Sunday, December 13, 2015

Tangisan Seorang Lelaki

sumber gambar: google


Kita bertengkar lagi. Bukan pertengkaran seperti biasanya. Seperti saat aku menyetrika bajumu dan berakhir dengan gosong dan bolong. Bukan pula pertengkaran saat kamu malas membantu bersih-bersih rumah atau mangkir menyiram bunga di kebun.

Kali ini pertengkaran terjadi sangat hebat. Pertengkaran yang membela dan menina-bobokan ego kita masing-masing. Pertengkaran yang akhirnya berujung pada sikap diammu. Diam akan pertanyaan-pertanyaan yang kuajukan berkali-kali di depan matamu. Diam akan segala sikap yang kulakukan. Diam akan tatapan penuh tanya. Diam.

Kemudian hening. Detikan jam dinding bersikap seolah menjadi hakim kita. Aku bertanya-tanya dalam hati, “sebenarnya apa yang sedang kau pikirkan? Ayolah bicara, kau kan laki-laki. Mana sikap gentle-mu”. Namun pertanyaan-pertanyaan itu tak sempat aku lontarkan karena aku masih sangat menghormati segala ujar dan keputusan yang kau buat.

Hening. Dan dingin. Begitulah suasana yang tergambar dari pertengkaran kita. Karna terlalu lama menunggu, akhirnya kuberanikan diri angkat suara, “sudah larut, aku lelah. Aku pamit istirahat dulu.” Kuangkat kaki dengan berat lalu masuk ke kamar dan berusaha memejamkan mata. Lalu berkebatlah flashback pertengkaran yang barusan terjadi. Sambil terisak, aku coba menarik napas dalam-dalam dan berdoa, “Tuhan, semoga pertengkaran kami malam ini menemukan pelanginya.”

Dini hari aku terbangun. Kulirik jam di handphone. “masih jam 1. Satu jam lagi deh nanti tahajudnya.”, pikirku. Lalu kupejamkan mataku kembali. Tiba-tiba terdengar suara isakan. “Siapa gerangan yang menangis?” tanyaku sambil mencari asal dari suara itu. Dan kudapati kau bersimpuh diatas sajadah sambil menengadahkan kedua tangan kekarmu. Menangis sembari bersujud lama. Aku terpana. Kau menangis lagi. “Tuhan, jika ego yang kami berdua miliki menimbulkan hal yang besar seperti saat ini, maka ampunilah kami. Karena kami adalah bodoh karna telah memberi makan ego dengan keserakahan kami atas hidup yang Engkau titipkan.” Kulihat kau mengusap air mata, namun kini mataku yang mulai sembab.

“Tuhan, jika Engkau masih menakdirkan aku atas ia, maka berikanlah kami kekuatan untuk tetap mempertahankan apa yang sudah kami ikrarkan di hadapan-Mu. Dan berikanlah hamba sedikit sifat Al-Adlu Mu agar hamba bisa bersikap adil dan bijaksana dalam menyelesaikan masalah-masalah kami. Tuhan, kuatkan dan tabahkan kami. Amin.” Begitu tutupmu mengakhiri doa tahajjud. Doa yang kudapati sangat indah dan tulus yang pernah  terdengar. Doa paling menentramkan hati yang teruntai di sepertiga malam yang sangat panjang. “Amiin.” Hanya itu yang bisa kubisikkan di sela-sela isak dan tangisku.

Maaf, karna sering membuat menangis dan bersedih. Maaf, karna masih belum bisa membawa dan memahat bahagia dan senyuman di fisik maupun batin. Maaf, karna telah memanjakan dan menyuapi ego dengan hal-hal yang tidak cantik. Maaf, karna belum bisa sepenuhnya memeluk kurang dan lebih yang ada pada diri. Maaf, dan terimakasih.

No comments:

Post a Comment