![]() |
| Sumber gambar: Google |
Sayang, bagaimana tidurmu tadi malam? Masih pulaskah walaupun tanpa dekap erat pelukku?
Sayang, pulang dengan selamatkah kamu, setelah kita melebur rindu di cafe pinggir jalan tadi malam?
Sayang, maaf. Malammu mungkin tak pernah hangat. Maaf jika malammu tak pernah kuisi, karna aku harus menemani cinta yng seharusnya kutemani.
Sayang, maaf. Sejak awal memang akulah yang salah. Hatiku sudah dipenuhi cintanya, namun masih saja jatuh tiap kali senyum itu terukir dari bibirmu.
Sayang, maaf. Aku selalu menomor-duakan kamu. Namun tak usah kau tanyakan seberapa besar cintaku padamu. Cobalah hitung hujan yang turun dari semesta, maka sebesar itulah cinta ini untukmu.
Sayang, maaf. Aku harus membagi hati ini. Aku hanya manusia biasa. Tak cukup satu untuk bisa hadirkan bahagia. Lalu kemudian aku mendua.
Sayang, maaf. Kamu tak pernah kutunjukkan pada teman-temanku. Bukankah cinta tak perlu dipertontonkan? Bukankah cinta ini cukup kita yang rasakan?
Sayang, maaf. Kamu yang selalu aku sembunyikan. Aku memang pengecut. Tak berani ucap sebenarnya kepada mereka.
Sayang, maaf. Gara-gara aku, kamu dilabeli pengganggu hubungan orang. Siapa yang terganggu? Aku bahagia dengan kehadiranmu. Bahkan aku rela kau ganggu seumur hidupku. Bagiku, merekalah pengganggu dalam hubunganku. Bukan kamu.
Sayang, tetaplah menjadi rumah keduaku. Tetaplah menjadi bahagia keduaku. Tetaplah merampas setengah hatiku. Tetaplah menjadi pengganggu dalam hidupku. Dan tetaplah menjadi kekasih gelapku.
-Tertanda: Hati yang telah terbagi-

No comments:
Post a Comment