
Sepasang kekasih dengan gandengannya yang tak sehalus dulu. Sewaktu kulitnya masih kencang dan mulus. Namun gandengan itu amatlah nyaman.
Sepasang kekasih dengan pelukan tak seerat dulu. Sewaktu tenaganya masih penuh dan menggebu. Namun pelukan itu menenangkan.
Sepasang kekasih dengan kemesraan tak semanis dulu. Sewaktu asmaranya masih berkobar dan semangat bercintanya masih membara. Namun kemesraan itu terasa hangat.
Sepasang kekasih dengan rambut yang sudah beruban. Sepasang kekasih dengan wajah dan kulit yang telah kisut. Sepasang kekasih dengan nafas sedikit sesak. Sepasang kekasih dengan tenaga yang sudah tinggal sisa. Sepasang kekasih dengan badan sudah tak berbentuk gitar spanyol atau biola kanada.
Namun begitu, mereka, sepasang kekasih itu, saling menguatkan. Saling memberi kehangatan. Saling menyalurkan kebahagiaan. Saling menebarkan cinta. Saling menyediakan kenyamanan.
Aku amati lamat-lamat. Indah. Pemandangan sederhana namun penuh cinta. Membuat hatiku terhibur. Kemudian terbersit sebuah pertanyaan, “Akankah aku bisa seperti mereka?”
Walaupun kulit mereka kisut dimakan usia. Walaupun rambut mereka telah memutih mengiring dekade. Walaupun nafas mereka hampir habis untuk bernapas selama lebih dari tiga perempat abad. Walaupun badannya telah ringkih menahan beban hidup penuh kepalsuan ini.
Aku.. entah, apakah ini harapan yang terlalu muluk atau apalah itu, ingin sekali seperti mereka, sepasang kekasih itu. Mendampingimu. Menua bersamamu. Membiarkan rambutku memutih bersamamu. Sibuk menghujanimu dengan cinta hingga tak sadar kulitku, dan kulitmu mulai kisut. Sibuk memberikanmu kebahagiaan hingga tak sadar badanku sendiri mulai meringkih dimakan usia. Berlarian kesana-kemari untuk merawatmu dan anak-anak kita hingga sejenak kusadari nafasku mulai ngos-ngosan dan mudah sesak.
Tak apa. Aku suka. Aku bahagia. Kehadiranmu, dan malaikat-malaikat kecil kita telah memberikanku surga kecil di dunia. Meski pak presiden ingin menggadaikanmu dan malaikat kecil kita dengan seisi duniapun aku tak rela menukarnya.
Aku ingin, atau malah berharap, bahkan dalam hati aku meng-amin-kan doaku sendiri, kita bisa menua bersama. Beruban bersama. Keriput bersama. Merawat malaikat-malaikat kecil kita bersama. Membuat surga kecil di dunia ini bersama. Tertawa bersama.
Aku ingin, atau malah berharap, bahkan dalam hati aku meng-amin-kan doaku sendiri, akulah yang akan merentangkan selimut saat kamu tertidur pulas diatas kursi goyang. Aku berharap, akulah yang membuatkanmu sarapan dan kopi serta koran diatas meja makan. Aku berharap, akulah yang ada disamping ranjangmu. Aku ingin, akulah yang kau temui saat pagi-pagi kamu membuka matamu. Aku ingin, akulah yang menyiapkan bekal untukmu dan malaikat malaikat kecil kita.
Aku berharap, jari yang kau sematkan cincin di depan wali hakim pernikahan adalah tanganku. Aku berharap, tubuh yang kau peluk setiap hari adalah tubuhku. Aku berharap, tangan yang kau genggam itu adalah tanganku. Dan aku berharap orang yang akan mengisi hatimu itu adalah aku.
Menua bersamamu, adalah inginku.
Aku ingin, atau malah berharap, bahkan dalam hati aku meng-amin-kan doaku sendiri.
No comments:
Post a Comment