Sunday, March 13, 2016

Di Persimpangan Kala Itu

Rintik hujan sudah berkali-kali mengecupku sejak jam besar di gedung kota menunjuk angka 3, angka kesukaanmu.
Hingga senja jatuh di pangkuan, aku masih berdiri di tempat yang sama, di persimpangan dekat kedai yang sering kita kunjungi dulu.

Hujan kali ini mengacak-acak loker memori yang sudah kususun rapi dan terstruktur sesuai urutan kedatangan. Menarik dengan paksa ingatan tujuh ratus dua puluh lima hari yang lalu, ingatan tentang persimpangan jalan dimana kakiku berdiri. Dan kita. Memecah kepingan hati yang susah payah kusulam dengan rindu dan tabah agar tak kepalang berantakan.
Kopi yang kausesap bersama dengan jingga sore yang temaram di kedai dekat persimpangan kala itu terasa manis untuk hanya sekedar diabadikan dalam foto. Lalu sambil terus memandangimu bercerita panjang lebar tentang tugas-tugas kuliah yang kau rasa begitu berat, diam-diam aku mengukirnya di dalam ingatan sebagai kado terindah yang diberikan Semesta. Kini, ukiran gambarmu bersama senja terlihat semakin jelas di depanku. Dan entah kenapa terasa begitu menyakitkan.

Kamu memesankan teh melati untukku karena tahu aku bukan penggemar kopi. Kemudian kita akan memilih tempat duduk di dekat kaca jendela dan berbincang berjam-jam tentang apa saja, entah itu tentang buku yang rampung kubaca dalam 3 hari ini. Atau film terakhir yang kita tonton bersama. Apapun itu. Dan kita sepertinya tidak pernah kehabisan topik diskusi. Lalu tertawa akan hal-hal konyol yang kita lakukan untuk menggenapkan pertemuan kita. Hanya saja, kini, ingatan yang terkuak lebih terdengar layaknya rintihan pesakitan yang dirajam rindu habis-habisan.

Di persimpangan, kala itu, kita bertindak layaknya penyanyi profesional, kamu duduk di bangku pinggir jalan sambil menyetel gitar. Dan aku akan berdiri menggenggam sisirmu sebagai mic-nya. Perlahan petikan gitar mengalun dengan lembut lalu kita akan mulai bernyanyi dengan lagu yang sama, lagu favorit kita.
"And I will never try to deny
That you are my whole life
'cause if you ever let me go I would die
So I won't front
I don't need another else
I just need you all or nothing
'cause if I got that then I'll be straight
Baby, you're the best part of my day"
Seusainya, kita akan bertepuk tangan sambil tertawa lepas sambil menyusuri sepanjang jalan dengan lengan saling bertaut.

Kini, di persimpangan ini, semua terasa abu-abu.
Kini, persimpangan ini dipenuhi belati yang siap menghunjam dada pesakitan semenjak sosokmu berjalan memunggungi. Berkali-kali berteriak, memanggil namamu dengan suara serak di sela tangisan, kepalamu tiada walau sekali, menoleh maupun memberikan senyuman perpisahan. Bayanganmu perlahan menghilang ditelan gulita paling kejam, dan aku tak beranjak barang sekali. Berharap kamu akan datang, memeluk sambil mengusap air mata yang tumpah.Berucap bahwa apa yang baru saja terjadi hanyalah mimpi paling rancu. Namun segala khayal menjelma nyata yang getir ketika aku jatuh tersungkur dan tak kudapati uluran tanganmu.

Hujan masih setia dengan air mata, sedang senja telah lama berkhianat. Kali ini pekat malam datang menjadi selimut bagi tubuhku yang menggigil gemetar. Suara isakan menjadi pengiring paling menyedihkan ketika sang tapak kaki mengucap salam pada jalanan di persimpangan. 

Disini, di persimpangan jalan, aku masih enggan beranjak. Tujuh ratus dua puluh lima hari yang lalu maupun sekarang.

No comments:

Post a Comment