![]() |
| Sumber gambar: Google |
Ada kenang yang tiba-tiba datang
Kenangan tentang semua yang hilang
Sebuah kenang tentang masa silam
Kenang yang tinggal puing karatan
Kenang yang terpaksa dipusarakan
Ada rindu yang kini menyusup
Lembut, menyelinap masuk
Mengisi ruang kosong dalam lubuk
Tak tahu diri, mencacah jiwa yang masbuk
Rinduku yang kepalang
Dengan asyik kau permainkan
Rinduku meminta segera terselesaikan
Namun ujarmu kubur dalam-dalam
Ah... Entahlah
Mungkin cinta ini hanya aku yang rasakan
Karna bagimu, aku hanyalah sebuah permainan
Yang kau cari-cari saat sepi melanda diri
Dan dengan seenaknya melenggang pergi saat bosan menghampiri
Tidak begitu, Tuan
Jika kau tak berniat hadirkan pelangi
Jangan malah kau rusak warnaku yang asli
Ini bukan perkara mengkhianati
Namun bagaimana cara memperjuangkan sebuah hati
Asamu kurawat
Cacatmu kudekap
Lebihmu kuungkap
Lalu balasmu menyayat
Kau pergi tak berucap
Menyisakan rindu yang keparat
Menyiksa rasa mengundang sekarat
Aku kalap
Kau pencipta duka yang hebat
Selamat
Kenangan tentang semua yang hilang
Sebuah kenang tentang masa silam
Kenang yang tinggal puing karatan
Kenang yang terpaksa dipusarakan
Ada rindu yang kini menyusup
Lembut, menyelinap masuk
Mengisi ruang kosong dalam lubuk
Tak tahu diri, mencacah jiwa yang masbuk
Rinduku yang kepalang
Dengan asyik kau permainkan
Rinduku meminta segera terselesaikan
Namun ujarmu kubur dalam-dalam
Ah... Entahlah
Mungkin cinta ini hanya aku yang rasakan
Karna bagimu, aku hanyalah sebuah permainan
Yang kau cari-cari saat sepi melanda diri
Dan dengan seenaknya melenggang pergi saat bosan menghampiri
Tidak begitu, Tuan
Jika kau tak berniat hadirkan pelangi
Jangan malah kau rusak warnaku yang asli
Ini bukan perkara mengkhianati
Namun bagaimana cara memperjuangkan sebuah hati
Asamu kurawat
Cacatmu kudekap
Lebihmu kuungkap
Lalu balasmu menyayat
Kau pergi tak berucap
Menyisakan rindu yang keparat
Menyiksa rasa mengundang sekarat
Aku kalap
Kau pencipta duka yang hebat
Selamat

No comments:
Post a Comment