![]() |
| Sumber gambar: favim |
Sepertinya waktu, dengan tega menebas segala asa yang kita punya.
Aku, dan kamu. Kita berdua, sepertinya telah menyepakati satu hal, menjauh.
Aku, tak lagi tertarik untuk menceritakan hal-hal yang aku alami seharian penuh padamu.
Dan kamu, yang tak lagi melibatkan aku dalam urusanmu.
Kita, sepertinya telah sama-sama setuju. Menarik kehadiran kita, menghilang dalam sisa-sisa putus asa dan kecewa.
Aku, sebenarnya masih menyimpan asa, merawat kotak isi cerita, lalu kuharap bisa membaginya menjadi dua denganmu. Hingga penuh kotak itu, kamu bahkan tak pernah sedikitpun berkeinginan menjamahnya. Kemudian aku sadar, kotak itu hanyalah seonggok sampah tak bernilai di matamu. Yayaya, siapalah aku ini? Tak penting buatmu. Buang saja kotak itu. Aku bahkan tak berniat menyimpannya kembali. Bagiku, mengisi kotak cerita untuk kubagi denganmu adalah pekerjaan yang sia-sia. Kenapa? Karna kamupun tak ada keinginan untuk kuberi setengahnya.
Kamu, kurasa tak lagi membutuhkan aku untuk berada disisimu lagi. Kamu kini telah menjadi pribadi kuat dan tegar. Tak butuh penghambat kemajuan karirmu macam aku. Tak butuh perhatian "Jangan lupa makan" dari wanita seperti aku. Kamu sudah tak lagi melibatkan aku dalam setiap urusanmu. Lalu, apalah gunanya aku buatmu? Patung? Lukisan? Yang hanya dipajang dan tak pernah dibutuhkan? Oh Tuhan.
Kalau memang seperti ini adanya, mungkin lebih baik aku mundur saja. Tak ada gunanya kita terus bersama jika hanya jenuh yang dirasa. Coba kita berkaca. Kita seperti mayat. Berjalan berdua tanpa gairah. Bukan ini yang seharusnya kita damba. Melainkan kebahagiaan yang sebagaimana mestinya.
Maaf pikiranku sedang kalut. Hingga terbersit ke-putus asa-an dalam menjalani sebuah kita, dan terpikirkan untuk mengakhirinya saja. Namun aku tahu, ini bukanlah jalan terbaik. Maka, anggap saja semua kata-kataku di atas hanya angin lalu. Mari kita saling mempertahankan. Jika jenuh yang dirasa, mari kita mencari cara agar segar seperti sediakala. Ya, kita. Kamu, dan aku. Kita berdua. Hingga suatu masa dimana Tuhan menginginkan kita memenuhi takdir-Nya.

No comments:
Post a Comment