Pagi ini aku ingin menulis tentang kamu. Ya, kamu. Yang dulu pernah nenghiasi hatiku. Ya, kamu. Yang dulu pernah menjadi bagian dari hidupku. Ya, kamu. Yang dulu pernah menemani seperempat dari seperempat perjalanan hidupku. Haha. Seperempat dari seperempat? Iya. Singkat sekali. Bahkan tak sampai menahun. Tentang kamu, yang tak lagi ada disini, disisiku. Menemaniku. Tentang kamu, penghancur hatiku.
Hey, kamu apa kabar? Aku dengar, kamu sudah punya pacar baru ya? Iya? Oh.. Selamat, ya! Sebentar, akan aku interupsi perkataanku tadi. Aku tidak hanya mendengar, tapi melihat dengan mata kepalaku sendiri. Asal kamu tahu, tiap pagi dan malam aku memantau akun facebookmu. Merefresh kronologimu. Hingga aku shock saat menemukan sebuah foto yang kamu jadikan sampul halaman facebookmu. Ya, itu fotomu kan? Dengan pacar barumu? Mataku mengatakan itu adalah foto saat kamu dan pacar barumu merayaan ulang tahun. Entah siapa yang merayakan untuk siapa, aku tak mau tahu lagi keadaanmu sejak aku tahu kamu sudah punya kekasih baru. Sepertinya kamu tidak cocok dengan dia. Hah, ngomong apa aku ini? Haha maaf, ya? Apa? Kamu menganggapku cemburu? Jangan GR dulu! Aku tak akan lagi mencemburuimu dekat dengan wanita lain. Tidak akan. Karena, apa hakku mencemburuimu? Tapi akan aku kemukakan alasan lain. Karena aku sudah punya seseorang pengganti sosokmu. Nanti, nanti akan aku ceritakan seseorang yang telah mampu mengalihkan segala duniaku yang awalnya tertuju padamu hingga akhirnya duniaku berpaling dari kamu. Iya nanti akan aku ceritakan bagaimana dia, hidupnya, dan segala caranya untuk menarikku kembali ke alam sadar. Alam dimana aku sudah tidak punya daya untuk mendampingi hidupmu. Iya nanti saja ya? Sekarang aku kan sedang membahas kamu!
Mengenai kecocokanmu dengan pacar barumu itu…. Ya, aku mengakuinya. Kamu sangat cocok dengannya. Sepertinya kamu bahagia ya? Hey, kok aku seperti orang bodoh begini sih? Jelas kamu bahagia lah. Kalo tidak bahagia, kenapa sampai sekarang masih bertahan. Ya kan? Iya, maaf maaf. Mungkin aku grogi. Iya, grogi. Sudah tahunan kita kan sudah hilang komunikasi. Blaaaaassss. Mangkanya aku grogi tiap bercakap-cakap denganmu, hehe. Maaf ya.
Aaah apalah arti sebuah hubungan yang masih dipertahankan sampai sekarang. Mungkin saja kamu sebenarnya sudah ingin berpindah ke lain hati karena bosan dengan sikap pacarmu. Atau mungkin pacarmu sudah tidak tahan lagi menghadapi keegoisanmu. Atau kalian sama-sama ingin berpisah tapi tak ada yang berani memulai. Atau mungkin kalian sama-sama bosan, ingin mencari kesenangan dari orang lain tapi kalian takut untuk berkata saling jujur sehingga kalian sama-sama memutuskan untuk berselingkuh. Aaah rahasia hati, hanya Tuhan dan si pemilik hati itu kan yang tau?
![]() |
| Sumber gambar: Google |
Hey, kamu masih ingat bagaimana dulu “kita” saat menjadi sepasang kekasih? Ya, “kita” yang sekarang tak lagi menjadi “kita”. Masih kan? Jangan, jangan tanya aku. Aku tentu tak hanya mengingatnya, aku bahkan menghafal setiap moment-moment ketika “kita” bersama-sama dulu. Kamu ingat? Dulu kamu sering menjahiliku dengan mencabut pita rambutku. Setelah berhasil meraih pita itu dariku, kaupun berlari menghindari kejaranku. Rasanya aku ingin menggaprek wajahmu saja saat itu. Tapi kamu dengan ketawa mengejek sambil menjulurkan lidah malah semakin gencar menggodaku. Mataku hampir mau berlari sendiri ketika aku dengan dada penuh kekesalan memelototimu. Tapi reaksimu? Kamu malah senyum-senyum sendiri. Mungkin itu kode darimu yang ingin melihatku tampil dengan rambut terurai. Hingga aku lelah meladeni kejailanmu dan berhenti mengejarmu, akhirnya kaupun mengembalikan ikat rambutku sambil mengucek-ucek poniku sampai berantakan. Satu kata, luluh. Kamu jail!
Aku ingat pertama kali kita berkenalan. Saat kamu dan aku ditakdirkan untuk menjadi satu kelompok dalam sebuah tugas bahasa Indonesia, tugas bermain drama. Saling bertukar nomor telepon dan mulai intens berbincang. Tentu saja berbincang masalah tugas itu. Mulai intens bersama-sama, tentu saja untuk mengerjakan tugas. Mulai dekat karna pacarku dulu adalah teman baikmu. Kebersamaan “kita” berlanjut di pesan singkat. Ya, kamu tak ragu mendekatiku walaupun kau tahu aku sudah punya pacar. Ya, kamu tak ragu mendekatiku walaupun kau tahu pacarku adalah teman baikmu. Kamupun tak segan-segan memberikan perhatian lebih kepadaku. Gurauan-gurauan aneh yang kau tunjukkan membuatku sedikit demi sedikit mulai memperhatikan ke’ada’anmu. Perhatian-perhatian kecilmu membuatku sedikit demi sedikit mulai memperhatikan sosokmu. Ya, wanita memang lemah jika sudah menyangkut perhatian dari seorang lelaki. Wanita akan dengan mudah luluh akan perhatian dan pengertian seorang lelaki. Bukankah memang wanita ingin dimengerti dan dikasihi?

No comments:
Post a Comment