![]() |
| Sumber gambar: Google |
Namun belakangan aku sadar, sepertinya apa yang aku percaya selama ini adalah salah. Aku terlalu yakin ia bisa benar-benar menyelamatkanku dari rasa terluka di masa yang lalu. Aku terlalu berharap ia bisa menjadi bagian dari hidupku. Aku terlalu bodoh untuk mempercayai hal-hal mustahil seperti itu. Namun itulah aku. Aku yang bodoh. Aku yang mudah percaya pada sesuatu yang belum terbukti kebenarannya. Dan aku yang gampang ditarik-ulur oleh hal yang bernama harapan.
Aku sepenuhnya menyadari, aku tak bisa menyejajari langkahnya. Tak bisa mengimbangi hidupnya. Berjalan bersamanya terasa berat sebelah, timpang. Berurusan dengan hidupnya terasa terengah-engah, lelah. Berdiri disisinya terasa tak pantas. Mengisi sela jemarinya terasa tak tahu diri.
Entahlah apa yang hatinya rasa, namun kali ini aku benar-benar katakan aku ingin menyerah. Aku menyerah pada semuanya. Pada harapan yang aku dan dia ukir. Pada hati yang saling terpaut. Aku menyerah dengan langkah-langkah ini. Aku memilih berhenti melangkah bersamanya. Aku berhenti terengah-engah. Aku berhenti berat sebelah. Aku biarkan ia mencari yang seimbang, bukan yang timpang. Aku biarkan ia mencari yang kuat berlari, bukan yang mudah terengah-engah seperti halnya aku.
Maaf jika harapan-harapan yang telah kita ukir harus kita kubur disini. Maaf jika aku belum sepenuhnya memberikan kebahagiaan. Maaf.
Kali ini aku benar-benar ingin berhenti. Ya aku menyerah, ya kita berpisah.

No comments:
Post a Comment