Selamat menjadi 22, gadisku. Bisikan doa pada 22 yang tak bisa terdengar oleh telinga, namun semoga sampai pada Rabb-Nya.
Selamat ulang tahun, gadis cengengku. Dengan kepala 2, kenapa matamu mudah sekali mengundang mendung? Atau bahkan menitikkan hujan? Rapuh kah hatimu, duhai gadis cengengku?
Selamat naik tingkat kedewasaannya, gadis kuatku. Bisikan doa yang selalu teruntai dari bibir yang bertengger di wajahmu akan selalu mendoakan semoga hatimu tegar menghadapi kemungkinan-kemungkinan yang bahkan lebih buruk dari pikiran.
Selamat hari ulang tahun, gadis manisku. Maniskan akhlakmu agar manis pula imam yang akan memimpin kehidupanmu kelak. Baikkan akhlakmu agar baik pula lelaki yang akan menanggung seluruh hidupmu kelak setelah ayahmu.
Selamat 22. Jangan mudah menangis dan marah, duhai gadis kecintaanku. Jangan mudah menyesal, menyerah, atau putus asa. Ingatlah hidup ini bukan milikmu, melainkan milih Sang Khaliq. Ikhtiar dan tawakkal. Lalu pasrahkan semua dalam bisikan doa yang semoga sampai kepada Rabb Ilahi. Karna janji Allah tidak pernah ingkar.
Selamat. Dua-Dua.
Surabaya, 12 Juli 2017.
Showing posts with label Happy birthday. Show all posts
Showing posts with label Happy birthday. Show all posts
Wednesday, July 12, 2017
22 - Bisikan Doa
Label:
Happy birthday,
Tribute to you
Lokasi:
Indonesia
Tuesday, July 12, 2016
Duapuluhsatu. | Surat untuk diri sendiri chapter:2
![]() |
| Sumber gambar: Yulianahakim's Gallery |
Tepat hari ini, di 21 tahun yang lalu telah lahir seorang bayi perempuan dari rahim seorang wanita. Panggil saja namanya Aku. Jari-jarinya mungil, pipinya cukup tembem.
Aku, 21 tahun yang lalu hanya bisa menangis. Mencari kehangatan dari dekapan seseorang yang bernama Ibu.
21 tahun yang lalu, si Aku yang di gusinya masih belum ditumbuhi gigi susu akan tertawa lebar ketika seseorang yang bernama Ibu menepuk-nepuk punggung dan pahanya sambil menyanyikan lagu lucu.
21 tahun yang lalu, Aku akan menangis keras bila disuapi pisang yang diserut dengan sendok ataupun dicekoki minum obat yang sudah digerus lembut lalu dicampur sedikit air.
Kini.. Setelah Aku tumbuh menjadi seorang gadis, ia masih sama seperti bayi di 21 tahun yang lalu.
Ia masih sering merengek, mencari kehangatan dekapan seseorang yang bernama Ibu pada malam-malam dingin yang dilaluinya.
Ia masih sering tertawa lebar, manakala lagu yang dulu dinyanyikan seseorang yang bernama Ibu terngiang di telinga dan memenuhi isi kepalanya.
Namun, ada yang sedikit berbeda. Si Aku kini sudah mampu berjalan sendiri. Ia kini mampu merebus mie instan lalu dicampur dengan potongan cabai dan sawi. Ia pun mampu mengeja kata demi kata yang diucapkan dari lawan bicaranya.
....
Untuk Aku, yang kini telah tumbuh menjadi gadis 21 tahun, saya salut padamu yang dapat tumbuh dengan sehat dan bahagia. Semoga kebahagiaan dan kesehatan selalu berada dalam dekapanmu.
Untuk Aku, bayi yang dulunya sering merengek minta ditimang saat akan tidur, kuatkan hati dan tenagamu. Karena untuk hari-hari kedepan, tantangan dan ujian hidup akan dimulai. Jangan sering mengeluh dan mudah menyerah sebelum kamu benar-benar telah mengerahkan seluruh usaha dan kemampuan yang kamu miliki, ya.
Untuk Aku, si bayi gendut yang mudah bahagia. Tetaplah menjadi pribadi yang mudah dibahagiakan. Jangan jadi manusia pemilih yang pada akhirnya akan merugikan diri sendiri. Jangan mudah menangis akan hal-hal yang sepele. Dan jangan mudah marah oleh ucapan dan bisikan miring yang sering mengendorkan senyum dan keramahanmu.
Untuk Aku, manusia memang tempat salah dan khilaf. Maka jangan kamu merendah diri akan apa yang ada pada dirimu. Manusia yang bijak bukanlah manusia yang selalu baik selama hidupnya. Melainkan manusia yang mampu berubah menjadi pribadi yang lebih baik dari masa lalunya.
Untuk Aku, terimakasih telah menjadi sehat dan bahagia.
Salam dariku untukmu, Aku.
Tertanda,
Yuliana.
Label:
Happy birthday,
Harapan,
prosa,
surat-surat
Sunday, July 12, 2015
Menjadi Duapuluh: Sebuah surat kepada diri sendiri.
![]() |
| Sumber gambar: Google |
Duapuluh. Bukanlah sebuah angka yang besar.
Tapi, dalam usia, bukankah itu sebuah paduan yang cukup tinggi?
Duapuluh. Usia.
Image remaja yang perlahan luntur.
Datanglah kepribadian baru, seorang wanita.
Di duapuluh, dan seterusnya.
Mematangkan diri menjadi wanita seutuhnya.
Menguatkan pundak dan punggung, untuk menjadi wanita kuat dan tangguh.
Tuesday, November 25, 2014
Happy Birthday, Stubborn Man
![]() |
| Sumber gambar: my galery |
Ini adalah kado sederhana dari kami,
kepada kamu yang kami sayang.
Selamat ulang tahun, Tuan Visioner.
Bukankah ulang tahun bukan melulu tentang usia yang kian bertambah? Ada makna yang lebih dari sekedar angka, bukan? Ialah waktu.
Selamat ulang tahun, Lelaki Periang.
Kami - aku pun mereka bahagia berada dalam murung dan riangmu. Tak apa.. Bukankah hidup tak melulu tentang bahagia?
Monday, January 06, 2014
Happy Birthday :)
Sayang. Dan cinta. Satu kata. Berjuta makna. Membuat jutaan umat manusia saling mengasihi. Mendamaikan bumi. Menentramkan hati. Memaknai hari. Menegarkan diri.
Pengorbanan. Satu kata. Pun juga sangat bermakna. Bak buah simalakama. Jika dihargai, maka bahagia menanti. Namun jika diabai, datanglah jiwa yang mati.
Bagiku. Pengorbanan dan cinta pun juga sayang adalah keterkaitan. Mereka saling bergandengan. Tak bisa berjalan jika tanpa salah satunya. Saling melengkapi, pun juga saling menghancurkan jika ada yang tak terpenuhi. Dilakukan, bukan hanya oleh satu orang, namun harus saling berbalas. Saling bertepuk sehingga menimbulkan bunyi-bunyian ritmis yang indah.
Aku. Entah sudah beberapa bulan belakangan. Dibuat gila olehmu. Aku yang kadang tersenyum sendiri saat mengingatmu. Aku yang kadang tertawa renyah dengan segala leluconmu. Aku yang kadang tersipu malu saat kamu diam-diam mencuri pandang padaku. Aku yang kadang kesal saat kamu terlalu sibuk dengan duniamu. Aku yang kadang dibuat cemburu dengan sikapmu terhadap teman wanitamu. Entah kamu sebut ini apa. Jatuh cinta kah. Entah apa, aku sendiri-pun tak bisa mendefinisikannya.
Hanya saja aku merasa nyaman saat berada disisimu. Hanya saja aku merasa bahagia saat bersamamu. Hanya saja aku merasa energiku kembali penuh setelah melihat senyummu. Hanya saja hatiku damai kembali setelah mendengar suara bass-mu. Hanya saja aku merasa teristimewakan dengan perhatian-perhatian kecilmu. Hanya saja aku rindu dengan kebawelanmu. Hanya saja aku suka caramu memandangku. Hanya saja aku suka caramu memperhatikan gerak-gerikku. Hanya saja aku suka caramu menyingkap kebekuan diantara hatiku dan hatimu. Hanya saja aku suka caramu membunuh waktu dan membuang jarak antaraku denganmu. Entahlah aku tak tahu apa yang sedang aku alami. Terserah kalian mau sebut ini apa. Terserah juga kamu mengartikan ini sebagai apa. Entah, terserah.
Sejak kapan ini terjadi. Kau selalu sama seperti hatiku. Walaupun hanya senyuman tipis darimu. Aku merasa sangat bersemangat. Oh, kau seperti permen kapas yang meleleh di hatiku. Kau seperti pelangi yang berkilau menuju hatiku. Dengan suara manismu.
Panggil saja aku tolol. Karena aku, dengan tanpa meronta, menuruti segala nasihatmu. Panggil saja aku penurut. Karena aku, dengan segenap hati, melaksanakan segala yang kamu sarankan. Panggil saja aku bodoh. Karena aku, dengan tanpa ragu, menggantungkan harapan yang terlalu tinggi kepadamu. Panggil saja aku konyol. Karena aku, dengan seyakin-yakinnya, bangun pagi-pagi sekali menuliskan cerita ini sambil mengingatmu, segalanya. Sambil membayangkan senyummu. Wajahmu. Leluconmu. Setiap detail tubuhmu. Semangatmu.
Panggil saja aku gila. Karena aku, dengan tanpa malu, mengabadikan video selamat ulang tahun untukmu, didepan orang-orang yang terasa asing bagiku. Dengan tatapan yang tak kalah asing, mereka melihat kelakuanku sambil berpikir, “waraskah diriku?” Hahaha. Jika aku mengingatnya, aku pasti akan tertawa tanpa jeda. Mungkin, jika harus melakukan hal bodoh itu lagi, aku tak akan mau. Malu.
Panggil saja aku penakut. Tak berani mengucapkan segala yang aku rasakan. Karena aku terlalu takut mengakuinya. Karena aku terlalu nyaman denganmu. Karena aku terlalu takut kehilanganmu. Karena aku terlalu takut kamu menjauhiku. Karena aku terlalu takut kehilanganmu. Karena aku terlalu takut.
Aku begitu takut kehilangan. Aku telah kehilangan sebelumnya. Aku tak bisa melihat jelas ke depan. Tak yakin pada apa yang menungguku besok. Aku ingin bersembunyi. Aku ingin menyamarkan diriku. Tapi aku yang hari ini sudah berbeda. Aku ingin mulai bernyanyi lagi. Aku memiliki hati yang berdebar ini untuk memberiku kekuatan.
Panggil saja aku pemimpi. Yang menginginkanmu selalu disisiku. Yang terlalu bermimpi bisa menyandingmu. Yang terlalu bermimpi bisa kau semangati setiap waktu. Yang terlalu bermimpi bisa mejadi yang istimewa di hatimu. Yang terlalu bermimpi bisa bersamamu, karena aku terlalu bermimpi
Selamat Ulang Tahun, Kamu, Malaikatku~
Label:
Happy birthday,
Tribute to you
Lokasi:
Jombang, East Java, Indonesia
Subscribe to:
Posts (Atom)




