Showing posts with label Harapan. Show all posts
Showing posts with label Harapan. Show all posts

Tuesday, July 12, 2016

Duapuluhsatu. | Surat untuk diri sendiri chapter:2

Sumber gambar: Yulianahakim's Gallery

Tepat hari ini, di 21 tahun yang lalu telah lahir seorang bayi perempuan dari rahim seorang wanita. Panggil saja namanya Aku. Jari-jarinya mungil, pipinya cukup tembem.
Aku, 21 tahun yang lalu hanya bisa menangis. Mencari kehangatan dari dekapan seseorang yang bernama Ibu.
21 tahun yang lalu, si Aku yang di gusinya masih belum ditumbuhi gigi susu akan tertawa lebar ketika seseorang yang bernama Ibu menepuk-nepuk punggung dan pahanya sambil menyanyikan lagu lucu.
21 tahun yang lalu, Aku akan menangis keras bila disuapi pisang yang diserut dengan sendok ataupun dicekoki minum obat yang sudah digerus lembut lalu dicampur sedikit air.

Kini.. Setelah Aku tumbuh menjadi seorang gadis, ia masih sama seperti bayi di 21 tahun yang lalu.
Ia masih sering merengek, mencari kehangatan dekapan seseorang yang bernama Ibu pada malam-malam dingin yang dilaluinya.
Ia masih sering tertawa lebar, manakala lagu yang dulu dinyanyikan seseorang yang bernama Ibu terngiang di telinga dan memenuhi isi kepalanya.

Namun, ada yang sedikit berbeda. Si Aku kini sudah mampu berjalan sendiri. Ia kini mampu merebus mie instan lalu dicampur dengan potongan cabai dan sawi. Ia pun mampu mengeja kata demi kata yang diucapkan dari lawan bicaranya.
....
Untuk Aku, yang kini telah tumbuh menjadi gadis 21 tahun, saya salut padamu yang dapat tumbuh dengan sehat dan bahagia. Semoga kebahagiaan dan kesehatan selalu berada dalam dekapanmu.

Untuk Aku, bayi yang dulunya sering merengek minta ditimang saat akan tidur, kuatkan hati dan tenagamu. Karena untuk hari-hari kedepan, tantangan dan ujian hidup akan dimulai. Jangan sering mengeluh dan mudah menyerah sebelum kamu benar-benar telah mengerahkan seluruh usaha dan kemampuan yang kamu miliki, ya.

Untuk Aku, si bayi gendut yang mudah bahagia. Tetaplah menjadi pribadi yang mudah dibahagiakan. Jangan jadi manusia pemilih yang pada akhirnya akan merugikan diri sendiri. Jangan mudah menangis akan hal-hal yang sepele. Dan jangan mudah marah oleh ucapan dan bisikan miring yang sering mengendorkan senyum dan keramahanmu.

Untuk Aku, manusia memang tempat salah dan khilaf. Maka jangan kamu merendah diri akan apa yang ada pada dirimu. Manusia yang bijak bukanlah manusia yang selalu baik selama hidupnya. Melainkan manusia yang mampu berubah menjadi pribadi yang lebih baik dari masa lalunya.

Untuk Aku, terimakasih telah menjadi sehat dan bahagia.
Salam dariku untukmu, Aku.

Tertanda,

Yuliana.
 

Wednesday, January 22, 2014

Menua bersamamu, adalah inginku


Tadi sore, di jalanan saat aku pulang aku melihat sepasang kekasih. Bergandengan tangan. Mesra. Berpelukan. Sambil berbisik-bisik. Kemudian tertawa. Entahlah apa yang sedang mereka bicarakan. Namun kelihatannya nampak seru. 
Sepasang kekasih dengan gandengannya yang tak sehalus dulu. Sewaktu kulitnya masih kencang dan mulus. Namun gandengan itu amatlah nyaman.
Sepasang kekasih dengan pelukan tak seerat dulu. Sewaktu tenaganya masih penuh dan menggebu. Namun pelukan itu menenangkan.
Sepasang kekasih dengan kemesraan tak semanis dulu. Sewaktu asmaranya masih berkobar dan semangat bercintanya masih membara. Namun kemesraan itu terasa hangat.
Sepasang kekasih dengan rambut yang sudah beruban. Sepasang kekasih dengan wajah dan kulit yang telah kisut. Sepasang kekasih dengan nafas sedikit sesak. Sepasang kekasih dengan tenaga yang sudah tinggal sisa. Sepasang kekasih dengan badan sudah tak berbentuk gitar spanyol atau biola kanada.
Namun begitu, mereka, sepasang kekasih itu, saling menguatkan. Saling memberi kehangatan. Saling menyalurkan kebahagiaan. Saling menebarkan cinta. Saling menyediakan kenyamanan.
Aku amati lamat-lamat. Indah. Pemandangan sederhana namun penuh cinta. Membuat hatiku terhibur. Kemudian terbersit sebuah pertanyaan, “Akankah aku bisa seperti mereka?”
Walaupun kulit mereka kisut dimakan usia. Walaupun rambut mereka telah memutih mengiring dekade. Walaupun nafas mereka hampir habis untuk bernapas selama lebih dari tiga perempat abad. Walaupun badannya telah ringkih menahan beban hidup penuh kepalsuan ini.
Aku.. entah, apakah ini harapan yang terlalu muluk atau apalah itu, ingin sekali seperti mereka, sepasang kekasih itu. Mendampingimu. Menua bersamamu. Membiarkan rambutku memutih bersamamu. Sibuk menghujanimu dengan cinta hingga tak sadar kulitku, dan kulitmu mulai kisut. Sibuk memberikanmu kebahagiaan hingga tak sadar badanku sendiri mulai meringkih dimakan usia. Berlarian kesana-kemari untuk merawatmu dan anak-anak kita hingga sejenak kusadari nafasku mulai ngos-ngosan dan mudah sesak.
Tak apa. Aku suka. Aku bahagia. Kehadiranmu, dan malaikat-malaikat kecil kita telah memberikanku surga kecil di dunia. Meski pak presiden ingin menggadaikanmu dan malaikat kecil kita dengan seisi duniapun aku tak rela menukarnya.
Aku ingin, atau malah berharap, bahkan dalam hati aku meng-amin-kan doaku sendiri, kita bisa menua bersama. Beruban bersama. Keriput bersama. Merawat malaikat-malaikat kecil kita bersama. Membuat surga kecil di dunia ini bersama. Tertawa bersama.
Aku ingin, atau malah berharap, bahkan dalam hati aku meng-amin-kan doaku sendiri, akulah yang akan merentangkan selimut saat kamu tertidur pulas diatas kursi goyang. Aku berharap, akulah yang membuatkanmu sarapan dan kopi serta koran diatas meja makan. Aku berharap, akulah yang ada disamping ranjangmu. Aku ingin, akulah yang kau temui saat pagi-pagi kamu membuka matamu. Aku ingin, akulah yang menyiapkan bekal untukmu dan malaikat malaikat kecil kita.
Aku berharap, jari yang kau sematkan cincin di depan wali hakim pernikahan adalah tanganku. Aku berharap, tubuh yang kau peluk setiap hari adalah tubuhku. Aku berharap, tangan yang kau genggam itu adalah tanganku. Dan aku berharap orang yang akan mengisi hatimu itu adalah aku. 
Menua bersamamu, adalah inginku.
Aku ingin, atau malah berharap, bahkan dalam hati aku meng-amin-kan doaku sendiri.