![]() |
| Sumber gambar: Yulianahakim's Gallery |
Ini adalah surat pertama yang kutujukan kepada
seseorang yang nyata dan benar-benar ada di depan mata. Dan mungkin ini
adalah cara paling kolot yang pernah kamu temui selama perjalanan usia.
Surat ini kutulis, secara sadar. Ketika gelap
sudah menggelar jubah kebesaran dan sudut kota berangsur senyap.
Ketika rindu mulai menggelayut dalam dada.
Kepada seseorang dengan tatap paling teduh,
Maaf karena aku yang tidak bisa
menyampaikannya secara langsung. Meski banyak sekali hal-hal -sekalipun itu
receh- yang ingin kubagi denganmu, namun ketika sepasang mata sendumu menatap,
maka segala kata yang sudah kususun rapi dan kulatih berulang-ulang di depan
cermin kamar menguap dalam sekejap. Kesemua itu hanyalah kedunguan yang
kupelihara sebab kurang pandai dalam mengutarakan hal-hal yang cukup serius,
apalagi didepan seseorang yang aku segani, seperti kamu.
Untuk seseorang dengan sabar yang panjang,
Maafkan aku, karena sudah mengeruk sabarmu,
tak berkesudahan. Hingga mungkin kini yang tersisa hanya puing-puing pasrah,
berserah. Atau bahkan tinggal serakan-serakan putus asa dan rasa ingin
menyerah. Tak jarang aku memintamu bersabar ketika rasa rindu membuncah dalam
dada dan mengharapkan sebuah temu yang terbentur dengan rutinitas dari
masing-masing kita. Dan kamu mengiyakan -meski berat- yang jelas sekali
tergambar di raut muka. Tahukah kamu? Sebenarnya rinduku juga tak mau berdiam
diri. Ia melompat-lompat seperti bocah kecil yang sedang main trampolin, dan
dada serasa sesak sekali untuk terus menahan dan menetralisir rasa itu.
Tapi aku memegang teguh keyakinan bahwa sejenak kita berjarak semata untuk menghargai takdir. Bukan hal yang buruk, bukan?
Untuk seseorang yang ada dalam genggaman,
Terimakasih telah menggenggam tanganku, erat.
Mengalirkan energi-energi positif untuk tetap tenang dalam menjalani hidup yang
cukup berat dan melelahkan. Meyakinkan diri bahwa segalanya akan baik-baik
saja, karna seberapa sakit dan remuk hati, ada tempat bersandar dan berpulang
yang nyaman, kamu.
Terimakasih telah mencengkeram cemas dalam
dada lalu mengubur dalam-dalam bersama ketakutan-ketakutan yang sering merasuki
pikiran. Menepis buih gelisah yang kerap menerjang sisa-sisa rasa percaya yang
mudah terkikis. Menggantinya dengan senyum tulus yang tergambar indah
dalam bingkai rupamu. Kemudian terbersit dalam hati, "Tuhan, terimakasih
Kau kirimkan dia untuk saya."
Terimakasih telah bersedia datang di jalanan
hati yang tak rata sama sekali. Menyingkap dengan tekun satu demi satu kerikil
ragu di sepanjang perjalanan. Meyakinkan diri bahwa di dunia ini aku tak
berjalan sendirian, karena telah memiliki seseorang yang bersedia menemani.
Untuk seseorang yang ada dalam genggaman,
Bersyukur untuk kehadiranmu. Bersyukur untuk
perasaan indah ini.

No comments:
Post a Comment