Friday, December 27, 2013

Orang Itu.......


Pernah sakit?
Pernah kecewa?
Pernah dikecewain?
Pernah dikhianatin?
Pernah merasakan hati hancur?
Pernah merasakan uring-uringan sendiri?
Pernah?!
Yakin, pasti semua pernah merasakan hal seperti diatas. Tak terkecuali aku, kamu, dia, kita, dan mereka. Seperti halnya aku. Aku pernah hampir mati. Fisik masih utuh, namun jiwaku seperti tiada. Hatiku hancur. Sehancur-hancurnya. Dikhianati oleh orang yang aku kasihi sepanjang waktu. Bahkan mungkin walaupun orang itu menyakitiku berulang kali, aku masih mengasihinya. Entah apa yang membuat diriku sehina ini untuk terus memujanya. Merindunya. Bahkan masih mengharapkannya. Padahal aku tahu, dan sepenuhnya sadar, orang itu tak mungkin kembali kesini, disisiku. Karena aku sadar sesadar-sadarnya orang itu sudah bahagia dengan pilihannya.
Sebentar. Aku tak sepenuhnya mengharapkan orang itu kembali. Aku hanya…… Hanya ingin tahu saja apa alasannya menghancurkan hatiku. Aku hanya ingin tahu saja alasan dia mengajakku terbang. Menggenggam erat tanganku. Membawaku terbang tinggi. Tinggi. Sampai menembus awan tebal, melewati lapisan langit pertama, kedua, ketiga, dan seterusnya. Tinggi. Sampai-sampai aku tak bisa melihat daratan di bumi. Tinggi. Tinggi sekali. Sampai-sampai badanku terasa ringan, melayang-layang seperti seorang astronaut yang sedang berada di bulan. Kemudian aku baru sadar orang itu membawaku terlalu tinggi. Terlalu jauh dari daratan. Tapi aku sedang melayang-layang, bersamanya. Disisinya. Dalam genggaman yang mendamaikanku. Selalu.
Namun, orang itu melakukan hal yang tak pernah kupahami. Orang itu, aku rasa, mengendorkan genggaman. Aku rasa, genggamannya mulai renggang. Namun orang itu tetap terbang. Sedangkan aku, sedikit oleng. Orang itu tetap terbang, tetap menengadah ke atas. Sedang aku, dirundung ketakutan karna aku tak bisa menyeimbangkan penerbanganku. Aku takut karna aku sudah terbang terlalu tinggi. Aku takut karna daratan terlalu jauh. Aku takut jatuh. Tapi orang itu tetap santai. Dan aku merasa, ada yang mengganjal. Sepertinya orang itu, dengan sengaja, mendorongku sangat kuat. Mengempaskan ragaku yang ringan bak melempar segenggam kertas lusuh ke jalanan.
Dan dengan tanpa paksaan, tanpa perlawanan, aku meluncur ke bumi. Gedebum! Keras sekali. Tanpa ada matras. Sakit. Ragaku berasa remuk. Tulangku serasa patah. Namun ada yang lebih sakit. Aku raba seluruh bagian tubuhku. Lebam. Tapi ada yang terasa lebih sakit. Setelah kutelusuri lebih dalam, ternyata ada yang pecah. Berkeping-keping. Hati. Remuk. Hancur. Tak berbentuk. Tak berdarah juga. Tapi terasa sakit. Aku coba bangkit, dengan berderai air mata. Namun tulang-tulangku tak kuat menyangga berat badanku sendiri. Aku tergeletak tak berdaya. Melihat sekeliling, mencari bantuan. Kemudian menengadah ke langit. Mencari sosok orang itu. Aku terperanjat. Kaget. Orang itu, aku kurang jelas. Penglihatanku kabur saat itu dikarenakan air mata yang terus turun. Namun dapat kupastikan, tangan kanannya sedang melambai-lambai ke arahku. Menertawakan keadaanku. Tawanya yang membuatku ingin segera menamparnya, namun aku tak berdaya.
Aku dibuat mati penasaran oleh orang itu. Apa motifnya melakukan hal seperti itu kepadaku. Jika menginginkanku pergi, minta saja. Katakan saja, punya mulut kan? Aku pasti juga akan pergi karena aku cukup tahu diri dan masih punya harga diri. Aku juga tidak sudi bersujud meminta orang itu untuk kembali. Tidak. Aku hanya perlu tahu alasannya. Bukan apa-apa. Tak ada yang lain. Tak ada keinginan kembali. Karena aku tahu, orang itu bukanlah orang yang baik untukku. Aku tahu, karena Tuhan membisikkan kepadaku bahwa orang itu bukanlah orang yang baik untuk menemaniku. Setidaknya, just give me a reason just a little bit enough lah!
Sumber gambar: favim

No comments:

Post a Comment