Showing posts with label Pergi. Show all posts
Showing posts with label Pergi. Show all posts

Monday, April 28, 2014

Sebuah Percakapan di Hujan Bulan April

Sumber gambar: tumblr

Kamu ini.. Dipertahankan kok malah main sama yang lain seenaknya gitu. Dasar!

Hey, apa maksudmu? Jelaskan apa maksud dari pernyataanmu itu.

Iya. Aku sudah mati-matian menjaga hati hanya untuk satu nama. Aku sudah setengah sekarat menabung rindu agar bisa membayar lunas untuk bisa bertemu denganmu. Aku tengah setengah hidup membangun singgasana cinta tempat kita bersanding nantinya. Tapi apa balasanmu? Kamu malah bermain api di belakangku dengan hati yang lain. Maksudmu apa? 

Aku? Bermain api? Haha. Jangan salah paham. Sejak berkenalan dekat denganmu, aku berjanji pada diri sendiri, dan pada semesta, untuk memegang kata percaya. Percaya pada kesabaran dalam menghadapi sikapmu. Percaya pada setiap ucap yang keluar dari bibirmu. Dan percaya pada kesetiaan yang kau ajarkan. Tapi, percayaku lama kelamaan memudar, terlebih karna ulahmu. Lalu tergantikan dengan rasa curiga dan seribu tanda tanya. Benarkah yang selama ini kau ucap? Jujurkah yang selama ini kau ajarkan? Lalu.. Dari ulahmu sendiri, aku tahu.. Bahwa hatimu tak benar-benar kau jatuhkan padaku. Aku hanya kau jadikan batu lompatan untuk sekedar mengilangkan kesendirian. Bukan begitu?

Kenapa malah menyalahkan aku? Jangan membelokkan pembicaraan.

Bukan.. Ini bukan membelokkan pembicaraan. Aku hanya menyimpulkan segala analisa dari pengamatan seorang aku. Ya, karna kamu tak pernah mau mengungkapkan perasaanmu yang sebenarnya padaku, bukan? :)

Kamu ini ngelantur. Aku 'kan sudah jujur padamu atas segala rasaku. Apa kamu masih tidak percaya?

Bukan.. Ini bukan masalah percaya atau tidak. Aku.. Aku jelas percaya pada semua ucapmu. Tapi, maaf.. Hatiku cukup dibilang perasa terhadap sesuatu. Sekalipun kata yang keluar dari mulutmu adalah A, tapi dalam hatimu; aku tahu, adalah B.

Jangan berbelit-belit. Langsung intinya saja.

Jadi begini.. Awalnya aku sangat percaya, seribu persen aku percaya. Namun lama-lama aku merasa, sikapmu menimbulkan curiga. Sepertinya.. Segala hal yang kamu lakukan berfokus pada dia yang kau simpan rapat dihatimu. Sepertinya kerinduanmu terpusat pada dia yang kau kunci dalam ingatanmu. Aku.. Yang dengan susah payah mencari celah untuk sampai menuju hatimu, merasa timpang mengetahui bahwa tak ada lagi tempat untukku dihatimu. Aku kacau. Meracau tak menentu. Menggeliat kecewa pada asa dan semesta. Kenapa Tuhan menciptakan "kita" jika pada akhirnya dia yang kau simpan rapat dalam hatimu tak bisa kau singkirkan barang sebentar saja. Bukankah semua orang itu sama, akan kecewa jika yang seharusnya jadi singgasana indah hanya untuk mereka berdua, tapi malah diisi dengan seseorang yang bahkan tak diharapkan kehadirannya? 

..........

Aku telak, kan? Jadi benar; yang kamu pertahankan atas nama setia itu bukan namaku, kan? Yang kau bangunkan singgasana mewah dalam istanamu itu bukan aku, kan? Haha. Selamat, kamu sudah menutupi dengan mulus sampai-sampai aku baru menyadarinya setelah sedikit lama. Jadi hentikan usahamu dalam membangun singgasana yang kau buat sedemikian indah namun hanya kau poles dengan kebahagiaan semu itu. Hentikan, cukup. Aku tak mau lagi hidup bersama orang yang masih diikuti bayang-bayang hitam yang selalu dibawa kemanapun ia berada. Silakan pergi, jika hatimu tak pernah disini. Tak mengapa.." Selamat tinggal. :)"

Saturday, March 22, 2014

Gak Tahu. Dan gak mau tahu.

Sumber gambar: tumblr
Gak tahu. Dan gak mau tahu. Sudah cukupkah kata-kata itu menjelaskan makna dari perasaanku saat ini padamu?

Bukan. Ini bukan perihal melepaskan sosokmu dari sisiku. Aku hanya, membiarkan hatimu untuk menentukan pilihan. Tetap menemaniku, berada disampingku. Atau hatimu akan memilih melenggang pergi, meninggalkan hatiku yang terluka disini. Terserah kamu, itu adalah pilihanmu. Aku tak akan memaksanya, tak mau.

Dari sini aku belajar mengikhlaskan, ikhlas yang tanpa dendam. Ikhlas yang tanpa mengharap imbalan. Ikhlas dengan sebenar-benarnya ikhlas. Ikhlas menerima apapun itu keputusan yang telah hatimu pilih.

Aku, kini, menarik sebagian dari jiwa ini dari mimpi indah yang kau suguhkan untukku. Jiwaku, kupaksa untuk bangun dari tidur panjang yang hangat dan nyaman dari dekap pelukmu. Hatiku, kupasangi garis pembatas agar tak melewati batasan yang telah hatimu putuskan.

Bukannya aku berharap pergi dari hidupmu, Sayang. Bukan. Aku hanya, menampar diriku sendiri agar aku tersadar sebenarnya siapa aku dimatamu. Aku, bukanlah apa-apa bagimu. Maka aku akan menarik segala harap yang kugantungkan padamu.

Gak tahu. Dan gak mau tahu. Mungkin itu adalah kata-kata yang keluar dari mulutku, sebagai salah satu upaya untuk lebih menegaskan bahwa kini ada batas antara kamu dan aku. Batas yang tak nyata namun terasa ada lalu meninggalkan sesak dalam dada. Batas yang membuat adanya kita menjadi semakin kusut masa. Batas yang memaksaku untuk berpura-pura tak lagi peduli denganmu, namun sebenarnya dalam hati aku sepenuhnya menghawatirkan keadaanmu.

Kuberikan kau jeda, Sayang. Agar kita bisa saling mendengar napas kita masing-masing. Agar kita menyadari akan kekurangan kita masing-masing, lalu memutuskan untuk saling melengkapi satu sama lain.

Kini kita berjalan di jalan kita masing-masing, Sayang. Aku berjalan di jalanku. Dan kamu berjalan di jalanmu. Semoga kita bertemu di ujung perjalanan ya, lalu menyatu menjadi satu jalan. Jalan yang menuju satu tujuan, yaitu kebahagiaan.

Namun jika kamu memilih belok ke arah yang lain, maka doaku akan selalu menyertaimu. Kudoakan semoga kau bertemu dengan teman seperjalanan yang lebih baik dari aku. Semoga kau bahagia dengan pilihanmu. Doakan aku agar hati ini kuat jika kemungkinan terburuk itu terjadi suatu hari nanti.

Friday, March 14, 2014

Menjauh. Sepeti itukah?

Sumber gambar: favim
Aku, merasa ada yang berbeda dengan adanya kita. Entahlah apa.
Sepertinya waktu, dengan tega menebas segala asa yang kita punya.
Aku, dan kamu. Kita berdua, sepertinya telah menyepakati satu hal, menjauh.
Aku, tak lagi tertarik untuk menceritakan hal-hal yang aku alami seharian penuh padamu.
Dan kamu, yang tak lagi melibatkan aku dalam urusanmu.

Wednesday, March 12, 2014

Bila Kata Kita Tak (lagi) Ada

Sumber gambar: Google
Bila kata kita tak (lagi) ada, maka beritahu aku telinga mana yang mam(p)u mendengarkan celoteh panjangku sebaik telingamu?

Bila kata kita tak (lagi) ada, maka beritahu aku pundak mana yang bisa kujadikan tempat bagiku untuk bersandar senyaman pundakmu?

Bila kata kita tak (lagi) ada, maka beritahu aku senyum milik siapa yang mam(p)u mengembalikan mood-ku dari marah menjadi rekah selain milikmu?

Bila kata kita tak (lagi) ada, maka beritahu aku dahi siapa kini yang kau kecup dengan mesra tiap bangun dan menjelang tidurmu?

Bila kata kita tak (lagi) ada, maka beritahu aku jari siapa kini yang kau genggam dengan hangat?

Bila kata kita tak (lagi) ada, maka beritahu aku jiwa milik siapa kini yang kau ajak terbang dan berputar-putar di awan mimpi?

Bila kata kita tak (lagi) ada, maka beritahu aku bahwa hidupku tak pernah baik-baik saja. Hingga aku akan selalu berpulang menujumu, rumahku.

Bila kata kita tak (lagi) ada, maka beritahu aku abu-abu selalu menyelimutimu. Hingga aku akan selalu menjadi matahari bagimu, pengusir abu-abu itu.

Bila kata kita tak (lagi) ada, aku (akan) menyadari bahwa segalanya tak akan bisa baik-baik saja seperti semula.

Bila kata kita tak (lagi) ada, maka aku akan berdoa kepada Sang Maha untuk (kembali) meng-ada-kan kita.

Saturday, February 22, 2014

Jangan Pergi, Tetaplah Disini

Sumber gambar: Google
Maka jika kamu pergi, bahu siapa tempat kepala ini bersandar selain pada bahumu? Adakah bahu lain yang mampu memberikan kenyamanan selayaknya bahu lebarmu? Aku tak yakin, tak pernah yakin.

Maka jika kamu pergi, kepada siapa senyuman terbaikku ini kuberikan selain padamu? Adakah seseorang lain yang mampu menarik tali simpul senyum di bibirku selain kamu? Aku tak yakin, tak pernah yakin.

Maka jika kamu pergi, siapa lagi yang akan menginspirasiku menulis ini semua? Adakah orang lain yang mampu membuatku begitu bersemangat menulis sesuatu selayaknya kamu? Aku tak yakin, tak 
pernah yakin.

Maka jika kamu pergi, kepada siapa kugantungkan rindu ini selain hatimu? Adakah hati lain yang bisa kujadikan tempat penggantung rindu? Aku tak yakin, tak pernah yakin.

Maka jika kamu pergi, kepada siapa kujatuhkan hati penuh lebam ini selain hatimu? Adakah hati lain yang bisa menjadi tempat ternyaman bagi hatiku untuk jatuh? Aku tak yakin, tak pernah yakin.

Maka jika kamu pergi, siapa lagi yang aku tunggu dalam menyemangati hari-hariku? Adakah sesuatu lain yang bisa menyemangatiku selain kamu? Aku tak yakin, tak pernah yakin.

Maka jika kamu tak pernah kembali lagi, untuk apa aku dan sang waktu bersahabat saling menghitung detik menanti kembalinya hadirmu? Sungguh hanya sia-sia.

Maka jangan pergi, tetaplah disini.

Tuesday, January 07, 2014

Pergilah~

 Pergilah….. jika pergi itu adalah inginmu
Aku tak akan pernah mengusikmu
 
Pergilah…… jika pergi adalah kehendakmu
Aku tiada akan pernah mengganggumu
 
Pergilah…… jika pergi adalah bahagiamu
Aku tiada punya daya untuk menahanmu
 
Pergilah….. jika pergi adalah pilihanmu
Aku akan berusaha menerima keputusanmu
 
Namun…. Ingatlah
Akan ada aku disini
Yang akan selalu setia menunggu kepulanganmu
Akan ada aku disini
Yang tiada pernah bosan mendoakanmu
Akan ada aku disini
Yang berusaha menjadi rumah bagimu
Akan ada aku disini
Tempatmu berpulang menuju hatiku
Akan ada aku disini
Yang dengan sabar membunuh waktu sambil menunggumu
Akan ada aku disini
Yang akan selalu memelukmu
Akan ada aku disini
Di tempat terhangat
Di pelukku
Di bahuku
Di pangkuanku
Akan ada
Disini
Untukmu

Friday, December 27, 2013

Pergi

Sumber gambar: tumblr

Pergi. Satu kata tapi bermakna. Pergi. Satu kata yang dahsyat pengaruhnya. Pergi. Satu kata yang bisa melukai hati banyak orang. Dan pergi. Adalah hal dimana hati harus mengikhlaskannya, entah itu dengan cara sadar atau terpaksa. Pergi. Menurutku, pergi adalah saat dimana aku meninggalkan semua hal yang berhubungan denganmu. Pergi. Adalah saat dimana aku tak bisa lagi menemani keseharianmu. Pergi. Adalah saat dimana aku dan kamu tak lagi menatap hari yang indah bersama-sama. Pergi. Adalah hal terberat dimana aku akan selalu merindukan sosok hadirmu namun kau tak bisa memenuhi kehadiranmu. Pergi. Adalah saat dimana aku tak lagi menjadi bagian dari hidupmu. Dan pergi. Adalah saat dimana hati masih ingin bersamamu namun keadaan memaksaku untuk mengkhianatinya.
 
Pergi. Entahlah, aku tak yakin bisa pergi jauh darimu. Kenapa? Karena setiap melihatmu, aku merasakan kehangatan dan kenyamanan. Merasakan bahwa kaulah rumah tempatku kembali setelah melakukan pergi. Entahlah. Entah ego atau logikaku yang memaksaku untuk pergi darimu. Namun hatiku selalu menahan keepergian ini. Hatiku terlalu bersimpati padamu sehingga aku gamang untuk pergi darimu. Tidak. Mungkin aku tidak akan pernah bisa pergi jauh darimu karena kaulah rumah tempatku kembali. Jangan. Jangan membenciku. Aku hanya menuruti ego untuk berniat pergi, tanpa ada dukungan dari hati. Jangan. Tetaplah disini, aku berjanji untuk meredam egoku dan menuruti apa maunya hatiku.
 
Jika suatu saat nanti aku memilih pergi, tolong jangan biarkan. Tolong, kumohon. Lakukanlah segala cara agar membuatku tetap disisimu. Lakukanlah segala hal agar aku mengurungkan niat untuk pergi. Tolong. Lakukan apapun agar aku, walaupun aku pergi, tetap akan kembali kepada rumahku, yaitu kamu. Tolong. Aku mohon. Dan mungkin aku dalam keadaan bersujud saat memintamu seperti ini.
 
Pergi. Adalah saat dimana aku dan kamu tak lagi menatap langit di balkon yang sama. Pergi. Adalah hal yang paling aku benci, karena pergi selalu beriringan dan bergandengan dengan yang bernama “kehilangan”. Aku tau, pergi dan kehilangan memang sepakat bersatu untuk menghancurkan hidup seseorang. Namun entah mengapa kali ini egoku ingin berteman dengan mereka. Sabarlah sedikit, jangan marah. Karena mereka tidak akan bisa berteman dengan baik karena hatiku telah kadung jatuh cinta padamu. Hatiku akan selalu membelamu. Selalu. Jangan biarkan aku pergi, ya? Kumohon. Karena aku tahu, pergi dan kehilangan adalah komposisi yang tepat untuk memporak-porandakan hati setiap orang. Aku tak mau pergi darimu. Aku tak akan mau.