

Saturday, March 22, 2014

Gak Tahu. Dan gak mau tahu.

Sumber gambar: tumblr
Gak tahu. Dan gak mau tahu. Sudah cukupkah kata-kata itu menjelaskan makna dari perasaanku saat ini padamu?

Bukan. Ini bukan perihal melepaskan sosokmu dari sisiku. Aku hanya, membiarkan hatimu untuk menentukan pilihan. Tetap menemaniku, berada disampingku. Atau hatimu akan memilih melenggang pergi, meninggalkan hatiku yang terluka disini. Terserah kamu, itu adalah pilihanmu. Aku tak akan memaksanya, tak mau.

Dari sini aku belajar mengikhlaskan, ikhlas yang tanpa dendam. Ikhlas yang tanpa mengharap imbalan. Ikhlas dengan sebenar-benarnya ikhlas. Ikhlas menerima apapun itu keputusan yang telah hatimu pilih.

Aku, kini, menarik sebagian dari jiwa ini dari mimpi indah yang kau suguhkan untukku. Jiwaku, kupaksa untuk bangun dari tidur panjang yang hangat dan nyaman dari dekap pelukmu. Hatiku, kupasangi garis pembatas agar tak melewati batasan yang telah hatimu putuskan.

Bukannya aku berharap pergi dari hidupmu, Sayang. Bukan. Aku hanya, menampar diriku sendiri agar aku tersadar sebenarnya siapa aku dimatamu. Aku, bukanlah apa-apa bagimu. Maka aku akan menarik segala harap yang kugantungkan padamu.

Gak tahu. Dan gak mau tahu. Mungkin itu adalah kata-kata yang keluar dari mulutku, sebagai salah satu upaya untuk lebih menegaskan bahwa kini ada batas antara kamu dan aku. Batas yang tak nyata namun terasa ada lalu meninggalkan sesak dalam dada. Batas yang membuat adanya kita menjadi semakin kusut masa. Batas yang memaksaku untuk berpura-pura tak lagi peduli denganmu, namun sebenarnya dalam hati aku sepenuhnya menghawatirkan keadaanmu.

Kuberikan kau jeda, Sayang. Agar kita bisa saling mendengar napas kita masing-masing. Agar kita menyadari akan kekurangan kita masing-masing, lalu memutuskan untuk saling melengkapi satu sama lain.

Kini kita berjalan di jalan kita masing-masing, Sayang. Aku berjalan di jalanku. Dan kamu berjalan di jalanmu. Semoga kita bertemu di ujung perjalanan ya, lalu menyatu menjadi satu jalan. Jalan yang menuju satu tujuan, yaitu kebahagiaan.

Namun jika kamu memilih belok ke arah yang lain, maka doaku akan selalu menyertaimu. Kudoakan semoga kau bertemu dengan teman seperjalanan yang lebih baik dari aku. Semoga kau bahagia dengan pilihanmu. Doakan aku agar hati ini kuat jika kemungkinan terburuk itu terjadi suatu hari nanti.

Friday, March 14, 2014

Menjauh. Sepeti itukah?

Sumber gambar: favim
Aku, merasa ada yang berbeda dengan adanya kita. Entahlah apa.
Sepertinya waktu, dengan tega menebas segala asa yang kita punya.
Aku, dan kamu. Kita berdua, sepertinya telah menyepakati satu hal, menjauh.
Aku, tak lagi tertarik untuk menceritakan hal-hal yang aku alami seharian penuh padamu.
Dan kamu, yang tak lagi melibatkan aku dalam urusanmu.

Wednesday, March 12, 2014

Bila Kata Kita Tak (lagi) Ada

Sumber gambar: Google
Bila kata kita tak (lagi) ada, maka beritahu aku telinga mana yang mam(p)u mendengarkan celoteh panjangku sebaik telingamu?

Bila kata kita tak (lagi) ada, maka beritahu aku pundak mana yang bisa kujadikan tempat bagiku untuk bersandar senyaman pundakmu?

Bila kata kita tak (lagi) ada, maka beritahu aku senyum milik siapa yang mam(p)u mengembalikan mood-ku dari marah menjadi rekah selain milikmu?

Bila kata kita tak (lagi) ada, maka beritahu aku dahi siapa kini yang kau kecup dengan mesra tiap bangun dan menjelang tidurmu?

Bila kata kita tak (lagi) ada, maka beritahu aku jari siapa kini yang kau genggam dengan hangat?

Bila kata kita tak (lagi) ada, maka beritahu aku jiwa milik siapa kini yang kau ajak terbang dan berputar-putar di awan mimpi?

Bila kata kita tak (lagi) ada, maka beritahu aku bahwa hidupku tak pernah baik-baik saja. Hingga aku akan selalu berpulang menujumu, rumahku.

Bila kata kita tak (lagi) ada, maka beritahu aku abu-abu selalu menyelimutimu. Hingga aku akan selalu menjadi matahari bagimu, pengusir abu-abu itu.

Bila kata kita tak (lagi) ada, aku (akan) menyadari bahwa segalanya tak akan bisa baik-baik saja seperti semula.

Bila kata kita tak (lagi) ada, maka aku akan berdoa kepada Sang Maha untuk (kembali) meng-ada-kan kita.

Sunday, February 23, 2014

Kepada Pemilik Hati yang Luka

Sumber gambar: Google
Semalam aku mendapat pesan singkat darimu. Kamu bilang kamu ditinggal pergi begitu saja oleh orang terkasihmu. Aku.. sedikit ingin tersenyum mendengarnya. Namun air matamu memaksaku untuk menahan tawaku, lalu ikut bersedih mendengar kisahmu.

Aku tahu, hatimu sedang kacau. Aku tahu, saat ini hatimu sedang rapuh. Aku pun tahu, hatimu kini tak lagi sama seperti semula. Aku juga tahu, hatimu kini berserakan menjadi serpihan. Sakit? Yayaya, dimana-mana terluka itu sakit. Dokter ahli pun akan setuju kali ini dengan pernyataanku.

Tak apa, Sayang. Sakit hati itu wajar. Dalam mengarungi lautan kehidupan, kamu tak akan berlayar dengan mulus bersama perahumu. Dalam perjalananmu, pastilah akan ada angin sepoi-sepoi yang mengelus-elus rambutmu dengan halus. Suasana damai yang mengundang kantuk untuk datang menghampiri pelayaranmu.

Namun jangan terlena, Sayang. Bisa saja angin sepoi-sepoi itu dengan usil memanggil teman-teman satu gang-nya dan memporak porandakan perahumu. Maka yang ada bukanlah tidur yang menenangkan, melainkan perahumu yang hancur dan kepalamu yang pening. Lalu kamu akan merutuk menyalahkan angin. Sayang, ini bukanlah salah angin tapi salahmu. Karna kamu telah terlena dengan angin sepoi itu.

Sudahlah usah kau menangisi dia. Sudah menjadi hukum alam bahwa pertemuan selalu diakhiri dengan perpisahan. Lantas kita bisa apa? Jika sudah saatnya alam mendatangkan perpisahan pada kebersamaanmu, maka berikanlah senyuman terbaikmu.

Katakan "Terimakasih!" dengan senyuman lebar dan pelukan hangat tanda perpisahan dengan orang yang pernah menjadi bagian dari hidupmu itu. Katakan "Semoga adanya kita dahulu dan apa yang telah kita lalui menjadi pelajaran bagi kita masing-masing untuk menjadi yang lebih baik." dengan senyuman terbaikmu.

Lalu tugasmu setelah itu adalah instropeksi diri. Jangan terburu-buru mencari pengganti, nikmati saja jeda yang diberikan waktu sebagai bonus untukmu dalam memperbaiki diri. Jika memang dirasa kamu sudah benar-benar baik, maka waktu pasti akan memberikan kesempatan padamu untuk memilah dan memilih pengisi hatimu.

Sekarang, nikmatilah jedamu dulu, Sayang. Semoga kau menjadi pribadi baru yang lebih dan lebih baik lagi.

Saturday, February 22, 2014

Jangan Pergi, Tetaplah Disini

Sumber gambar: Google
Maka jika kamu pergi, bahu siapa tempat kepala ini bersandar selain pada bahumu? Adakah bahu lain yang mampu memberikan kenyamanan selayaknya bahu lebarmu? Aku tak yakin, tak pernah yakin.

Maka jika kamu pergi, kepada siapa senyuman terbaikku ini kuberikan selain padamu? Adakah seseorang lain yang mampu menarik tali simpul senyum di bibirku selain kamu? Aku tak yakin, tak pernah yakin.

Maka jika kamu pergi, siapa lagi yang akan menginspirasiku menulis ini semua? Adakah orang lain yang mampu membuatku begitu bersemangat menulis sesuatu selayaknya kamu? Aku tak yakin, tak 
pernah yakin.

Maka jika kamu pergi, kepada siapa kugantungkan rindu ini selain hatimu? Adakah hati lain yang bisa kujadikan tempat penggantung rindu? Aku tak yakin, tak pernah yakin.

Maka jika kamu pergi, kepada siapa kujatuhkan hati penuh lebam ini selain hatimu? Adakah hati lain yang bisa menjadi tempat ternyaman bagi hatiku untuk jatuh? Aku tak yakin, tak pernah yakin.

Maka jika kamu pergi, siapa lagi yang aku tunggu dalam menyemangati hari-hariku? Adakah sesuatu lain yang bisa menyemangatiku selain kamu? Aku tak yakin, tak pernah yakin.

Maka jika kamu tak pernah kembali lagi, untuk apa aku dan sang waktu bersahabat saling menghitung detik menanti kembalinya hadirmu? Sungguh hanya sia-sia.

Maka jangan pergi, tetaplah disini.