Friday, August 08, 2014

Kita; Sebuah Asa Yang Sia-sia

Sumber gambar: Google
Hari Jumat pukul 2

Ting.. Ting.. Ting

Dentingan sendok dan gelas yang berisi susu coklat hangat beradu. Memecah keheningan yang beku. Yang sejak tadi menyiksa tenggorokan.

Di sini, di kedai di persimpangan jalan. Aku amati lamat-lamat, bulir-bulir hujan jatuh dengan irama syahdu. Membasahi krisan putih yang sejak tadi menatap sendu ke arahku. Bau tanah basah yang sejuk segera menyelinap ke hidungku. Hmm.. Suasana yang amat damai, menyatu dengan suara alam.

Dingin... Ya, dingin. Namun dingin kali ini sungguh berbeda. Dingin yang hampir melumpuhkan sadarku. Dingin yang seolah menjajah ingatan. Dingin yang menarik paksa kenangan yang sudah kubuang jauh-jauh. Jauh.. Jauh di sana. Di perbatasan antara benang-benang nefron di cerebrum dan cerebelum.

Lalu, lobus oksifital dalam otakku mulai aktif berproduksi. Kenangan demi kenangan lima tahun silam mulai berkelebat hebat. Hari yang sama, jam yang sama, dan tempat yang sama. Jumat tepat lima tahun lalu, di bangku yang kududuki, dua muda-mudi sedang berhaha-hihi sambil sesekali mendaratkan ciuman di kening atau pipi. Mereka adalah kita; aku, dan seorang lelaki yang bersahaja, kamu.

Ya, kita pernah dekat. Bahkan lebih dekat dari sela-sela jemari. Saat itu, dunia seperti enggan untuk berotasi. Saat itu, dunia seolah ikut merayakan bahagia. Bagiku, kau adalah semesta. Tempat bagiku untuk berpijak. Aman bergumul dengan nyaman saat berada dalam bahumu yang rindang. Rencana demi rencana baik untuk masa depan tergelar. Merasa yakin bahwa masa depan berada dalam genggaman.

Namun, semesta memang Maha Bercanda. Kamu, yang kemarin masih kugenggam rapat, kini memaksa untuk bebas. Menggeliat, mencipta gelisah dan amarah. Lalu, kita yang sama-sama mendewakan ego, memilih jalan yang sama sekali berlawanan dengan rencana masa depan kita.

Hujan diluar mulai reda. Namun yang kurasakan malah derasnya ingatan tentang getirnya luka yang kini berduka.

Sebuah kita; yang dulu sering kau dan aku ucap, sepertinya telah haram untuk kini direcap.

Semakin keras tamparan semesta bahwa kita adalah sebuah asa yang sia-sia. Ah... Tetiba saja mataku sudah dipenuhi lautan. Lalu tumpah ruah menjadi tangisan. Deras.. Seperti hujan hari Jumat tadi siang.

No comments:

Post a Comment