Friday, October 24, 2014

Hanya Saja Saya Terlalu Keras Kepala


Sumber gambar: favim
Langit sedang marah. Atau bahkan malu; saat aku menyendiri di bangku taman kota. Semburat jingganya jatuh di pangkuanku, menimpa jemari yang sawo kecoklatan. Semilir angin dengan lembut menyapu anaksungai yang terburai dari pelupuk mata.

Ah, senja. Ia selalu menghadirkan simfoni sendu lagi rindu. Irama-iramanya dengan sangat sempurna menarik bulir-bulir air mata hingga menggenangi sudut-sudutnya.

Mungkin semesta marah dengan langitnya yang merah; akibat ulahku. Aku yang terus saja menggantungkan berpuluh harapan kepada ia; yang bahkan memperhatikan kehadirankupun tak pernah.

Atau mungkin semesta cemburu dengan semburat jingganya yang malu-malu. Perihal ia yang tak bisa berbesar sabar dalam mencintai seseorang yang bahkan menganggapnya ada pun hanya bualan seperti yang kualami.

Atau mungkin semesta murka. Hingga ia menampar keras pipiku dengan senjanya yang syahdu. Seolah ingin menyadarkan akal sehatku yang telah lama cacat, lalu bersabda dengan keras bahwa tak ada gunanya memperjuangkan cinta sendirian. Hanya akan menambah luka perasaan.

Hanya saja aku yang terlalu keras kepala perihal mencintai dan memperjuangkan sesuatu. Tak peduli jika kelak akhirnya melukai diriku sendiri.

Ya

Hanya saja

Saya

Terlalu

Keras

Kepala

No comments:

Post a Comment