Showing posts with label Sakit. Show all posts
Showing posts with label Sakit. Show all posts

Saturday, April 23, 2016

Hanya Sebatas Angan

Sumber gambar: biylafadz.file

Saya telah berkali-kali..
Mengaku pada tetesan embun pagi yang jatuh pertama kali dari dedaunan di kebun rumah.
Telah jatuh pada hati sederhana yang bermukim di sebuah nama.
Nama yang selalu membuat hati saya berdebar hebat tiap ada teman yang menyebutnya.
Nama yang selalu membuat simpul senyum di bibir saya berkembang walau sekedar membayangkannya.
Nama yang membuat saya bahagia setengah mati.

Monday, April 28, 2014

Sebuah Percakapan di Hujan Bulan April

Sumber gambar: tumblr

Kamu ini.. Dipertahankan kok malah main sama yang lain seenaknya gitu. Dasar!

Hey, apa maksudmu? Jelaskan apa maksud dari pernyataanmu itu.

Iya. Aku sudah mati-matian menjaga hati hanya untuk satu nama. Aku sudah setengah sekarat menabung rindu agar bisa membayar lunas untuk bisa bertemu denganmu. Aku tengah setengah hidup membangun singgasana cinta tempat kita bersanding nantinya. Tapi apa balasanmu? Kamu malah bermain api di belakangku dengan hati yang lain. Maksudmu apa? 

Aku? Bermain api? Haha. Jangan salah paham. Sejak berkenalan dekat denganmu, aku berjanji pada diri sendiri, dan pada semesta, untuk memegang kata percaya. Percaya pada kesabaran dalam menghadapi sikapmu. Percaya pada setiap ucap yang keluar dari bibirmu. Dan percaya pada kesetiaan yang kau ajarkan. Tapi, percayaku lama kelamaan memudar, terlebih karna ulahmu. Lalu tergantikan dengan rasa curiga dan seribu tanda tanya. Benarkah yang selama ini kau ucap? Jujurkah yang selama ini kau ajarkan? Lalu.. Dari ulahmu sendiri, aku tahu.. Bahwa hatimu tak benar-benar kau jatuhkan padaku. Aku hanya kau jadikan batu lompatan untuk sekedar mengilangkan kesendirian. Bukan begitu?

Kenapa malah menyalahkan aku? Jangan membelokkan pembicaraan.

Bukan.. Ini bukan membelokkan pembicaraan. Aku hanya menyimpulkan segala analisa dari pengamatan seorang aku. Ya, karna kamu tak pernah mau mengungkapkan perasaanmu yang sebenarnya padaku, bukan? :)

Kamu ini ngelantur. Aku 'kan sudah jujur padamu atas segala rasaku. Apa kamu masih tidak percaya?

Bukan.. Ini bukan masalah percaya atau tidak. Aku.. Aku jelas percaya pada semua ucapmu. Tapi, maaf.. Hatiku cukup dibilang perasa terhadap sesuatu. Sekalipun kata yang keluar dari mulutmu adalah A, tapi dalam hatimu; aku tahu, adalah B.

Jangan berbelit-belit. Langsung intinya saja.

Jadi begini.. Awalnya aku sangat percaya, seribu persen aku percaya. Namun lama-lama aku merasa, sikapmu menimbulkan curiga. Sepertinya.. Segala hal yang kamu lakukan berfokus pada dia yang kau simpan rapat dihatimu. Sepertinya kerinduanmu terpusat pada dia yang kau kunci dalam ingatanmu. Aku.. Yang dengan susah payah mencari celah untuk sampai menuju hatimu, merasa timpang mengetahui bahwa tak ada lagi tempat untukku dihatimu. Aku kacau. Meracau tak menentu. Menggeliat kecewa pada asa dan semesta. Kenapa Tuhan menciptakan "kita" jika pada akhirnya dia yang kau simpan rapat dalam hatimu tak bisa kau singkirkan barang sebentar saja. Bukankah semua orang itu sama, akan kecewa jika yang seharusnya jadi singgasana indah hanya untuk mereka berdua, tapi malah diisi dengan seseorang yang bahkan tak diharapkan kehadirannya? 

..........

Aku telak, kan? Jadi benar; yang kamu pertahankan atas nama setia itu bukan namaku, kan? Yang kau bangunkan singgasana mewah dalam istanamu itu bukan aku, kan? Haha. Selamat, kamu sudah menutupi dengan mulus sampai-sampai aku baru menyadarinya setelah sedikit lama. Jadi hentikan usahamu dalam membangun singgasana yang kau buat sedemikian indah namun hanya kau poles dengan kebahagiaan semu itu. Hentikan, cukup. Aku tak mau lagi hidup bersama orang yang masih diikuti bayang-bayang hitam yang selalu dibawa kemanapun ia berada. Silakan pergi, jika hatimu tak pernah disini. Tak mengapa.." Selamat tinggal. :)"

Saturday, April 26, 2014

Jangan Terlalu Khawatir

Sumber gambar: Google

Semoga hidupmu bahagia, Kesayanganku. Aku berdoa agar hidupmu selalu dipenuhi sukacita. Aku berharap kamu tak menyesal dengan pilihanmu. Ya, kamu memilih untuk pergi. Kamu pergi dari hidupku, dari sisiku.

Sejak saat itu, aku berusaha untuk baik-baik saja. Bukankah hidup harus terus berlanjut sekalipun seseorang pergi dan meninggalkan luka yang mendalam di hati? Ya, kini aku baik-baik saja. Aku mulai untuk melanjutkan hidup meski agak sedikit berat. Namun itu harus tetap kulakukan, bukan? Tolong katakan "ya" dan anggukkan kepalamu, Kesayanganku, agar hatiku damai kembali. Tidak begitu buruk saat aku mulai menjalani hariku. Tidak, aku tidak sesedih itu. Aku tak sesakit itu.

Aku tak lagi heran mengapa aku bisa bertahan sampai sejauh ini. Sudah kuhadapi hal-hal paling buruk sekalipun. Dan kini aku merasa benar-benar hidup. Selamat! Kini aku bebas kembali.

Namun hanya ada satu masalah yang kini kuhadapi. Aku hanya merasa sakit saat aku bernafas. Hatiku hanya terluka saat ia berdetak. Mimpi-mimpiku hanya mati saat aku bermimpi. Maka kutahan nafasku untuk melupakanmu. Jangan kamu kira aku akan berbaring sambil menangis terisak di malam hari. Disaat dingin malam menyentuh kulitku. Aku bilang jangan kuatirkan aku. Aku bilang aku baik-baik saja. Aku tak pernah mengenangmu lagi, itulah kenyataannya.


(terinspirasi dari lagu Shania Twain - It Only Hurt When I'm Breating)

Friday, April 04, 2014

Maaf, Aku Berpura-pura

Sumber gambar: tumblr
Maaf aku berpura-pura. Menampakkan senyum bahagia di muka namun sebenarnya batinku terluka. Aku berusaha mengatakan "aku tidak apa-apa" melewati tatapan dan senyum meyakinkan yang kupoles di wajahku, untuk sekedar meyakinkan jangan terlalu khawatir terhadapku, namun sebenarnya batinku perih meraung-raung. Karna terkadang ada tangis dalam senyum-senyum manis.

Wednesday, April 02, 2014

Ya Aku Menyerah. Ya Kita Berpisah.


Sumber gambar: Google

Aku, orang terbodoh sedunia. Mempercayakan hatiku yang luka pada seseorang yang kuharap bisa mengobatinya, namun tak tahu baikkah orang yang kupercayai itu. Aku sepenuhnya yakin ia bisa menyembuhkan luka ini. Yakin. Sepenuhnya.

Wednesday, March 12, 2014

Bila Kata Kita Tak (lagi) Ada

Sumber gambar: Google
Bila kata kita tak (lagi) ada, maka beritahu aku telinga mana yang mam(p)u mendengarkan celoteh panjangku sebaik telingamu?

Bila kata kita tak (lagi) ada, maka beritahu aku pundak mana yang bisa kujadikan tempat bagiku untuk bersandar senyaman pundakmu?

Bila kata kita tak (lagi) ada, maka beritahu aku senyum milik siapa yang mam(p)u mengembalikan mood-ku dari marah menjadi rekah selain milikmu?

Bila kata kita tak (lagi) ada, maka beritahu aku dahi siapa kini yang kau kecup dengan mesra tiap bangun dan menjelang tidurmu?

Bila kata kita tak (lagi) ada, maka beritahu aku jari siapa kini yang kau genggam dengan hangat?

Bila kata kita tak (lagi) ada, maka beritahu aku jiwa milik siapa kini yang kau ajak terbang dan berputar-putar di awan mimpi?

Bila kata kita tak (lagi) ada, maka beritahu aku bahwa hidupku tak pernah baik-baik saja. Hingga aku akan selalu berpulang menujumu, rumahku.

Bila kata kita tak (lagi) ada, maka beritahu aku abu-abu selalu menyelimutimu. Hingga aku akan selalu menjadi matahari bagimu, pengusir abu-abu itu.

Bila kata kita tak (lagi) ada, aku (akan) menyadari bahwa segalanya tak akan bisa baik-baik saja seperti semula.

Bila kata kita tak (lagi) ada, maka aku akan berdoa kepada Sang Maha untuk (kembali) meng-ada-kan kita.

Sunday, February 23, 2014

Kepada Pemilik Hati yang Luka

Sumber gambar: Google
Semalam aku mendapat pesan singkat darimu. Kamu bilang kamu ditinggal pergi begitu saja oleh orang terkasihmu. Aku.. sedikit ingin tersenyum mendengarnya. Namun air matamu memaksaku untuk menahan tawaku, lalu ikut bersedih mendengar kisahmu.

Aku tahu, hatimu sedang kacau. Aku tahu, saat ini hatimu sedang rapuh. Aku pun tahu, hatimu kini tak lagi sama seperti semula. Aku juga tahu, hatimu kini berserakan menjadi serpihan. Sakit? Yayaya, dimana-mana terluka itu sakit. Dokter ahli pun akan setuju kali ini dengan pernyataanku.

Tak apa, Sayang. Sakit hati itu wajar. Dalam mengarungi lautan kehidupan, kamu tak akan berlayar dengan mulus bersama perahumu. Dalam perjalananmu, pastilah akan ada angin sepoi-sepoi yang mengelus-elus rambutmu dengan halus. Suasana damai yang mengundang kantuk untuk datang menghampiri pelayaranmu.

Namun jangan terlena, Sayang. Bisa saja angin sepoi-sepoi itu dengan usil memanggil teman-teman satu gang-nya dan memporak porandakan perahumu. Maka yang ada bukanlah tidur yang menenangkan, melainkan perahumu yang hancur dan kepalamu yang pening. Lalu kamu akan merutuk menyalahkan angin. Sayang, ini bukanlah salah angin tapi salahmu. Karna kamu telah terlena dengan angin sepoi itu.

Sudahlah usah kau menangisi dia. Sudah menjadi hukum alam bahwa pertemuan selalu diakhiri dengan perpisahan. Lantas kita bisa apa? Jika sudah saatnya alam mendatangkan perpisahan pada kebersamaanmu, maka berikanlah senyuman terbaikmu.

Katakan "Terimakasih!" dengan senyuman lebar dan pelukan hangat tanda perpisahan dengan orang yang pernah menjadi bagian dari hidupmu itu. Katakan "Semoga adanya kita dahulu dan apa yang telah kita lalui menjadi pelajaran bagi kita masing-masing untuk menjadi yang lebih baik." dengan senyuman terbaikmu.

Lalu tugasmu setelah itu adalah instropeksi diri. Jangan terburu-buru mencari pengganti, nikmati saja jeda yang diberikan waktu sebagai bonus untukmu dalam memperbaiki diri. Jika memang dirasa kamu sudah benar-benar baik, maka waktu pasti akan memberikan kesempatan padamu untuk memilah dan memilih pengisi hatimu.

Sekarang, nikmatilah jedamu dulu, Sayang. Semoga kau menjadi pribadi baru yang lebih dan lebih baik lagi.

Friday, December 27, 2013

Orang Itu.......


Pernah sakit?
Pernah kecewa?
Pernah dikecewain?
Pernah dikhianatin?
Pernah merasakan hati hancur?
Pernah merasakan uring-uringan sendiri?
Pernah?!
Yakin, pasti semua pernah merasakan hal seperti diatas. Tak terkecuali aku, kamu, dia, kita, dan mereka. Seperti halnya aku. Aku pernah hampir mati. Fisik masih utuh, namun jiwaku seperti tiada. Hatiku hancur. Sehancur-hancurnya. Dikhianati oleh orang yang aku kasihi sepanjang waktu. Bahkan mungkin walaupun orang itu menyakitiku berulang kali, aku masih mengasihinya. Entah apa yang membuat diriku sehina ini untuk terus memujanya. Merindunya. Bahkan masih mengharapkannya. Padahal aku tahu, dan sepenuhnya sadar, orang itu tak mungkin kembali kesini, disisiku. Karena aku sadar sesadar-sadarnya orang itu sudah bahagia dengan pilihannya.
Sebentar. Aku tak sepenuhnya mengharapkan orang itu kembali. Aku hanya…… Hanya ingin tahu saja apa alasannya menghancurkan hatiku. Aku hanya ingin tahu saja alasan dia mengajakku terbang. Menggenggam erat tanganku. Membawaku terbang tinggi. Tinggi. Sampai menembus awan tebal, melewati lapisan langit pertama, kedua, ketiga, dan seterusnya. Tinggi. Sampai-sampai aku tak bisa melihat daratan di bumi. Tinggi. Tinggi sekali. Sampai-sampai badanku terasa ringan, melayang-layang seperti seorang astronaut yang sedang berada di bulan. Kemudian aku baru sadar orang itu membawaku terlalu tinggi. Terlalu jauh dari daratan. Tapi aku sedang melayang-layang, bersamanya. Disisinya. Dalam genggaman yang mendamaikanku. Selalu.
Namun, orang itu melakukan hal yang tak pernah kupahami. Orang itu, aku rasa, mengendorkan genggaman. Aku rasa, genggamannya mulai renggang. Namun orang itu tetap terbang. Sedangkan aku, sedikit oleng. Orang itu tetap terbang, tetap menengadah ke atas. Sedang aku, dirundung ketakutan karna aku tak bisa menyeimbangkan penerbanganku. Aku takut karna aku sudah terbang terlalu tinggi. Aku takut karna daratan terlalu jauh. Aku takut jatuh. Tapi orang itu tetap santai. Dan aku merasa, ada yang mengganjal. Sepertinya orang itu, dengan sengaja, mendorongku sangat kuat. Mengempaskan ragaku yang ringan bak melempar segenggam kertas lusuh ke jalanan.
Dan dengan tanpa paksaan, tanpa perlawanan, aku meluncur ke bumi. Gedebum! Keras sekali. Tanpa ada matras. Sakit. Ragaku berasa remuk. Tulangku serasa patah. Namun ada yang lebih sakit. Aku raba seluruh bagian tubuhku. Lebam. Tapi ada yang terasa lebih sakit. Setelah kutelusuri lebih dalam, ternyata ada yang pecah. Berkeping-keping. Hati. Remuk. Hancur. Tak berbentuk. Tak berdarah juga. Tapi terasa sakit. Aku coba bangkit, dengan berderai air mata. Namun tulang-tulangku tak kuat menyangga berat badanku sendiri. Aku tergeletak tak berdaya. Melihat sekeliling, mencari bantuan. Kemudian menengadah ke langit. Mencari sosok orang itu. Aku terperanjat. Kaget. Orang itu, aku kurang jelas. Penglihatanku kabur saat itu dikarenakan air mata yang terus turun. Namun dapat kupastikan, tangan kanannya sedang melambai-lambai ke arahku. Menertawakan keadaanku. Tawanya yang membuatku ingin segera menamparnya, namun aku tak berdaya.
Aku dibuat mati penasaran oleh orang itu. Apa motifnya melakukan hal seperti itu kepadaku. Jika menginginkanku pergi, minta saja. Katakan saja, punya mulut kan? Aku pasti juga akan pergi karena aku cukup tahu diri dan masih punya harga diri. Aku juga tidak sudi bersujud meminta orang itu untuk kembali. Tidak. Aku hanya perlu tahu alasannya. Bukan apa-apa. Tak ada yang lain. Tak ada keinginan kembali. Karena aku tahu, orang itu bukanlah orang yang baik untukku. Aku tahu, karena Tuhan membisikkan kepadaku bahwa orang itu bukanlah orang yang baik untuk menemaniku. Setidaknya, just give me a reason just a little bit enough lah!
Sumber gambar: favim

Pergi

Sumber gambar: tumblr

Pergi. Satu kata tapi bermakna. Pergi. Satu kata yang dahsyat pengaruhnya. Pergi. Satu kata yang bisa melukai hati banyak orang. Dan pergi. Adalah hal dimana hati harus mengikhlaskannya, entah itu dengan cara sadar atau terpaksa. Pergi. Menurutku, pergi adalah saat dimana aku meninggalkan semua hal yang berhubungan denganmu. Pergi. Adalah saat dimana aku tak bisa lagi menemani keseharianmu. Pergi. Adalah saat dimana aku dan kamu tak lagi menatap hari yang indah bersama-sama. Pergi. Adalah hal terberat dimana aku akan selalu merindukan sosok hadirmu namun kau tak bisa memenuhi kehadiranmu. Pergi. Adalah saat dimana aku tak lagi menjadi bagian dari hidupmu. Dan pergi. Adalah saat dimana hati masih ingin bersamamu namun keadaan memaksaku untuk mengkhianatinya.
 
Pergi. Entahlah, aku tak yakin bisa pergi jauh darimu. Kenapa? Karena setiap melihatmu, aku merasakan kehangatan dan kenyamanan. Merasakan bahwa kaulah rumah tempatku kembali setelah melakukan pergi. Entahlah. Entah ego atau logikaku yang memaksaku untuk pergi darimu. Namun hatiku selalu menahan keepergian ini. Hatiku terlalu bersimpati padamu sehingga aku gamang untuk pergi darimu. Tidak. Mungkin aku tidak akan pernah bisa pergi jauh darimu karena kaulah rumah tempatku kembali. Jangan. Jangan membenciku. Aku hanya menuruti ego untuk berniat pergi, tanpa ada dukungan dari hati. Jangan. Tetaplah disini, aku berjanji untuk meredam egoku dan menuruti apa maunya hatiku.
 
Jika suatu saat nanti aku memilih pergi, tolong jangan biarkan. Tolong, kumohon. Lakukanlah segala cara agar membuatku tetap disisimu. Lakukanlah segala hal agar aku mengurungkan niat untuk pergi. Tolong. Lakukan apapun agar aku, walaupun aku pergi, tetap akan kembali kepada rumahku, yaitu kamu. Tolong. Aku mohon. Dan mungkin aku dalam keadaan bersujud saat memintamu seperti ini.
 
Pergi. Adalah saat dimana aku dan kamu tak lagi menatap langit di balkon yang sama. Pergi. Adalah hal yang paling aku benci, karena pergi selalu beriringan dan bergandengan dengan yang bernama “kehilangan”. Aku tau, pergi dan kehilangan memang sepakat bersatu untuk menghancurkan hidup seseorang. Namun entah mengapa kali ini egoku ingin berteman dengan mereka. Sabarlah sedikit, jangan marah. Karena mereka tidak akan bisa berteman dengan baik karena hatiku telah kadung jatuh cinta padamu. Hatiku akan selalu membelamu. Selalu. Jangan biarkan aku pergi, ya? Kumohon. Karena aku tahu, pergi dan kehilangan adalah komposisi yang tepat untuk memporak-porandakan hati setiap orang. Aku tak mau pergi darimu. Aku tak akan mau.

Saturday, December 21, 2013

Kepada yang Bernama "Kehilangan"


Kalian pernah merasakan kehilangan? Entah itu kehilangan barang yang kalian sukai, entah itu ide yang sudah kau awang-awangkan, atau bahkan kalian merasakan kehilangan seseorang yang amat sangat kalian sayangi. Aku pernah. Bagaimana rasanya? Kesal kah? Marah? Kecewa atau bahkan kalian lumpuh? Entahlah, aku sendiri tidak bisa mendefinisikan bagaimana perasaan yang sedang aku alami saat aku menghadapi kehilangan. Bagiku, bagian organ tubuhku yang bernama “hati” terasa pedih, sakit, hancur berkeping-keping, namun anehnya tak berdarah ataupun bernanah. Aneh. Tapi sakitnya tak terperikan. Aneh. Tapi hancurnya lebih dari berkeping-keping. Aneh. Tapi terasa pedih, sangat pedih, oh tidak… amat sangat memedihkan.
Di dunia ini, aku pernah berkali-kali menghadapi kehilangan. Dan setiap kali “kehilangan” itu datang, aku tak kuasa untuk menatapnya. Bagiku, “kehilangan” adalah satu kata dalam kamus Bahasa Indonesia yang harus dimusnahkan. Agar tak ada lagi ribuan air mata yang jatuh karenanya. Agar tak ada lagi hati yang dihancurkan karena kehadirannya. Agar tiada lagi kecewa yang menyelinap ke dada karena perbuatannya. Kamu pernah kehilangan apa? Barang yang kalian suka? Pacar? Hahaa biasa. Aku? Aku berkali-kali kehilangan orang yang aku cintai. Aku berkali-kali menjatuhkan air mata untuk mereka. Aku berkali-kali mencoba bangkit setelah dikecewakan dengan “kehilangan” akan sosok mereka. Aku berkali-kali merekatkan serpihan hati yang telah hancur berkeping-keping karena “kehilangan” mereka.
Ibu. Dia adalah orang pertama yang memaksaku menghadapi “kehilangan”. Memaksaku menerima keadaan setelah adanya “kehilangan” yang rasanya tak lagi sama seperti sebelumnya. Di usia yang masih sangat muda aku terpaksa menghadapi segala macam bentuk serangan yang bernama “kehilangan”. Kedua adalah seseorang yang bernama kakek dan nenek. Mereka, adalah pengganti seseorang yang kupanggil “ibu”. Menggantikan sosoknya untuk merawatku, tapi “kehilangan” kembali mengambil mereka dari sisiku. Aku kehilangan lagi. Aku menangis lagi. Aku hancur lagi.
Selanjutnya, seseorang. Yang begitu aku sayangi, dan aku yakin ia juga menyayangiku. Siapa? Pacar? Bukaan! Ia lebih dari pacar. Ia adalah pengganti sosok “IBU” dalam perjalanan hidupku. Aku sebut ia “Kakak Perempuan”ku. Dengannya kutemukan sumber kesejukan. Dengannya kutemukan kasih sayang yang sempat terputus dari sosok “IBU”. Dengannya, kami bersama-sama menghadapi “kehilangan” yang kerap menghampiri hidupku. Selama seperempat abad aku bersama-sama dengannya. Selama seperempat abad aku merengek-rengek di pangkuannya. Ya, aku sudah menganggapnya bak Ibuku sendiri. Tapi, kali ini, sekarang, sesuatu yang bernama “kehilangan” kembali datang. Merebutnya dariku. Entah suaminya yang menghidangkan “kehilangan” tepat didepanku atau memang “kehilangan” ini memang dasarnya usil. Entahlah, aku tak tahu! Bukan. Bukan kehilangan yang berupa kematian. Hanya saja hidupnya kini diabdikan kepada suaminya. Bukan untuk mendampingi perjalanan hidupku, tapi untuk menemani suaminya merenda kebahagiaan dan kehidupan keluarga kecil mereka. Tapi tetap saja kan itu namanya kehilangan? Iya. Sudahlah kalian jangan bawel. Dengarkan saja ceritaku. Ya, aku mengalami “kehilangan” lagi kan? Sepertinya “kehilangan” sangat gemar menghampiri kehidupanku. Entah apa yang ia sukai dengan hidupku sehingga merebut setiap orang yang aku sayangi.
Tapi……… Aku masih punya seseorang lagi yang amat sangat aku sayang. Dia, yang selanjutnya aku panggil dengan sebutan “Ayah”. Ia, satu-satunya yang kumiliki saat ini. Satu-satunya penuntun hidupku, satu-satunya harta berharga yang kumiliki. Semoga Tuhan kali ini agak menghadang seseorang yang bernama “kehilangan” untuk sedikit lebih lama mampir kedalam kehidupanku.
Tapi……… sebentar. Sepertinya aku juga menemukan seseorang lagi yang berharga dalam hidup selain “Ayah”. Entah aku menemukannya tanpa sengaja ataukah Tuhan sudah mengaturnya. Siapa dia? Dia temanku. Teman lelakiku. Apa? Yakin hanya teman? Ng……… Terserahlah apa kata kalian. Bahunya sangat kokoh, bahu terkokoh kedua setelah “Ayah”. Bahu tempat dimana aku menyandarkan segala masalahku. Telinganya sangat lebar, telinga terlebar setelah “Ayah”. Telinga tempat dimana aku mencurahkan segala keluhanku. Hatinya sangat luas, hati terluas kedua setelah “Ayah”. Hati tempat dimana aku bertingkah salah tapi selalu saja ada maaf darinya. Mulutnya sangat bawel, mulut terbawel kedua setelah “Ayah”. Mulut tempat dimana aku diingatkan untuk tetap hidup mandiri, menerima segala cobaan.
Semoga Tuhan kali ini mendengar doaku. Semoga kali ini “kehilangan” sedikit mengerti apa maunya hatiku. Sedikit menunda kehadirannya ke dalam hidupku. Semoga dua orang itu tak harus menghadirkan “kehilangan” kedalam hidupku. Semoga Tuhan mendengar untaian “semoga”ku. Ya, semoga. Amin

Friday, December 20, 2013

Memorable (Part 2)

Kehadiranmu ditengah-tengah hubungan yang sedang aku jalin dengan teman baikmu saat itu membuatku sedikit mengacuhkannya. Sikapmu yang lebih memperhatikanku dan memanjakanku dari pada dia, memaksaku untuk mengabaikan kehadirannya. Sebentar, bukan memaksa. Buktinya, aku senang-senang saja mengabaikan sahabatmu itu. Mungkin lebih tepatnya, sikapmu menarikku untuk mengabaikan kehadirannya. Ya, aku sudah mulai berani bermain api denganmu. Di usia yang begitu muda aku sudah berani bermain-main dengan hati seseorang. Dan di usia yang masih belia itu aku sudah berani mengkhianati seseorang. Jahat ya! Tapi siapa yang patut disalahkan atas kejadian itu? Apakah harus menyalahkan cinta? Aku rasa tidak. Karna cinta bebas menghinggapi setiap orang yang masih punya hati. Aku dan kamu tentu masih punya hati kan?
Ataukah menyalahkan aku. Kenapa? Apa yang salah denganku? Aku sudah bersikap sesetia dan sebaik mungkin dengan sahabatmu itu. Akupun tidak mau aneh-aneh dalam sebuah hubungan. Tak pernah menuntut dan mendikte pasangan harus begini atau harus begitu, kok. Atau mungkin menyalahkan kamu. Ya, kamu yang datang disaat yang tidak tepat sama sekali. Ya, kamu yang datang membawa sejuta perhatian yang siap kau tumpahkan kepadaku. Oooh tidak. Aku tak terima orang-orang menyalahkanmu! Atau, semua akar permasalahan itu bersumber dari pacarku? Sahabatmu? Ya, dia yang tak pernah memberikan perhatian layaknya kamu. Ya, dia dan sikap cueknya yang tak pernah menunjukkan bahwa aku ini istimewa. Sedangkan kamu yang memperlakukanku bak orang yang begitu penting dalam hidupmu, tentu saja aku luluh dan jatuh kepadamu dan berpaling darinya! Ya, salahkan saja sahabatmu. Karnanya aku mencari kebahagiaan dari orang lain, bukan darinya. Dan semua itu kudapat darimu. Aaah aku tak tahu. Kadang pertanyaan itu tak perlu jawaban, bukan?
Hingga pada suatu hari, aku membulatkan tekadku untuk mengakhiri hubunganku dengan pacarku, yang sekaligus teman baikmu. Aku berpikir, lebih baik aku akhiri sekarang saja karna sekarang dan nanti akan sama saja. Sama-sama mengecewakan hatinya. Aku pikir, setelah aku akhiri hubunganku dengannya maka aku akan bisa bersama-sama denganmu lebih leluasa tanpa dianggap orang lain selingkuh. Mungkin jika kalian berada di posisiku, kalian akan melakukan hal yang sama, bukan? Ya, dan aku memutuskannya hari itu juga. Tak susah untuk mengungkapkan kata “putus” padanya. Meskipun sedikit kutangkap ekspresi kaget dari wajahnya, namun aku berusaha meyakinkannya bahwa aku sedang ingin sendiri. Ya, aku berbohong. Di usia semuda itu, pada seseorang.
Aku senang akhirnya bisa leluasa bersamamu tanpa sembunyi-sembunyi lagi. Tapi, hey ini bukan akhir. Aku merasa terbang terlalu tinggi saat bersamamu. Kau terlalu melambungkan mimpiku tanpa pernah sedikitpun menyiapkan matras untukku jika suatu saat aku terjatuh. Bukan aku yang sengaja jatuh, tapi kamu dengan sikap jailmu dan kesengajaanmu yang mematahkan segala harapanku hingga akhirnya aku terjatuh keras ke bumi. Keras, tanpa matras atau apapun itu. Keras, dan sakit. Itu yang kurasakan. Aku terjatuh, sendirian. Tanpamu. Karenamu. Sebabmu. Saat aku mencoba bangkit, aku tak kuasa menahan bebanku. Setelah aku telusuri setiap bagian diriku, kudapati ada satu bagian yang hancur. Hati. Ya, hatiku telah hancur. Remuk, lebih dari berkeping-keping tersebab olehmu. Lantas aku tak bisa berbuat apa-apa karena aku sudah tidak punya daya. Hatiku sakit, bagaikan ribuan mata pedang yang dengan sengaja dan seenaknya kau tancapkan begitu saja ke ulu hatiku. Sakit. Duniaku kelabu, mendung. Abu-abu.
Sumber gambar: Google
Aku ingin marah. Kenapa tak aku siapkan sendiri saja matras agar saat aku terjatuh olehmu, aku masih bisa melompat kembali dan mensejajari langkahmu. Tapi apa dayaku? Hei! Kenapa kamu setega itu menjatuhkan aku? Aku kira kamu adalah orang yang benar-benar tulus mencintaiku. Aku kira kamu adalah orang baik yang tak mungkin tega dengan sengaja mematahkan anganku. Aku kira kamu akan menyiapkan matras untukku saat aku terjatuh. Cuih! Omong kosong. Kamu bahkan dengan tanpa merasa bersalah melambaikan tangan ke arahku. Seakan mengucapkan “Selama tinggal, ya! Hati-hati jangan mudah dibodohi.” kearahku.aku tersenyum kecut. Sakit. Seperti luka yang disiram dengan air garam. Benar-benar sakit. Seharusnya aku sadar dari awal bahwa sikapku dan sikapmu itu salah. Seharusnya aku sadar aku dan kamu tidak boleh melukai hati orang lain jika ingin bersama. Seharusnya aku sadar dari awal.
Sumber gambar: Google
Ya, mungkin Tuhan ingin memberiku satu dari ribuan pelajaran berharganya. Mungkin Dia ingin menyampaikan bahwa "sesuatu yang berawal dari hal yang tidak baik tidak akan menjadi akhir yang baik". Satu pesanku, kalian yang membaca ini jangan suka bermain api, ya? Jika api itu membesar maka dia akan melahap kalian tanpa ampun. Seperti kamu dalam cerita ini, API.