![]() |
| Sumber gambar: favim |
Ah, senja. Ia selalu menghadirkan simfoni sendu lagi rindu. Irama-iramanya dengan sangat sempurna menarik bulir-bulir air mata hingga menggenangi sudut-sudutnya.
Mungkin semesta marah dengan langitnya yang merah; akibat ulahku. Aku yang terus saja menggantungkan berpuluh harapan kepada ia; yang bahkan memperhatikan kehadirankupun tak pernah.
Atau mungkin semesta cemburu dengan semburat jingganya yang malu-malu. Perihal ia yang tak bisa berbesar sabar dalam mencintai seseorang yang bahkan menganggapnya ada pun hanya bualan seperti yang kualami.
Atau mungkin semesta murka. Hingga ia menampar keras pipiku dengan senjanya yang syahdu. Seolah ingin menyadarkan akal sehatku yang telah lama cacat, lalu bersabda dengan keras bahwa tak ada gunanya memperjuangkan cinta sendirian. Hanya akan menambah luka perasaan.
Hanya saja aku yang terlalu keras kepala perihal mencintai dan memperjuangkan sesuatu. Tak peduli jika kelak akhirnya melukai diriku sendiri.
Ya
Hanya saja
Saya
Terlalu
Keras
Kepala

No comments:
Post a Comment