![]() |
| Sumber gambar: Google |
Aku tahu, kamu tak akan pernah membaca sedikitpun suratku ini karna kesibukanmu yang tak pernah bisa diganggu.
Aku tahu, perhatianmu tak akan pernah sedikitpun tertuju pada gugusan aksara tak bermaknaku ini.
Aku tahu, kamu tak akan ada waktu untuk sekedar membuka lipatan kertas surat untukmu dariku karna jadwalmu yang parah.
Aku tahu, sekalipun kamu membuka lipatan suratku ini kantuk akan segera datang mengunjungimu dan akhirnya suratku hanya akan menjadi sampah dalam ranjangmu.
Aku tahu, kamu sudah sangat lelah jika harus membaca suratku yang membosankan.
Aku tahu, kamu pasti bosan menerima surat-surat dari pengirim yang sama, aku.
Namun aku juga tak akan lelah untuk terus menulis surat kepadamu, entah kenapa.
Namun aku juga tak pernah bosan membanjiri kotak suratmu dengan surat-suratku.
Entahlah aku hanya suka menulis segala tentangmu.
Entahlah, kamu, adalah objek hidup bagiku dalam hal menarikan jemari, menyusun aksara dan memainkan logika.
Entahlah, aku hanya bersemangat dalam hal menuangkan hal-hal yang aku alami ke dalam gugusan abjad sambil membayangkan senyummu.
Entahlah.
Aku hanya ingin mengingatkan pada diri sendiri saja bahwa aku dan kamu pernah ada. Bersama. Berbahagia. Karna aku yang pelupa. Dan ingatanku yang dangkal hanya dalam mengingat peristiwa.
Tak apa, jika suratku tak pernah kau jamah. Tak apa, jika tulisanku tak pernah kau anggap. Tak apa, jika kotak suratmu selalu kau abai.
Maka semua itu tak akan menghentikan jemariku menarikan namamu. Maka semua itu tak akan menyurutkan langkahku untuk semakin bersemangat merebut perhatianmu.
-Tertanda: pendamba bahagia dengan hati penuh luka-

No comments:
Post a Comment