Monday, February 24, 2014

Surat Untuk D.

Sumber gambar: Google
Aku tahu, kamu tak akan pernah membaca sedikitpun suratku ini karna kesibukanmu yang tak pernah bisa diganggu.

Aku tahu, perhatianmu tak akan pernah sedikitpun tertuju pada gugusan aksara tak bermaknaku ini.

Aku tahu, kamu tak akan ada waktu untuk sekedar membuka lipatan kertas surat untukmu dariku karna jadwalmu yang parah.

Aku tahu, sekalipun kamu membuka lipatan suratku ini kantuk akan segera datang mengunjungimu dan akhirnya suratku hanya akan menjadi sampah dalam ranjangmu.

Aku tahu, kamu sudah sangat lelah jika harus membaca suratku yang membosankan.

Aku tahu, kamu pasti bosan menerima surat-surat dari pengirim yang sama, aku.

Namun aku juga tak akan lelah untuk terus menulis surat kepadamu, entah kenapa.

Namun aku juga tak pernah bosan membanjiri kotak suratmu dengan surat-suratku.

Entahlah aku hanya suka menulis segala tentangmu.

Entahlah, kamu, adalah objek hidup bagiku dalam hal menarikan jemari, menyusun aksara dan memainkan logika.

Entahlah, aku hanya bersemangat dalam hal menuangkan hal-hal yang aku alami ke dalam gugusan abjad sambil membayangkan senyummu.

Entahlah.

Aku hanya ingin mengingatkan pada diri sendiri saja bahwa aku dan kamu pernah ada. Bersama. Berbahagia. Karna aku yang pelupa. Dan ingatanku yang dangkal hanya dalam mengingat peristiwa.

Tak apa, jika suratku tak pernah kau jamah. Tak apa, jika tulisanku tak pernah kau anggap. Tak apa, jika kotak suratmu selalu kau abai.

Maka semua itu tak akan menghentikan jemariku menarikan namamu. Maka semua itu tak akan menyurutkan langkahku untuk semakin bersemangat merebut perhatianmu.

-Tertanda: pendamba bahagia dengan hati penuh luka-

Sunday, February 23, 2014

Kepada Pemilik Hati yang Luka

Sumber gambar: Google
Semalam aku mendapat pesan singkat darimu. Kamu bilang kamu ditinggal pergi begitu saja oleh orang terkasihmu. Aku.. sedikit ingin tersenyum mendengarnya. Namun air matamu memaksaku untuk menahan tawaku, lalu ikut bersedih mendengar kisahmu.

Aku tahu, hatimu sedang kacau. Aku tahu, saat ini hatimu sedang rapuh. Aku pun tahu, hatimu kini tak lagi sama seperti semula. Aku juga tahu, hatimu kini berserakan menjadi serpihan. Sakit? Yayaya, dimana-mana terluka itu sakit. Dokter ahli pun akan setuju kali ini dengan pernyataanku.

Tak apa, Sayang. Sakit hati itu wajar. Dalam mengarungi lautan kehidupan, kamu tak akan berlayar dengan mulus bersama perahumu. Dalam perjalananmu, pastilah akan ada angin sepoi-sepoi yang mengelus-elus rambutmu dengan halus. Suasana damai yang mengundang kantuk untuk datang menghampiri pelayaranmu.

Namun jangan terlena, Sayang. Bisa saja angin sepoi-sepoi itu dengan usil memanggil teman-teman satu gang-nya dan memporak porandakan perahumu. Maka yang ada bukanlah tidur yang menenangkan, melainkan perahumu yang hancur dan kepalamu yang pening. Lalu kamu akan merutuk menyalahkan angin. Sayang, ini bukanlah salah angin tapi salahmu. Karna kamu telah terlena dengan angin sepoi itu.

Sudahlah usah kau menangisi dia. Sudah menjadi hukum alam bahwa pertemuan selalu diakhiri dengan perpisahan. Lantas kita bisa apa? Jika sudah saatnya alam mendatangkan perpisahan pada kebersamaanmu, maka berikanlah senyuman terbaikmu.

Katakan "Terimakasih!" dengan senyuman lebar dan pelukan hangat tanda perpisahan dengan orang yang pernah menjadi bagian dari hidupmu itu. Katakan "Semoga adanya kita dahulu dan apa yang telah kita lalui menjadi pelajaran bagi kita masing-masing untuk menjadi yang lebih baik." dengan senyuman terbaikmu.

Lalu tugasmu setelah itu adalah instropeksi diri. Jangan terburu-buru mencari pengganti, nikmati saja jeda yang diberikan waktu sebagai bonus untukmu dalam memperbaiki diri. Jika memang dirasa kamu sudah benar-benar baik, maka waktu pasti akan memberikan kesempatan padamu untuk memilah dan memilih pengisi hatimu.

Sekarang, nikmatilah jedamu dulu, Sayang. Semoga kau menjadi pribadi baru yang lebih dan lebih baik lagi.

Saturday, February 22, 2014

Jangan Pergi, Tetaplah Disini

Sumber gambar: Google
Maka jika kamu pergi, bahu siapa tempat kepala ini bersandar selain pada bahumu? Adakah bahu lain yang mampu memberikan kenyamanan selayaknya bahu lebarmu? Aku tak yakin, tak pernah yakin.

Maka jika kamu pergi, kepada siapa senyuman terbaikku ini kuberikan selain padamu? Adakah seseorang lain yang mampu menarik tali simpul senyum di bibirku selain kamu? Aku tak yakin, tak pernah yakin.

Maka jika kamu pergi, siapa lagi yang akan menginspirasiku menulis ini semua? Adakah orang lain yang mampu membuatku begitu bersemangat menulis sesuatu selayaknya kamu? Aku tak yakin, tak 
pernah yakin.

Maka jika kamu pergi, kepada siapa kugantungkan rindu ini selain hatimu? Adakah hati lain yang bisa kujadikan tempat penggantung rindu? Aku tak yakin, tak pernah yakin.

Maka jika kamu pergi, kepada siapa kujatuhkan hati penuh lebam ini selain hatimu? Adakah hati lain yang bisa menjadi tempat ternyaman bagi hatiku untuk jatuh? Aku tak yakin, tak pernah yakin.

Maka jika kamu pergi, siapa lagi yang aku tunggu dalam menyemangati hari-hariku? Adakah sesuatu lain yang bisa menyemangatiku selain kamu? Aku tak yakin, tak pernah yakin.

Maka jika kamu tak pernah kembali lagi, untuk apa aku dan sang waktu bersahabat saling menghitung detik menanti kembalinya hadirmu? Sungguh hanya sia-sia.

Maka jangan pergi, tetaplah disini.

Tuesday, February 18, 2014

Segalanya Tetap Kamu

Sumber gambar: Google
Kuharap itu kamu, yang mengucapkan selamat pagi untukku. Namun ucapan itu datang dari mulut orang lain. Kuharap itu kamu, yang mengingatkanku jangan lupa makan. Namun yang datang malah orang lain. Kuharap itu bahumu, yang menyediakan bahunya untukku. Namun yang kusandari sekarang adalah bahu orang lain. Kuharap itu bibirmu, yang memberikan kecupan hangat di keningku. Namun yang mengecup keningku sekarang adalah bibir orang lain.
 
Kuharap itu tanganmu, yang mendekap erat tubuhku saat dingin malam mulai menyentuh. Namun pelukan yang kudapat berasal dari tangan orang lain. Kuharap itu senyummu, yang mengisi indahnya hariku. Namun kali ini yang datang adalah senyuman orang lain.
 
Yang selalu kunanti kedatangannya itu kamu. Namun entah kenapa yang datang malah orang lain. Kuharap itu kamu, yang menyematkan cincin pernikahan di jemariku. Namun yang menyematkan kini adalah orang lain. Kuharap itu kamu, orang yang kulihat sejak aku terbangun dari kamar. Namun yang kudapati bukan sosokmu, melainkan sosok orang lain.
 
Entah kenapa, harapanku tentang kamu tak pernah terwujud. Entah kenapa, yang kuharap tentang kamu namun yang datang malah orang lain.
 
Entahlah. Tapi kamu tetaplah yang kuharap selalu. Tapi harapanku tetaplah kamu. Harapanku tetap untukmu. Harapanku tetap segalanya tentangmu. Ya, semua tetap kamu.

Saturday, February 15, 2014

Surat Kaleng Buat Kamu

Kepada: Yang membuatku rindu setengah mati
Selamat, ng.. Entah pagi, siang, atau malam, saat surat ini sampai di tanganmu. Namun semoga kamu tetap dalam sehat dan bahagia. Disini doaku selalu menujumu. Disini harapanku condong padamu. Disini ingatanku selalu tentang kamu.
Aku mengirim surat ini bukannya aku takut berbincang denganmu, atau gemetar saat memandangmu. Hanya saja waktu tak pernah mengijinkan kita bertemu. Hanya saja kita sudah jarang bercerita panjang. Hanya saja kita sudah jarang duduk bersantai sambil menghangatkan malam. Hanya saja kamu terlalu memperhatikan kesibukanmu hingga jarang ada waktu denganku. Tak apa, aku terima saja. Toh itu semua itu demi cita-cita mudamu.
Jika memang pertemuan memang sulit terwujudkan, maka ijinkan suratku ini setidaknya menjadi perantara kita untuk saling melepas rindu. Membiarkan deretan-deretan huruf menjadi saksi betapa rinduku akan dirimu semakin hari semakin menggila. Kamu memang bak sabu. Membuatku selalu mencandumu. Membuatku selalu merindumu. Membuatku selalu ingin bersamamu.
Aku mengirim surat ini bukan karena aku malu berbicara padamu, namun rindu yang tak pernah berujung temu memerintahkan jemariku untuk terus menarikan namamu. Entahlah.. Aku hanya merindumu. Senyummu. Candamu. Tawamu. Suara bass-mu. Sentuhmu. Jemarimu. Pegangan eratmu. Nasihatmu. Perhatianmu. Semangatmu. Ucapan selamat pagimu. Dan kecupan selamat malammu.
Rindu memang selalu begitu. Jika tak dituruti maka akan semakin menjadi. Dan rinduku kini di level “menjadi-jadi” untukmu. Kira-kira kapan waktumu sedikit luang untuk mencairkan rinduku? Masih tak ada waktu kah? Masih padat kah jadwalmu? Masih asyik dengan kesibukanmu kah? Ya, disini aku hanya bisa sabar, dan pasrah saja. Sabar menanti kesibukanmu berkurang. Dan hanya bisa pasrah jika waktu, lagi-lagi waktu, tak mau tahu tentang rinduku.
Semoga waktu sedikit bersimpati dan mewujudkan temu di sela rinduku.

sumber gambar: Google

Friday, February 14, 2014

Pray For Kelud

Sumber gambar: twitter

Tadi malam, sekitar pukul 22.30 hari Kamis, 13 February 2014, salah satu gunung api aktif di Indonesia meletus. Berada di regency-ku, Jawa Timur. Letaknya di daerah Kediri-Malang-Blitar. Sekitar 45km dari daerah tempat tinggalku. Letusannya tadi malam terdengar sampai kamar. Kilatan cahaya merahnya terlihat dari langit bagian selatan. Gunung Kelud. Kini, hujan abu vulkanik mengguyur tidak hanya wilayah Jawa Timur, melainkan Solo, Yogyakarta dan daerah sekitar Jawa Tengah.
Untuk daerah yang dihujani abu vulkanik, lakukan hal-hal berikut:
Pakai masker. Kenapa? Abu vulkanik bisa menumpuk di paru-paru jika kalian tidak menggunakan masker. Dan paru-paru kalian akan ditumpuki material—material debu yang mengandung bahan berbahaya dari muntahan gunung Kelud.
Selain masker, jangan lupa pakai kacamata untuk mencegah iritasi. Abu vulkanik itu tajam. Bahaya. Kalau abu vulkanik masuk mata, jangan dikucek. Ketajamannya justru bisa menggores bagian mata. Stay safe. Kalau abu vulkanik terlanjur masuk mata, irigasi (bilas dengan air mengalir). Jangan dikucek, kornea bisa rusak.
Semoga bermanfaat.

Monday, February 10, 2014

Setelah Bertahan, Lalu Apa?

Selamat pagi. Semangat. Selamat mencari cinta sejati. Jangan pernah menyerah. Dan selamat berpindah dari dia yang dulu mengecewakanmu. Saatnya membuka hati selebar-lebarnya untuk dia, yang saat ini menunggumu menyambut cinta dan kasihnya. Saatnya membuka hati untuk dia yang sudah menyiapkan singgasana terindah buatmu. Saatnya berpindah kepada hati yang lebih baik. Saatnya berpindah kepada hati yang lebih bisa menerima hatimu.
 
Selamat mencari yang genap dari sosokmu yang ganjil. Selamat mencari yang bisa melengkapi kekuranganmu. Semoga mendapatkan yang lebih baik dari yang dulu. Semoga mendapatkan yang nyaman denganmu. Semoga mendapatkan yang lebih mengerti apa maumu. Semoga medapatkan yang bisa menerima segala kelebihan dan kekuranganmu. Semoga mendapatkan yang bisa membahagiakan. Semoga mendapat yang tidak hanya menerimamu saja, namun keluarga dan juga kebiasaanmu.
 
Sudah menemukan yang seperti itu? Maka tugasmu selanjutnya adalah mempertahankan. Ini adalah tugas paling berat. Karna mempertahankan itu tak semudah mendapatkan. Karna mempertahankan memerlukan energi banyak. Ya, bertahan saat dia mulai merajuk. Bertahan saat dia mulai bertingkah. Bertahan saat mulai mencari-cari kesalahan. Bertahan saat dia mulai sering marah-arah tak jelas. Bertahan saat dia mulai mengabaikan kehadiranmu. Bertahan saat hubungan kalian mulai dihinggapi arus deras keegoisan. Bertahan saat mulai muncul manusia-manusia pengganggu. Ya, bertahan. Berat, kan?
 
Namun, bertahanmu perlu ada kata saling. Karna jikalau hanya kamu saja yang bertahan tanpa ada saling, maka sia-sialah perjuanganmu dalam bertahan. Ya, bertahan harus ada kata saling. Saling mempertahankan. Saling memaafkan. Saling bersabar. Saling menguatkan. Dan saling jujur.
 
Setelah mendapatkan dan (saling) mempertahankan, lalu apa? Saatnya kamu membawa orang itu ke Kantor Urusan Agama. Mengucap kata akad. Saling berikrar janji di depan saksi. Mengikat janji didepan wali hakim. Megabadikan kebersamaanmu dengan keluarga besar. Menyatukan dua hati, dua keluarga, dua kebiasaan, menjadi satu kesatuan, menjadi keluarga baru. Keluarga kecil nan bahagia. Semoga kalian bisa sampai di taraf ini. Membangun keluarga kecil bahagia bersama orang yang sudah kalian dapatkan dan kalian (saling) pertahankan.
 
Semoga beruntung. ♥

Sumber gambar: Google

Saturday, February 08, 2014

Kamu. Canduku.

Sumber gambar: Google

Entah sejak kapan, hariku selalu dipenuhi oleh kamu. Entah mulai kapan, kamu menginspirasiku untuk menulis. Entah karena apa, kini aku sering mengabadikan sosokmu, dan segalanya tentang kamu, ke dalam tulisan-tulisan tak berbentukku. Entah sejak kapan, kamu menjadi objekku untuk terus menulis. Kamu selalu menginspirasi. Kamu selalu mewarnai hari. Kamu selalu menyemangati. Dan kamu selalu menentramkan hati.
 
Kenapa aku menulis? Kenapa aku mengabadikan segalanya dalam menulis? Entahlah, aku suka. Aku hanya suka. Aku hanya senang bermain-main dengan kata. Aku hanya suka memainkan huruf dan jemariku, sambil terus membayangkan kamu. Senyumanmu. Sosokmu. Dan sambil terus merasakan hangatnya kasih dari hatimu. Sambil terus merasakan kenyamanan dalam damainya hatimu. Sambil terus merasakan gebuan semangatmu. Sambil terus merasakan kebahagiaan disisi seseorang yang kunamakan itu Kamu.
 
Kenapa aku menulis? Mungkin salah satu alasannya adalah… Aku hanya tak ingin melewatkan sedikitpun moment-moment yang pernah aku alami, dan aku rasakan. Karna aku ingin dikenang, walaupun orang-orang mengenangnya lewat sekumpulan kata-kata yang berserakan di websiteku. Karena aku, dengan menulis, dan catatan, adalah salah satu cara agar aku bisa mengenang bahwa aku pernah ada. Aku pernah berkarya. Aku pernah sebahagia ini. Aku pernah sehancur ini. Aku pernah se-istimewa ini. Aku pernah sekecewa ini. Aku pernah sesakit ini. Dan satu lagi yang tak pernah lupa, bahwa tulisan-tulisan ini adalah bukti bahwa “kita” pernah ada.
 
Semoga akan ada kamu, dan selalu kamu, yang menginspirasiku untuk menyusun rapi kata demi kata dengan permainan sederhana jemariku. Semoga aku akan selalu menulis segalanya tentang aku, kamu, mereka, dan semua yang kurasakan semenjak kehadiranmu, hampir membuatku setengah gila.
Ijinkanlah aku, menulis segalanya tentang kamu, ya. Boleh?

Wednesday, February 05, 2014

Sabtu


Aku, satu dari sekian ribu orang yang selalu senang menanti sabtu datang. Bukannya apa-apa. Selain menunggu pertemuan dengan orang yang saat ini sedang mengisi hatiku, yang kusuka dari sabtu adalah ketenangannya. Kehangatannya. Kedamaiannya.

Karena aku hanya punya sabtu untuk melepaskan penat. Karena aku hanya punya sabtu untuk bernafas lebih panjang. Karena aku hanya punya sabtu untuk beristirahat lebih tenang. Karena aku hanya punya sabtu untuk berdamai dengan keadaan. Karena aku hanya punya sabtu untuk tertawa lebih keras. Karena aku hanya punya sabtu untuk tersenyum lebih lebar.

Karena selain sabtu, aku (hampir) lupa untuk bernafas. Karena selain sabtu, aku (hampir) lupa untuk tertawa. Karena selain sabtu, penatku bertumpuk menyerbu. Karena selain sabtu, istirahatku acak-acakan. Karena selain sabtu, segalanya tak pernah tenang.

Aaaaah, andaikan sabtu selalu berulang ulang dalam seminggu.. Maka hatiku tak akan menjadi pilu. Andaikan sabtu kutemui lebih banyak dalam seminggu.. Maka gembiralah alam kalbu. Andai sabtu selalu berulang, maka aku tak akan (hampir) lupa lagi untuk bernafas. 

Aaaah.. Sabtu. Hadirmu selalu kunanti. Kedatanganmu selalu membungahkan hati. Kebahagianmu akan selalu kubagi.

Monday, February 03, 2014

Datang. Lalu Pergi.

Ada yang datang. Kemudian pergi. Namun ada juga yang memilih untuk tetap tinggal. Yang datang, banyak. Yang membungahkan hati juga banyak. Yang lebih tampan tak terhitung. Yang berusaha mengambil hati turut mengantri.
 
Lalu, yang datang, kemudian pergi. Entah karena tak menemukan kecocokan. Entah karena tak memenuhi harapan. Entah karena tak memberikan kenyamanan. Entah karena tak sabar menunggu jawaban. Entah karena dilanda ketidakpastian. Entah apalah itu.
 
Namun, diantaranya, ada yang memilih bertahan. Namun, tersadar, ada yang memilih untuk tetap tinggal. Entah karena telah menemukan kenyamanan. Entah karena telah merasa ada kecocokan. Entah karena terlalu sabar menunggu jawaban. Entah karena terlalu rajin menanti kepastian. Entah apalah itu.
Entah.
 
Terimakasih sudah memilih untuk bertahan. Terimakasih sudah memilih untuk tetap tinggal. Disini. Disampingku. Di hatiku. Sekali lagi, terimakasih. Semoga ‘tinggal’mu bukan hanya sementara. Semoga ‘tinggal’mu itu selamanya. Semoga ‘tinggal’mu bukan bualan belaka. Semoga ‘tinggal’mu itu nyata.
Semoga. Dan akan aku amin-kan. Semoga. Dan kamu juga meng-amin-kan. Semoga. Dan semesta pun juga ikut meng-amin-kan. Semoga. Dan Tuhanku, juga Tuhanmu mengabulkan amin kita. Semoga.
Sumber gambar: my gallery