"Goodnight, my shinning star.”
Ya, itu adalah kutipan pesan singkat yang setiap malam selalu aku kantongi dari seseorang. Dari masa sekarangku. Hey, kamu, masa lalu dalam cerita “Memorable”. Masih ingat janjiku yang akan menceritakan padamu siapa sih yang sudah dengan berani mengalihkan duniaku darimu. Kamu penasaran, bukan? Semoga saja kamu masih penasaran. Kamu pasti bertanya-tanya, pria mana yang telah berhasil membuatku lupa segala sesuatu yang berbau namamu. Ya, kan? Dan kamu pasti heran, lelaki mana yang bisa menggantikan tempatmu di hatiku. Haha. Sudahlah jangan merengut begitu. Ikhlaskanlah. Toh kamu sudah punya wanita yang lebih bisa membahagiakanmu. Sekarang ganti aku yang bertanya, “Memangnya aku ndak bisa mencari kebahagiaan lain selain darimu?”
Sudah kamu jangan cemburu. Apa hakmu? Sekarang lihat aku. Aku bisa kembali berdiri dengan setegak-tegaknya dengan hati yang, ya walaupun penuh dengan perekat di sana-sini. Kamu tahu berkat siapa? Berkat dia, MALAIKATKU. Ternyata aku baru sadar tentang kehadirannya baru-baru ini. Padahal dia duluu, ya dulu yang pernah mencoba menyelamatkanku dari remuknya hatiku akibat ulahmu. Dia dulu yang pernah mencoba menghiburku, namun aku, dengan sikap keras kepalaku masih mengharapkan kehadiranmu. Ya, pria mana yang mau menjalin hubungan dengan wanita yang masih terus dibayang-bayangi dengan masa lalunya. Tidak ada, kan? Bodohnya aku, ya? Sudah kamu jangan nenertawakanku! Aku benci dengan senyum manis berlesung pipitmu itu!
Kau tahu? Malaikatku ini orangnya unik. Lebih unik darimu. Hey, maaf! Kenapa aku malah membanding-bandingkannya denganmu? Kamu tidak ada apa-apanya jika dibanding dia. Kamu? Kalah jauh! Kau tahu? Dia berani menemuiku dirumahku, malam minggu. Ke rumah anak gadis yang terkenal pendiam. Kau tahu? Dia berani berbincang-bincang dengan ayahku yang terkenal galak dan cuek. Kau tahu? Dia menguatkan mentalnya menemuiku dirumah ketika keluargaku berkumpul. Kau tahu? Dia yang selalu menyemangatiku dan mewarnai hidupku menjadi ribuan warna, lebih dari warna pelangi yang hanya sekedar mejikuhibiniu. Kau tahu? Dia selalu berusaha merangkul hatiku agar aku mau terbuka dengannya, menceritakan kesedihanku padanya. Kau tahu? Dia berusaha menghilangkan sekat pengalang antara aku dan dia, agar aku tak segan-segan untuk berbagi suka dukaku dengannya. Kau tahu? Dia selalu berusaha mensejajari apa maunya hatiku.
Kau tahu? Dia selalu berusaha menjadi sandaran saat aku sedang lemah tak berdaya, padahal sebenarnya aku tahu dia juga sedang membutuhkan sandaran pula. Kau tahu? Dia berusaha menjadi batu karang yang siap menerima luapan ombak kekesalanku akibat kepenatan dunia, padahal aku tahu dia juga sedang rapuh akibat tuntutan duniawi. Kau tahu? Dia berusaha menjadi alarm berjalan untuk sekedar mengingatkanku jangan lupa sholat, padahal aku tahu dia sedang ngantuk-ngantuknya. Kau tahu? Dia berusaha meluapkan segenap perhatian dan kasih sayangnya kepadaku, padahal aku tahu sebenarnya dia juga butuh perhatian dan kasih sayang. Kau tahu? Dia selalu mengingatkanku jangan lupa makan dan jaga kesehatan kepadaku bak dokter, padahal sebenarnya aku tahu dia juga belum tentu ingat makan dan menjaga kesehatannya sendiri.
Kau tahu? Dia selalu berusaha ada untukku sekalipun dia super sibuk. Kau tahu? Dia selalu menyapaku dan memberiku semangat lewat pesan-pesan singkatnya sekalipun dia sedang dalam keadaan sakit. Kau tahu? Dia selalu berusaha tersenyum dan bahagia didepanku sekalipun hatinya sedang dirundung gundah gulana. Kau tahu? Dia selalu berusaha tegar dihadapanku sekalipun dia sedang rapuh saat itu. Kau tahu? Dia berusaha memaklumi sikap kekanak-kanakanku sekalipun dia muak dan kesal meladeniku. Kau tahu? Dia selalu menghargai pendapat dan argumenku sekalipun hatinya berontak. Kau tahu? Dia selalu mendengarkan segala celotehanku sekalipun kupingnya panas dan hatinya bosan.
Dia adalah penyemangatku. Dia adalah sandaranku. Dia adalah batu karangku. Dia adalah alarm berjalanku. Dia adalah dokterku. Dia adalah pelangiku. Dia adalah pensil warnaku yang siap membantuku mewarnai dan memaknai hidup. Dia adalah pendengar setiaku. Dia adalah penuntunku. Dia adalah malaikatku.
Aku bersyukur Tuhan mempertemukanku kembali dengannya saat ini. Ya, aku ingat dulu Tuhan mempertemukanku dengannya melalui cara yang mungkin sedikit basi, melalui salah satu social media yaitu twitter. Itu karena ulah saah satu temanku yang selalu menggodaku, yang aku tanggapi dengan guyonan pula. Dia pun ikut nimbrung menggodaku tanpa ada niat apa-apa saat itu. Tapi kemudian mention-ku dan dia berlanjut ke Direct Message atau yang biasanya dikenal dengan DM. Awalnya dia meminta maaf karena ulahnya takut menimbulkan kecemburuan dari pacarku, padahal saat itu posisiku sedang sendiri. Ya, satu rahasiaku terbongkar. Dia tahu aku masih sendiri, dan posisinya juga saat itu telah sendiri, ya dia baru beberapa bulan yang lalu berpisah dengan kekasihnya. Sehingga dia mulai gencar melakukan personal message lewat nomor handphoneku, hingga sekarang. Basi, ya? Tapi tak apalah. Memangnya kenapa? Tuhan kan punya beribu-ribu cara untuk mewujudkan segala takdirnya.
Ya, Tuhan mempertemukanku dengannya saat dimana aku sudah sedikit melupakanmu karna waktu telah menjadi senjataku untuk memungsuhimu sejak dulu. Mungkin jika aku dengannya sudah dekat sejak dulu, maka akan lain ceritanya. Tak akan ada cerita-cerita dimana aku diapelin setiap malam minggu olehnya karena aku masih dilarang pacaran, ingat aku kan masih SMA sebelum dekat dengannya. Tak akan ada cerita dimana segenap keluargaku menerima kehadirannya. Dan tak akan ada cerita dimana ayah dan kakakku merestui hubunganku dengannya. Tak akan ada. Terimakasih, malaikatku. Kau datang disaat yang tepat.


No comments:
Post a Comment