Friday, December 20, 2013

Memorable (Part 2)

Kehadiranmu ditengah-tengah hubungan yang sedang aku jalin dengan teman baikmu saat itu membuatku sedikit mengacuhkannya. Sikapmu yang lebih memperhatikanku dan memanjakanku dari pada dia, memaksaku untuk mengabaikan kehadirannya. Sebentar, bukan memaksa. Buktinya, aku senang-senang saja mengabaikan sahabatmu itu. Mungkin lebih tepatnya, sikapmu menarikku untuk mengabaikan kehadirannya. Ya, aku sudah mulai berani bermain api denganmu. Di usia yang begitu muda aku sudah berani bermain-main dengan hati seseorang. Dan di usia yang masih belia itu aku sudah berani mengkhianati seseorang. Jahat ya! Tapi siapa yang patut disalahkan atas kejadian itu? Apakah harus menyalahkan cinta? Aku rasa tidak. Karna cinta bebas menghinggapi setiap orang yang masih punya hati. Aku dan kamu tentu masih punya hati kan?
Ataukah menyalahkan aku. Kenapa? Apa yang salah denganku? Aku sudah bersikap sesetia dan sebaik mungkin dengan sahabatmu itu. Akupun tidak mau aneh-aneh dalam sebuah hubungan. Tak pernah menuntut dan mendikte pasangan harus begini atau harus begitu, kok. Atau mungkin menyalahkan kamu. Ya, kamu yang datang disaat yang tidak tepat sama sekali. Ya, kamu yang datang membawa sejuta perhatian yang siap kau tumpahkan kepadaku. Oooh tidak. Aku tak terima orang-orang menyalahkanmu! Atau, semua akar permasalahan itu bersumber dari pacarku? Sahabatmu? Ya, dia yang tak pernah memberikan perhatian layaknya kamu. Ya, dia dan sikap cueknya yang tak pernah menunjukkan bahwa aku ini istimewa. Sedangkan kamu yang memperlakukanku bak orang yang begitu penting dalam hidupmu, tentu saja aku luluh dan jatuh kepadamu dan berpaling darinya! Ya, salahkan saja sahabatmu. Karnanya aku mencari kebahagiaan dari orang lain, bukan darinya. Dan semua itu kudapat darimu. Aaah aku tak tahu. Kadang pertanyaan itu tak perlu jawaban, bukan?
Hingga pada suatu hari, aku membulatkan tekadku untuk mengakhiri hubunganku dengan pacarku, yang sekaligus teman baikmu. Aku berpikir, lebih baik aku akhiri sekarang saja karna sekarang dan nanti akan sama saja. Sama-sama mengecewakan hatinya. Aku pikir, setelah aku akhiri hubunganku dengannya maka aku akan bisa bersama-sama denganmu lebih leluasa tanpa dianggap orang lain selingkuh. Mungkin jika kalian berada di posisiku, kalian akan melakukan hal yang sama, bukan? Ya, dan aku memutuskannya hari itu juga. Tak susah untuk mengungkapkan kata “putus” padanya. Meskipun sedikit kutangkap ekspresi kaget dari wajahnya, namun aku berusaha meyakinkannya bahwa aku sedang ingin sendiri. Ya, aku berbohong. Di usia semuda itu, pada seseorang.
Aku senang akhirnya bisa leluasa bersamamu tanpa sembunyi-sembunyi lagi. Tapi, hey ini bukan akhir. Aku merasa terbang terlalu tinggi saat bersamamu. Kau terlalu melambungkan mimpiku tanpa pernah sedikitpun menyiapkan matras untukku jika suatu saat aku terjatuh. Bukan aku yang sengaja jatuh, tapi kamu dengan sikap jailmu dan kesengajaanmu yang mematahkan segala harapanku hingga akhirnya aku terjatuh keras ke bumi. Keras, tanpa matras atau apapun itu. Keras, dan sakit. Itu yang kurasakan. Aku terjatuh, sendirian. Tanpamu. Karenamu. Sebabmu. Saat aku mencoba bangkit, aku tak kuasa menahan bebanku. Setelah aku telusuri setiap bagian diriku, kudapati ada satu bagian yang hancur. Hati. Ya, hatiku telah hancur. Remuk, lebih dari berkeping-keping tersebab olehmu. Lantas aku tak bisa berbuat apa-apa karena aku sudah tidak punya daya. Hatiku sakit, bagaikan ribuan mata pedang yang dengan sengaja dan seenaknya kau tancapkan begitu saja ke ulu hatiku. Sakit. Duniaku kelabu, mendung. Abu-abu.
Sumber gambar: Google
Aku ingin marah. Kenapa tak aku siapkan sendiri saja matras agar saat aku terjatuh olehmu, aku masih bisa melompat kembali dan mensejajari langkahmu. Tapi apa dayaku? Hei! Kenapa kamu setega itu menjatuhkan aku? Aku kira kamu adalah orang yang benar-benar tulus mencintaiku. Aku kira kamu adalah orang baik yang tak mungkin tega dengan sengaja mematahkan anganku. Aku kira kamu akan menyiapkan matras untukku saat aku terjatuh. Cuih! Omong kosong. Kamu bahkan dengan tanpa merasa bersalah melambaikan tangan ke arahku. Seakan mengucapkan “Selama tinggal, ya! Hati-hati jangan mudah dibodohi.” kearahku.aku tersenyum kecut. Sakit. Seperti luka yang disiram dengan air garam. Benar-benar sakit. Seharusnya aku sadar dari awal bahwa sikapku dan sikapmu itu salah. Seharusnya aku sadar aku dan kamu tidak boleh melukai hati orang lain jika ingin bersama. Seharusnya aku sadar dari awal.
Sumber gambar: Google
Ya, mungkin Tuhan ingin memberiku satu dari ribuan pelajaran berharganya. Mungkin Dia ingin menyampaikan bahwa "sesuatu yang berawal dari hal yang tidak baik tidak akan menjadi akhir yang baik". Satu pesanku, kalian yang membaca ini jangan suka bermain api, ya? Jika api itu membesar maka dia akan melahap kalian tanpa ampun. Seperti kamu dalam cerita ini, API.

No comments:

Post a Comment