Wednesday, March 12, 2014

Bila Kata Kita Tak (lagi) Ada

Sumber gambar: Google
Bila kata kita tak (lagi) ada, maka beritahu aku telinga mana yang mam(p)u mendengarkan celoteh panjangku sebaik telingamu?

Bila kata kita tak (lagi) ada, maka beritahu aku pundak mana yang bisa kujadikan tempat bagiku untuk bersandar senyaman pundakmu?

Bila kata kita tak (lagi) ada, maka beritahu aku senyum milik siapa yang mam(p)u mengembalikan mood-ku dari marah menjadi rekah selain milikmu?

Bila kata kita tak (lagi) ada, maka beritahu aku dahi siapa kini yang kau kecup dengan mesra tiap bangun dan menjelang tidurmu?

Bila kata kita tak (lagi) ada, maka beritahu aku jari siapa kini yang kau genggam dengan hangat?

Bila kata kita tak (lagi) ada, maka beritahu aku jiwa milik siapa kini yang kau ajak terbang dan berputar-putar di awan mimpi?

Bila kata kita tak (lagi) ada, maka beritahu aku bahwa hidupku tak pernah baik-baik saja. Hingga aku akan selalu berpulang menujumu, rumahku.

Bila kata kita tak (lagi) ada, maka beritahu aku abu-abu selalu menyelimutimu. Hingga aku akan selalu menjadi matahari bagimu, pengusir abu-abu itu.

Bila kata kita tak (lagi) ada, aku (akan) menyadari bahwa segalanya tak akan bisa baik-baik saja seperti semula.

Bila kata kita tak (lagi) ada, maka aku akan berdoa kepada Sang Maha untuk (kembali) meng-ada-kan kita.

No comments:

Post a Comment