Sunday, February 28, 2016

Surat Untuk Ibu

Sumber gambar: Google

Kepada yang tersayang, Ibu.

Selamat entah, Bu.
Adek tidak tahu bagaimana keadaan di surga sekarang. Pagi dengan kicauan burung dan balutan kabut tipis kah, atau malam pekat dengan taburan bintang yang menggantung di langit-langit surga. Ataukah di surga sedang musim semi yang hangat dimana bunga-bunga selalu mekar dan selalu tersenyum tiap ibu lewat. Adek berdoa semoga Ibu selalu dihinggapi kebahagiaan.

Bu, adek berlinangan air mata saat menulis surat ini.
Belakangan ini hari-hari terasa begitu berat untuk adek jalani. Entah itu untuk sekedar belajar, menyelesaikan setumpuk tugas kuliah, ataupun kerjaan dan rutinitas yang tiap hari menunggu untuk adek selesaikan. Segala yang adek lakukan terasa sangat hambar, tidak ada soul di dalamnya. Adek merasa seperti tengkorak tanpa jiwa yang hanya berjalan kesana kemari tanpa ada semangat. Adek kenapa, Bu?

Bu, minggu-minggu terakhir ini rindu-rindu untuk Ibu menumpuk sudah. Rindu suara Ibu, rindu dengan kasih sayang Ibu, rindu masakan Ibu yang banyak macam dan tentunya terasa sangat nikmat di lidah adek, yang terasa berbeda dengan sayur bayam buatan adek ataupun sayur yang adek beli di warung depan rumah. Adek sangat merindukan dekapan Ibu. Rindu kehangatannya, rindu kenyamanannya, rindu tepukan tangan Ibu di punggung adek untuk sekedar menyemangati saat adek sedang down.

Bu, belakangan minggu ini padatnya aktivitas menyerbu adek hingga adek jarang memperhatikan Bapak. Disitulah adek merasa sangat membutuhkan kehadiran Ibu ditengah-tengah kami. Ingin rasanya ada yang menyambut adek selepas pulang dari kuliah atau kerja dengan senyum paling sumringah dan hangat sambil berkata "Gimana nduk kuliahnya?" sseperti anak-anak yang lain. Atau menyediakan masakan buatan tangan Ibu sambil berujar "Dek, Ibu masak sayur sop kesukaan adek. Makan dulu gih sebelum lanjut kerja." Ataupun sekedar mendengarkan keluh kesah adek setelah seharian dikejar rutinitas yang menumpuk sambil tidur di pangkuan Ibu. 

Bu, maaf. Belakangan hari ini adek sering marah-marah ke Bapak hanya karena masalah yang sepele. Adek pun merasa sangat bersalah setelahnya selepas melihat wajah Bapak yang juga menyimpan rindu yang sama besarnya kepada Ibu seperti yang adek rasakan. Lalu adek hanya bisa menangis sesenggukan dalam diam sambil menutupnya dengan bantal agar Bapak tak mendengarnya. Sepertinya kami berdua, adek dan juga Bapak, sama-sama setuju untuk menyimpan kerinduan dalam hati kami masing-masing saja.

Bu, maaf sudah membuat Ibu khawatir karena adek yang merengek rindu dengan Ibu. Semua semata karena setumpuk rindu yang sudah tidak bisa adek bendung lagi.

Dari
Adek

No comments:

Post a Comment