Saturday, December 21, 2013

Kepada yang Bernama "Kehilangan"


Kalian pernah merasakan kehilangan? Entah itu kehilangan barang yang kalian sukai, entah itu ide yang sudah kau awang-awangkan, atau bahkan kalian merasakan kehilangan seseorang yang amat sangat kalian sayangi. Aku pernah. Bagaimana rasanya? Kesal kah? Marah? Kecewa atau bahkan kalian lumpuh? Entahlah, aku sendiri tidak bisa mendefinisikan bagaimana perasaan yang sedang aku alami saat aku menghadapi kehilangan. Bagiku, bagian organ tubuhku yang bernama “hati” terasa pedih, sakit, hancur berkeping-keping, namun anehnya tak berdarah ataupun bernanah. Aneh. Tapi sakitnya tak terperikan. Aneh. Tapi hancurnya lebih dari berkeping-keping. Aneh. Tapi terasa pedih, sangat pedih, oh tidak… amat sangat memedihkan.
Di dunia ini, aku pernah berkali-kali menghadapi kehilangan. Dan setiap kali “kehilangan” itu datang, aku tak kuasa untuk menatapnya. Bagiku, “kehilangan” adalah satu kata dalam kamus Bahasa Indonesia yang harus dimusnahkan. Agar tak ada lagi ribuan air mata yang jatuh karenanya. Agar tak ada lagi hati yang dihancurkan karena kehadirannya. Agar tiada lagi kecewa yang menyelinap ke dada karena perbuatannya. Kamu pernah kehilangan apa? Barang yang kalian suka? Pacar? Hahaa biasa. Aku? Aku berkali-kali kehilangan orang yang aku cintai. Aku berkali-kali menjatuhkan air mata untuk mereka. Aku berkali-kali mencoba bangkit setelah dikecewakan dengan “kehilangan” akan sosok mereka. Aku berkali-kali merekatkan serpihan hati yang telah hancur berkeping-keping karena “kehilangan” mereka.
Ibu. Dia adalah orang pertama yang memaksaku menghadapi “kehilangan”. Memaksaku menerima keadaan setelah adanya “kehilangan” yang rasanya tak lagi sama seperti sebelumnya. Di usia yang masih sangat muda aku terpaksa menghadapi segala macam bentuk serangan yang bernama “kehilangan”. Kedua adalah seseorang yang bernama kakek dan nenek. Mereka, adalah pengganti seseorang yang kupanggil “ibu”. Menggantikan sosoknya untuk merawatku, tapi “kehilangan” kembali mengambil mereka dari sisiku. Aku kehilangan lagi. Aku menangis lagi. Aku hancur lagi.
Selanjutnya, seseorang. Yang begitu aku sayangi, dan aku yakin ia juga menyayangiku. Siapa? Pacar? Bukaan! Ia lebih dari pacar. Ia adalah pengganti sosok “IBU” dalam perjalanan hidupku. Aku sebut ia “Kakak Perempuan”ku. Dengannya kutemukan sumber kesejukan. Dengannya kutemukan kasih sayang yang sempat terputus dari sosok “IBU”. Dengannya, kami bersama-sama menghadapi “kehilangan” yang kerap menghampiri hidupku. Selama seperempat abad aku bersama-sama dengannya. Selama seperempat abad aku merengek-rengek di pangkuannya. Ya, aku sudah menganggapnya bak Ibuku sendiri. Tapi, kali ini, sekarang, sesuatu yang bernama “kehilangan” kembali datang. Merebutnya dariku. Entah suaminya yang menghidangkan “kehilangan” tepat didepanku atau memang “kehilangan” ini memang dasarnya usil. Entahlah, aku tak tahu! Bukan. Bukan kehilangan yang berupa kematian. Hanya saja hidupnya kini diabdikan kepada suaminya. Bukan untuk mendampingi perjalanan hidupku, tapi untuk menemani suaminya merenda kebahagiaan dan kehidupan keluarga kecil mereka. Tapi tetap saja kan itu namanya kehilangan? Iya. Sudahlah kalian jangan bawel. Dengarkan saja ceritaku. Ya, aku mengalami “kehilangan” lagi kan? Sepertinya “kehilangan” sangat gemar menghampiri kehidupanku. Entah apa yang ia sukai dengan hidupku sehingga merebut setiap orang yang aku sayangi.
Tapi……… Aku masih punya seseorang lagi yang amat sangat aku sayang. Dia, yang selanjutnya aku panggil dengan sebutan “Ayah”. Ia, satu-satunya yang kumiliki saat ini. Satu-satunya penuntun hidupku, satu-satunya harta berharga yang kumiliki. Semoga Tuhan kali ini agak menghadang seseorang yang bernama “kehilangan” untuk sedikit lebih lama mampir kedalam kehidupanku.
Tapi……… sebentar. Sepertinya aku juga menemukan seseorang lagi yang berharga dalam hidup selain “Ayah”. Entah aku menemukannya tanpa sengaja ataukah Tuhan sudah mengaturnya. Siapa dia? Dia temanku. Teman lelakiku. Apa? Yakin hanya teman? Ng……… Terserahlah apa kata kalian. Bahunya sangat kokoh, bahu terkokoh kedua setelah “Ayah”. Bahu tempat dimana aku menyandarkan segala masalahku. Telinganya sangat lebar, telinga terlebar setelah “Ayah”. Telinga tempat dimana aku mencurahkan segala keluhanku. Hatinya sangat luas, hati terluas kedua setelah “Ayah”. Hati tempat dimana aku bertingkah salah tapi selalu saja ada maaf darinya. Mulutnya sangat bawel, mulut terbawel kedua setelah “Ayah”. Mulut tempat dimana aku diingatkan untuk tetap hidup mandiri, menerima segala cobaan.
Semoga Tuhan kali ini mendengar doaku. Semoga kali ini “kehilangan” sedikit mengerti apa maunya hatiku. Sedikit menunda kehadirannya ke dalam hidupku. Semoga dua orang itu tak harus menghadirkan “kehilangan” kedalam hidupku. Semoga Tuhan mendengar untaian “semoga”ku. Ya, semoga. Amin

No comments:

Post a Comment