Showing posts with label fiksi. Show all posts
Showing posts with label fiksi. Show all posts

Sunday, March 13, 2016

Di Persimpangan Kala Itu

Rintik hujan sudah berkali-kali mengecupku sejak jam besar di gedung kota menunjuk angka 3, angka kesukaanmu.
Hingga senja jatuh di pangkuan, aku masih berdiri di tempat yang sama, di persimpangan dekat kedai yang sering kita kunjungi dulu.

Hujan kali ini mengacak-acak loker memori yang sudah kususun rapi dan terstruktur sesuai urutan kedatangan. Menarik dengan paksa ingatan tujuh ratus dua puluh lima hari yang lalu, ingatan tentang persimpangan jalan dimana kakiku berdiri. Dan kita. Memecah kepingan hati yang susah payah kusulam dengan rindu dan tabah agar tak kepalang berantakan.

Sunday, December 13, 2015

Tangisan Seorang Lelaki

sumber gambar: google


Kita bertengkar lagi. Bukan pertengkaran seperti biasanya. Seperti saat aku menyetrika bajumu dan berakhir dengan gosong dan bolong. Bukan pula pertengkaran saat kamu malas membantu bersih-bersih rumah atau mangkir menyiram bunga di kebun.

Kali ini pertengkaran terjadi sangat hebat. Pertengkaran yang membela dan menina-bobokan ego kita masing-masing. Pertengkaran yang akhirnya berujung pada sikap diammu. Diam akan pertanyaan-pertanyaan yang kuajukan berkali-kali di depan matamu. Diam akan segala sikap yang kulakukan. Diam akan tatapan penuh tanya. Diam.

Monday, November 16, 2015

I Miss You

Sumber gambar: Google

Larut sudah berada di singgasananya ketika aku berkutat dengan tugas-tugas kuliah.
lagu "Must Let You Go" dari Young Gun sayup-sayup terdengar dan memenuhi ruangan.
tiba-tiba, rasa sepi mulai menyergapku.
kesepian yang kemudian mencekik rindu yang selama ini bersemayam damai dalam semak-semak jiwaku.
rindu yang kukunci rapat-rapat di peti mati dalam relung hatiku, kini menyeruak dan memaksa untuk muncul.

aah.. aku benci perasaan ini.
saat aku menginginkan kehadiranmu dalam khayal dan nyataku, namun yang kudapati hanya serpih-serpih kenangan kita.
saat aku merasa bahagia mengingat memori masa kita dulu namun juga terasa pahit seketika mendapati itu hanyalah sebuah memori cerita lama.

Friday, August 08, 2014

Kita; Sebuah Asa Yang Sia-sia

Sumber gambar: Google
Hari Jumat pukul 2

Ting.. Ting.. Ting

Dentingan sendok dan gelas yang berisi susu coklat hangat beradu. Memecah keheningan yang beku. Yang sejak tadi menyiksa tenggorokan.

Di sini, di kedai di persimpangan jalan. Aku amati lamat-lamat, bulir-bulir hujan jatuh dengan irama syahdu. Membasahi krisan putih yang sejak tadi menatap sendu ke arahku. Bau tanah basah yang sejuk segera menyelinap ke hidungku. Hmm.. Suasana yang amat damai, menyatu dengan suara alam.

Dingin... Ya, dingin. Namun dingin kali ini sungguh berbeda. Dingin yang hampir melumpuhkan sadarku. Dingin yang seolah menjajah ingatan. Dingin yang menarik paksa kenangan yang sudah kubuang jauh-jauh. Jauh.. Jauh di sana. Di perbatasan antara benang-benang nefron di cerebrum dan cerebelum.

Lalu, lobus oksifital dalam otakku mulai aktif berproduksi. Kenangan demi kenangan lima tahun silam mulai berkelebat hebat. Hari yang sama, jam yang sama, dan tempat yang sama. Jumat tepat lima tahun lalu, di bangku yang kududuki, dua muda-mudi sedang berhaha-hihi sambil sesekali mendaratkan ciuman di kening atau pipi. Mereka adalah kita; aku, dan seorang lelaki yang bersahaja, kamu.

Ya, kita pernah dekat. Bahkan lebih dekat dari sela-sela jemari. Saat itu, dunia seperti enggan untuk berotasi. Saat itu, dunia seolah ikut merayakan bahagia. Bagiku, kau adalah semesta. Tempat bagiku untuk berpijak. Aman bergumul dengan nyaman saat berada dalam bahumu yang rindang. Rencana demi rencana baik untuk masa depan tergelar. Merasa yakin bahwa masa depan berada dalam genggaman.

Namun, semesta memang Maha Bercanda. Kamu, yang kemarin masih kugenggam rapat, kini memaksa untuk bebas. Menggeliat, mencipta gelisah dan amarah. Lalu, kita yang sama-sama mendewakan ego, memilih jalan yang sama sekali berlawanan dengan rencana masa depan kita.

Hujan diluar mulai reda. Namun yang kurasakan malah derasnya ingatan tentang getirnya luka yang kini berduka.

Sebuah kita; yang dulu sering kau dan aku ucap, sepertinya telah haram untuk kini direcap.

Semakin keras tamparan semesta bahwa kita adalah sebuah asa yang sia-sia. Ah... Tetiba saja mataku sudah dipenuhi lautan. Lalu tumpah ruah menjadi tangisan. Deras.. Seperti hujan hari Jumat tadi siang.

Sunday, July 20, 2014

Kepada: Pemilik Hati Yang Terbagi

(Balasan surat; Dear: Kekasih Gelapku)
Sumber gambar: Google
Welcome home, Kesayanganku!


Ya, sekalipun aku hanya rumah keduamu, bukan berarti aku tak boleh memberi ucapan selamat datang untuk kamu, bukan?

Wednesday, May 07, 2014

Dear: Kekasih Gelapku

Sumber gambar: Google
Sayang, bagaimana tidurmu tadi malam? Masih pulaskah walaupun tanpa dekap erat pelukku?

Sayang, pulang dengan selamatkah kamu, setelah kita melebur rindu di cafe pinggir jalan tadi malam?

Monday, April 28, 2014

Sebuah Percakapan di Hujan Bulan April

Sumber gambar: tumblr

Kamu ini.. Dipertahankan kok malah main sama yang lain seenaknya gitu. Dasar!

Hey, apa maksudmu? Jelaskan apa maksud dari pernyataanmu itu.

Iya. Aku sudah mati-matian menjaga hati hanya untuk satu nama. Aku sudah setengah sekarat menabung rindu agar bisa membayar lunas untuk bisa bertemu denganmu. Aku tengah setengah hidup membangun singgasana cinta tempat kita bersanding nantinya. Tapi apa balasanmu? Kamu malah bermain api di belakangku dengan hati yang lain. Maksudmu apa? 

Aku? Bermain api? Haha. Jangan salah paham. Sejak berkenalan dekat denganmu, aku berjanji pada diri sendiri, dan pada semesta, untuk memegang kata percaya. Percaya pada kesabaran dalam menghadapi sikapmu. Percaya pada setiap ucap yang keluar dari bibirmu. Dan percaya pada kesetiaan yang kau ajarkan. Tapi, percayaku lama kelamaan memudar, terlebih karna ulahmu. Lalu tergantikan dengan rasa curiga dan seribu tanda tanya. Benarkah yang selama ini kau ucap? Jujurkah yang selama ini kau ajarkan? Lalu.. Dari ulahmu sendiri, aku tahu.. Bahwa hatimu tak benar-benar kau jatuhkan padaku. Aku hanya kau jadikan batu lompatan untuk sekedar mengilangkan kesendirian. Bukan begitu?

Kenapa malah menyalahkan aku? Jangan membelokkan pembicaraan.

Bukan.. Ini bukan membelokkan pembicaraan. Aku hanya menyimpulkan segala analisa dari pengamatan seorang aku. Ya, karna kamu tak pernah mau mengungkapkan perasaanmu yang sebenarnya padaku, bukan? :)

Kamu ini ngelantur. Aku 'kan sudah jujur padamu atas segala rasaku. Apa kamu masih tidak percaya?

Bukan.. Ini bukan masalah percaya atau tidak. Aku.. Aku jelas percaya pada semua ucapmu. Tapi, maaf.. Hatiku cukup dibilang perasa terhadap sesuatu. Sekalipun kata yang keluar dari mulutmu adalah A, tapi dalam hatimu; aku tahu, adalah B.

Jangan berbelit-belit. Langsung intinya saja.

Jadi begini.. Awalnya aku sangat percaya, seribu persen aku percaya. Namun lama-lama aku merasa, sikapmu menimbulkan curiga. Sepertinya.. Segala hal yang kamu lakukan berfokus pada dia yang kau simpan rapat dihatimu. Sepertinya kerinduanmu terpusat pada dia yang kau kunci dalam ingatanmu. Aku.. Yang dengan susah payah mencari celah untuk sampai menuju hatimu, merasa timpang mengetahui bahwa tak ada lagi tempat untukku dihatimu. Aku kacau. Meracau tak menentu. Menggeliat kecewa pada asa dan semesta. Kenapa Tuhan menciptakan "kita" jika pada akhirnya dia yang kau simpan rapat dalam hatimu tak bisa kau singkirkan barang sebentar saja. Bukankah semua orang itu sama, akan kecewa jika yang seharusnya jadi singgasana indah hanya untuk mereka berdua, tapi malah diisi dengan seseorang yang bahkan tak diharapkan kehadirannya? 

..........

Aku telak, kan? Jadi benar; yang kamu pertahankan atas nama setia itu bukan namaku, kan? Yang kau bangunkan singgasana mewah dalam istanamu itu bukan aku, kan? Haha. Selamat, kamu sudah menutupi dengan mulus sampai-sampai aku baru menyadarinya setelah sedikit lama. Jadi hentikan usahamu dalam membangun singgasana yang kau buat sedemikian indah namun hanya kau poles dengan kebahagiaan semu itu. Hentikan, cukup. Aku tak mau lagi hidup bersama orang yang masih diikuti bayang-bayang hitam yang selalu dibawa kemanapun ia berada. Silakan pergi, jika hatimu tak pernah disini. Tak mengapa.." Selamat tinggal. :)"