Friday, December 27, 2013

Orang Itu.......


Pernah sakit?
Pernah kecewa?
Pernah dikecewain?
Pernah dikhianatin?
Pernah merasakan hati hancur?
Pernah merasakan uring-uringan sendiri?
Pernah?!
Yakin, pasti semua pernah merasakan hal seperti diatas. Tak terkecuali aku, kamu, dia, kita, dan mereka. Seperti halnya aku. Aku pernah hampir mati. Fisik masih utuh, namun jiwaku seperti tiada. Hatiku hancur. Sehancur-hancurnya. Dikhianati oleh orang yang aku kasihi sepanjang waktu. Bahkan mungkin walaupun orang itu menyakitiku berulang kali, aku masih mengasihinya. Entah apa yang membuat diriku sehina ini untuk terus memujanya. Merindunya. Bahkan masih mengharapkannya. Padahal aku tahu, dan sepenuhnya sadar, orang itu tak mungkin kembali kesini, disisiku. Karena aku sadar sesadar-sadarnya orang itu sudah bahagia dengan pilihannya.
Sebentar. Aku tak sepenuhnya mengharapkan orang itu kembali. Aku hanya…… Hanya ingin tahu saja apa alasannya menghancurkan hatiku. Aku hanya ingin tahu saja alasan dia mengajakku terbang. Menggenggam erat tanganku. Membawaku terbang tinggi. Tinggi. Sampai menembus awan tebal, melewati lapisan langit pertama, kedua, ketiga, dan seterusnya. Tinggi. Sampai-sampai aku tak bisa melihat daratan di bumi. Tinggi. Tinggi sekali. Sampai-sampai badanku terasa ringan, melayang-layang seperti seorang astronaut yang sedang berada di bulan. Kemudian aku baru sadar orang itu membawaku terlalu tinggi. Terlalu jauh dari daratan. Tapi aku sedang melayang-layang, bersamanya. Disisinya. Dalam genggaman yang mendamaikanku. Selalu.
Namun, orang itu melakukan hal yang tak pernah kupahami. Orang itu, aku rasa, mengendorkan genggaman. Aku rasa, genggamannya mulai renggang. Namun orang itu tetap terbang. Sedangkan aku, sedikit oleng. Orang itu tetap terbang, tetap menengadah ke atas. Sedang aku, dirundung ketakutan karna aku tak bisa menyeimbangkan penerbanganku. Aku takut karna aku sudah terbang terlalu tinggi. Aku takut karna daratan terlalu jauh. Aku takut jatuh. Tapi orang itu tetap santai. Dan aku merasa, ada yang mengganjal. Sepertinya orang itu, dengan sengaja, mendorongku sangat kuat. Mengempaskan ragaku yang ringan bak melempar segenggam kertas lusuh ke jalanan.
Dan dengan tanpa paksaan, tanpa perlawanan, aku meluncur ke bumi. Gedebum! Keras sekali. Tanpa ada matras. Sakit. Ragaku berasa remuk. Tulangku serasa patah. Namun ada yang lebih sakit. Aku raba seluruh bagian tubuhku. Lebam. Tapi ada yang terasa lebih sakit. Setelah kutelusuri lebih dalam, ternyata ada yang pecah. Berkeping-keping. Hati. Remuk. Hancur. Tak berbentuk. Tak berdarah juga. Tapi terasa sakit. Aku coba bangkit, dengan berderai air mata. Namun tulang-tulangku tak kuat menyangga berat badanku sendiri. Aku tergeletak tak berdaya. Melihat sekeliling, mencari bantuan. Kemudian menengadah ke langit. Mencari sosok orang itu. Aku terperanjat. Kaget. Orang itu, aku kurang jelas. Penglihatanku kabur saat itu dikarenakan air mata yang terus turun. Namun dapat kupastikan, tangan kanannya sedang melambai-lambai ke arahku. Menertawakan keadaanku. Tawanya yang membuatku ingin segera menamparnya, namun aku tak berdaya.
Aku dibuat mati penasaran oleh orang itu. Apa motifnya melakukan hal seperti itu kepadaku. Jika menginginkanku pergi, minta saja. Katakan saja, punya mulut kan? Aku pasti juga akan pergi karena aku cukup tahu diri dan masih punya harga diri. Aku juga tidak sudi bersujud meminta orang itu untuk kembali. Tidak. Aku hanya perlu tahu alasannya. Bukan apa-apa. Tak ada yang lain. Tak ada keinginan kembali. Karena aku tahu, orang itu bukanlah orang yang baik untukku. Aku tahu, karena Tuhan membisikkan kepadaku bahwa orang itu bukanlah orang yang baik untuk menemaniku. Setidaknya, just give me a reason just a little bit enough lah!
Sumber gambar: favim

Pergi

Sumber gambar: tumblr

Pergi. Satu kata tapi bermakna. Pergi. Satu kata yang dahsyat pengaruhnya. Pergi. Satu kata yang bisa melukai hati banyak orang. Dan pergi. Adalah hal dimana hati harus mengikhlaskannya, entah itu dengan cara sadar atau terpaksa. Pergi. Menurutku, pergi adalah saat dimana aku meninggalkan semua hal yang berhubungan denganmu. Pergi. Adalah saat dimana aku tak bisa lagi menemani keseharianmu. Pergi. Adalah saat dimana aku dan kamu tak lagi menatap hari yang indah bersama-sama. Pergi. Adalah hal terberat dimana aku akan selalu merindukan sosok hadirmu namun kau tak bisa memenuhi kehadiranmu. Pergi. Adalah saat dimana aku tak lagi menjadi bagian dari hidupmu. Dan pergi. Adalah saat dimana hati masih ingin bersamamu namun keadaan memaksaku untuk mengkhianatinya.
 
Pergi. Entahlah, aku tak yakin bisa pergi jauh darimu. Kenapa? Karena setiap melihatmu, aku merasakan kehangatan dan kenyamanan. Merasakan bahwa kaulah rumah tempatku kembali setelah melakukan pergi. Entahlah. Entah ego atau logikaku yang memaksaku untuk pergi darimu. Namun hatiku selalu menahan keepergian ini. Hatiku terlalu bersimpati padamu sehingga aku gamang untuk pergi darimu. Tidak. Mungkin aku tidak akan pernah bisa pergi jauh darimu karena kaulah rumah tempatku kembali. Jangan. Jangan membenciku. Aku hanya menuruti ego untuk berniat pergi, tanpa ada dukungan dari hati. Jangan. Tetaplah disini, aku berjanji untuk meredam egoku dan menuruti apa maunya hatiku.
 
Jika suatu saat nanti aku memilih pergi, tolong jangan biarkan. Tolong, kumohon. Lakukanlah segala cara agar membuatku tetap disisimu. Lakukanlah segala hal agar aku mengurungkan niat untuk pergi. Tolong. Lakukan apapun agar aku, walaupun aku pergi, tetap akan kembali kepada rumahku, yaitu kamu. Tolong. Aku mohon. Dan mungkin aku dalam keadaan bersujud saat memintamu seperti ini.
 
Pergi. Adalah saat dimana aku dan kamu tak lagi menatap langit di balkon yang sama. Pergi. Adalah hal yang paling aku benci, karena pergi selalu beriringan dan bergandengan dengan yang bernama “kehilangan”. Aku tau, pergi dan kehilangan memang sepakat bersatu untuk menghancurkan hidup seseorang. Namun entah mengapa kali ini egoku ingin berteman dengan mereka. Sabarlah sedikit, jangan marah. Karena mereka tidak akan bisa berteman dengan baik karena hatiku telah kadung jatuh cinta padamu. Hatiku akan selalu membelamu. Selalu. Jangan biarkan aku pergi, ya? Kumohon. Karena aku tahu, pergi dan kehilangan adalah komposisi yang tepat untuk memporak-porandakan hati setiap orang. Aku tak mau pergi darimu. Aku tak akan mau.

Sunday, December 22, 2013

Selamat Hari Ibu♥



Selamat Hari Ibu!

          Sudah lakukan apa saja untuk Ibu kalian? Apa? Menciumi beliau? Memberikan kado kesayangan beliau? Memasakkan makanan favorit beliau? Aah, banyak sekali perwujudan kasih sayang kepada Ibu. Tolong dijaga para Ibu hebat itu, yang melahirkan seseorang yang hebat seperti kalian. Jangan… Jangan buat beliau kecewa, jangan. Karena hati seorang Ibu akan sangat lembut pada anak-anaknya. Jangan… Jangan pula kuras air matanya. Karena perasaan seorang Ibu begitu halusnya kepada anak-anaknya.

Bersyukurlah kalian-kalian semua yang masih memiliki Ibu disamping kalian. Bersyukurlah kalian-kalian semua yang masih bisa mendapatkan curahan kasih sayang dan pelukan hangat seorang Ibu. Bersyukurlah kalian-kalian semua yang masih mendapatkan kesempatan lebih lama untuk bersama Ibu kalian dari Tuhan. Bersyukurlah kalian-kalian semua yang masih bisa merengek-rengek di pangkuan seorang Ibu. Bersyukurlah.
Lihat, lihat mereka. Yang sudah kehilangan sosok Ibu disampingnya. Lihat, lihat mereka. Yang tak punya lagi Ibu untuk sekedar menyeka air matanya. Lihat, lihat mereka. Yang tak punya lagi Ibu untuk sekedar memanjakannya. Lihat, lihat mereka. Yang tak punya lagi Ibu untuk sekedar mendengarkan keluhannya. Lihatlah. Betapa kesepiannya mereka. Lihatlah. Betapa keringnya hati mereka dari kasih sayang Ibu. Lihatlah. Jangan hanya mementingkan egomu saja sehingga kau tega melukai hati Ibumu walau sedikit. Jangan. Jangan kau kuras air mata Ibu karena ulahmu. Jangan. Aku mohon.
Sayangi ia layaknya kekasihmu. Rawat ia layaknya barang kesayanganmu. Dengarkan ia layaknya kau dengar lantunan adzan yang berkumandang. Ungkapkan rasa cintamu kepada Ibu sekarang juga. Ya, sekarang juga. Sebelum kau menyesal karena waktu telah lebih dahulu meminta Ibumu bersamanya. Sebelum Tuhan meminta Ibumu disampingNya sebab kau tak bisa merawat dan menjaga Ibumu dengan baik. Sebelum kau menyesal tak bisa mendapati senyumannya lagi. Sebelum kau menyesal tak bisa mendapati sambutan hangat ketika kau pulang ke rumah lagi. Sebelum kau menyesal tak bisa mendengarkan kecerewetannya agar kau tak bertingkah nakal dan usil lagi. Sekali lagi, Selamat Hari Ibu untuk seluruh Ibu di seluruh dunia. Terimakasih telah melahirkan orang-orang hebat nan istimewa seperti kami semua. Terimakasih

SELAMAT HARI IBU!

Saturday, December 21, 2013

Kepada yang Bernama "Kehilangan"


Kalian pernah merasakan kehilangan? Entah itu kehilangan barang yang kalian sukai, entah itu ide yang sudah kau awang-awangkan, atau bahkan kalian merasakan kehilangan seseorang yang amat sangat kalian sayangi. Aku pernah. Bagaimana rasanya? Kesal kah? Marah? Kecewa atau bahkan kalian lumpuh? Entahlah, aku sendiri tidak bisa mendefinisikan bagaimana perasaan yang sedang aku alami saat aku menghadapi kehilangan. Bagiku, bagian organ tubuhku yang bernama “hati” terasa pedih, sakit, hancur berkeping-keping, namun anehnya tak berdarah ataupun bernanah. Aneh. Tapi sakitnya tak terperikan. Aneh. Tapi hancurnya lebih dari berkeping-keping. Aneh. Tapi terasa pedih, sangat pedih, oh tidak… amat sangat memedihkan.
Di dunia ini, aku pernah berkali-kali menghadapi kehilangan. Dan setiap kali “kehilangan” itu datang, aku tak kuasa untuk menatapnya. Bagiku, “kehilangan” adalah satu kata dalam kamus Bahasa Indonesia yang harus dimusnahkan. Agar tak ada lagi ribuan air mata yang jatuh karenanya. Agar tak ada lagi hati yang dihancurkan karena kehadirannya. Agar tiada lagi kecewa yang menyelinap ke dada karena perbuatannya. Kamu pernah kehilangan apa? Barang yang kalian suka? Pacar? Hahaa biasa. Aku? Aku berkali-kali kehilangan orang yang aku cintai. Aku berkali-kali menjatuhkan air mata untuk mereka. Aku berkali-kali mencoba bangkit setelah dikecewakan dengan “kehilangan” akan sosok mereka. Aku berkali-kali merekatkan serpihan hati yang telah hancur berkeping-keping karena “kehilangan” mereka.
Ibu. Dia adalah orang pertama yang memaksaku menghadapi “kehilangan”. Memaksaku menerima keadaan setelah adanya “kehilangan” yang rasanya tak lagi sama seperti sebelumnya. Di usia yang masih sangat muda aku terpaksa menghadapi segala macam bentuk serangan yang bernama “kehilangan”. Kedua adalah seseorang yang bernama kakek dan nenek. Mereka, adalah pengganti seseorang yang kupanggil “ibu”. Menggantikan sosoknya untuk merawatku, tapi “kehilangan” kembali mengambil mereka dari sisiku. Aku kehilangan lagi. Aku menangis lagi. Aku hancur lagi.
Selanjutnya, seseorang. Yang begitu aku sayangi, dan aku yakin ia juga menyayangiku. Siapa? Pacar? Bukaan! Ia lebih dari pacar. Ia adalah pengganti sosok “IBU” dalam perjalanan hidupku. Aku sebut ia “Kakak Perempuan”ku. Dengannya kutemukan sumber kesejukan. Dengannya kutemukan kasih sayang yang sempat terputus dari sosok “IBU”. Dengannya, kami bersama-sama menghadapi “kehilangan” yang kerap menghampiri hidupku. Selama seperempat abad aku bersama-sama dengannya. Selama seperempat abad aku merengek-rengek di pangkuannya. Ya, aku sudah menganggapnya bak Ibuku sendiri. Tapi, kali ini, sekarang, sesuatu yang bernama “kehilangan” kembali datang. Merebutnya dariku. Entah suaminya yang menghidangkan “kehilangan” tepat didepanku atau memang “kehilangan” ini memang dasarnya usil. Entahlah, aku tak tahu! Bukan. Bukan kehilangan yang berupa kematian. Hanya saja hidupnya kini diabdikan kepada suaminya. Bukan untuk mendampingi perjalanan hidupku, tapi untuk menemani suaminya merenda kebahagiaan dan kehidupan keluarga kecil mereka. Tapi tetap saja kan itu namanya kehilangan? Iya. Sudahlah kalian jangan bawel. Dengarkan saja ceritaku. Ya, aku mengalami “kehilangan” lagi kan? Sepertinya “kehilangan” sangat gemar menghampiri kehidupanku. Entah apa yang ia sukai dengan hidupku sehingga merebut setiap orang yang aku sayangi.
Tapi……… Aku masih punya seseorang lagi yang amat sangat aku sayang. Dia, yang selanjutnya aku panggil dengan sebutan “Ayah”. Ia, satu-satunya yang kumiliki saat ini. Satu-satunya penuntun hidupku, satu-satunya harta berharga yang kumiliki. Semoga Tuhan kali ini agak menghadang seseorang yang bernama “kehilangan” untuk sedikit lebih lama mampir kedalam kehidupanku.
Tapi……… sebentar. Sepertinya aku juga menemukan seseorang lagi yang berharga dalam hidup selain “Ayah”. Entah aku menemukannya tanpa sengaja ataukah Tuhan sudah mengaturnya. Siapa dia? Dia temanku. Teman lelakiku. Apa? Yakin hanya teman? Ng……… Terserahlah apa kata kalian. Bahunya sangat kokoh, bahu terkokoh kedua setelah “Ayah”. Bahu tempat dimana aku menyandarkan segala masalahku. Telinganya sangat lebar, telinga terlebar setelah “Ayah”. Telinga tempat dimana aku mencurahkan segala keluhanku. Hatinya sangat luas, hati terluas kedua setelah “Ayah”. Hati tempat dimana aku bertingkah salah tapi selalu saja ada maaf darinya. Mulutnya sangat bawel, mulut terbawel kedua setelah “Ayah”. Mulut tempat dimana aku diingatkan untuk tetap hidup mandiri, menerima segala cobaan.
Semoga Tuhan kali ini mendengar doaku. Semoga kali ini “kehilangan” sedikit mengerti apa maunya hatiku. Sedikit menunda kehadirannya ke dalam hidupku. Semoga dua orang itu tak harus menghadirkan “kehilangan” kedalam hidupku. Semoga Tuhan mendengar untaian “semoga”ku. Ya, semoga. Amin

Friday, December 20, 2013

Dia, Alihkan Duniaku


"Goodnight, my shinning star.”
Ya, itu adalah kutipan pesan singkat yang setiap malam selalu aku kantongi dari seseorang. Dari masa sekarangku. Hey, kamu, masa lalu dalam cerita “Memorable”. Masih ingat janjiku yang akan menceritakan padamu siapa sih yang sudah dengan berani mengalihkan duniaku darimu. Kamu penasaran, bukan? Semoga saja kamu masih penasaran. Kamu pasti bertanya-tanya, pria mana yang telah berhasil membuatku lupa segala sesuatu yang berbau namamu. Ya, kan? Dan kamu pasti heran, lelaki mana yang bisa menggantikan tempatmu di hatiku. Haha. Sudahlah jangan merengut begitu. Ikhlaskanlah. Toh kamu sudah punya wanita yang lebih bisa membahagiakanmu. Sekarang ganti aku yang bertanya, “Memangnya aku ndak bisa mencari kebahagiaan lain selain darimu?”
Sudah kamu jangan cemburu. Apa hakmu? Sekarang lihat aku. Aku bisa kembali berdiri dengan setegak-tegaknya dengan hati yang, ya walaupun penuh dengan perekat di sana-sini. Kamu tahu berkat siapa? Berkat dia, MALAIKATKU. Ternyata aku baru sadar tentang kehadirannya baru-baru ini. Padahal dia duluu, ya dulu yang pernah mencoba menyelamatkanku dari remuknya hatiku akibat ulahmu. Dia dulu yang pernah mencoba menghiburku, namun aku, dengan sikap keras kepalaku masih mengharapkan kehadiranmu. Ya, pria mana yang mau menjalin hubungan dengan wanita yang masih terus dibayang-bayangi dengan masa lalunya. Tidak ada, kan? Bodohnya aku, ya? Sudah kamu jangan nenertawakanku! Aku benci dengan senyum manis berlesung pipitmu itu!
Kau tahu? Malaikatku ini orangnya unik. Lebih unik darimu. Hey, maaf! Kenapa aku malah membanding-bandingkannya denganmu? Kamu tidak ada apa-apanya jika dibanding dia. Kamu? Kalah jauh! Kau tahu? Dia berani menemuiku dirumahku, malam minggu. Ke rumah anak gadis yang terkenal pendiam. Kau tahu? Dia berani berbincang-bincang dengan ayahku yang terkenal galak dan cuek. Kau tahu? Dia menguatkan mentalnya menemuiku dirumah ketika keluargaku berkumpul. Kau tahu? Dia yang selalu menyemangatiku dan mewarnai hidupku menjadi ribuan warna, lebih dari warna pelangi yang hanya sekedar mejikuhibiniu. Kau tahu? Dia selalu berusaha merangkul hatiku agar aku mau terbuka dengannya, menceritakan kesedihanku padanya. Kau tahu? Dia berusaha menghilangkan sekat pengalang antara aku dan dia, agar aku tak segan-segan untuk berbagi suka dukaku dengannya. Kau tahu? Dia selalu berusaha mensejajari apa maunya hatiku.
Kau tahu? Dia selalu berusaha menjadi sandaran saat aku sedang lemah tak berdaya, padahal sebenarnya aku tahu dia juga sedang membutuhkan sandaran pula. Kau tahu? Dia berusaha menjadi batu karang yang siap menerima luapan ombak kekesalanku akibat kepenatan dunia, padahal aku tahu dia juga sedang rapuh akibat tuntutan duniawi. Kau tahu? Dia berusaha menjadi alarm berjalan untuk sekedar mengingatkanku jangan lupa sholat, padahal aku tahu dia sedang ngantuk-ngantuknya. Kau tahu? Dia berusaha meluapkan segenap perhatian dan kasih sayangnya kepadaku, padahal aku tahu sebenarnya dia juga butuh perhatian dan kasih sayang. Kau tahu? Dia selalu mengingatkanku jangan lupa makan dan jaga kesehatan kepadaku bak dokter, padahal sebenarnya aku tahu dia juga belum tentu ingat makan dan menjaga kesehatannya sendiri.
Kau tahu? Dia selalu berusaha ada untukku sekalipun dia super sibuk. Kau tahu? Dia selalu menyapaku dan memberiku semangat lewat pesan-pesan singkatnya sekalipun dia sedang dalam keadaan sakit. Kau tahu? Dia selalu berusaha tersenyum dan bahagia didepanku sekalipun hatinya sedang dirundung gundah gulana. Kau tahu? Dia selalu berusaha tegar dihadapanku sekalipun dia sedang rapuh saat itu. Kau tahu? Dia berusaha memaklumi sikap kekanak-kanakanku sekalipun dia muak dan kesal meladeniku. Kau tahu? Dia selalu menghargai pendapat dan argumenku sekalipun hatinya berontak. Kau tahu? Dia selalu mendengarkan segala celotehanku sekalipun kupingnya panas dan hatinya bosan.
Dia adalah penyemangatku. Dia adalah sandaranku. Dia adalah batu karangku. Dia adalah alarm berjalanku. Dia adalah dokterku. Dia adalah pelangiku. Dia adalah pensil warnaku yang siap membantuku mewarnai dan memaknai hidup. Dia adalah pendengar setiaku. Dia adalah penuntunku. Dia adalah malaikatku.
Aku bersyukur Tuhan mempertemukanku kembali dengannya saat ini. Ya, aku ingat dulu Tuhan mempertemukanku dengannya melalui cara yang mungkin sedikit basi, melalui salah satu social media yaitu twitter. Itu karena ulah saah satu temanku yang selalu menggodaku, yang aku tanggapi dengan guyonan pula. Dia pun ikut nimbrung menggodaku tanpa ada niat apa-apa saat itu. Tapi kemudian mention-ku dan dia berlanjut ke Direct Message atau yang biasanya dikenal dengan DM. Awalnya dia meminta maaf karena ulahnya takut menimbulkan kecemburuan dari pacarku, padahal saat itu posisiku sedang sendiri. Ya, satu rahasiaku terbongkar. Dia tahu aku masih sendiri, dan posisinya juga saat itu telah sendiri, ya dia baru beberapa bulan yang lalu berpisah dengan kekasihnya. Sehingga dia mulai gencar melakukan personal message lewat nomor handphoneku, hingga sekarang. Basi, ya? Tapi tak apalah. Memangnya kenapa? Tuhan kan punya beribu-ribu cara untuk mewujudkan segala takdirnya.
Ya, Tuhan mempertemukanku dengannya saat dimana aku sudah sedikit melupakanmu karna waktu telah menjadi senjataku untuk memungsuhimu sejak dulu. Mungkin jika aku dengannya sudah dekat sejak dulu, maka akan lain ceritanya. Tak akan ada cerita-cerita dimana aku diapelin setiap malam minggu olehnya karena aku masih dilarang pacaran, ingat aku kan masih SMA sebelum dekat dengannya. Tak akan ada cerita dimana segenap keluargaku menerima kehadirannya. Dan tak akan ada cerita dimana ayah dan kakakku merestui hubunganku dengannya. Tak akan ada. Terimakasih, malaikatku. Kau datang disaat yang tepat.

Memorable (Part 2)

Kehadiranmu ditengah-tengah hubungan yang sedang aku jalin dengan teman baikmu saat itu membuatku sedikit mengacuhkannya. Sikapmu yang lebih memperhatikanku dan memanjakanku dari pada dia, memaksaku untuk mengabaikan kehadirannya. Sebentar, bukan memaksa. Buktinya, aku senang-senang saja mengabaikan sahabatmu itu. Mungkin lebih tepatnya, sikapmu menarikku untuk mengabaikan kehadirannya. Ya, aku sudah mulai berani bermain api denganmu. Di usia yang begitu muda aku sudah berani bermain-main dengan hati seseorang. Dan di usia yang masih belia itu aku sudah berani mengkhianati seseorang. Jahat ya! Tapi siapa yang patut disalahkan atas kejadian itu? Apakah harus menyalahkan cinta? Aku rasa tidak. Karna cinta bebas menghinggapi setiap orang yang masih punya hati. Aku dan kamu tentu masih punya hati kan?
Ataukah menyalahkan aku. Kenapa? Apa yang salah denganku? Aku sudah bersikap sesetia dan sebaik mungkin dengan sahabatmu itu. Akupun tidak mau aneh-aneh dalam sebuah hubungan. Tak pernah menuntut dan mendikte pasangan harus begini atau harus begitu, kok. Atau mungkin menyalahkan kamu. Ya, kamu yang datang disaat yang tidak tepat sama sekali. Ya, kamu yang datang membawa sejuta perhatian yang siap kau tumpahkan kepadaku. Oooh tidak. Aku tak terima orang-orang menyalahkanmu! Atau, semua akar permasalahan itu bersumber dari pacarku? Sahabatmu? Ya, dia yang tak pernah memberikan perhatian layaknya kamu. Ya, dia dan sikap cueknya yang tak pernah menunjukkan bahwa aku ini istimewa. Sedangkan kamu yang memperlakukanku bak orang yang begitu penting dalam hidupmu, tentu saja aku luluh dan jatuh kepadamu dan berpaling darinya! Ya, salahkan saja sahabatmu. Karnanya aku mencari kebahagiaan dari orang lain, bukan darinya. Dan semua itu kudapat darimu. Aaah aku tak tahu. Kadang pertanyaan itu tak perlu jawaban, bukan?
Hingga pada suatu hari, aku membulatkan tekadku untuk mengakhiri hubunganku dengan pacarku, yang sekaligus teman baikmu. Aku berpikir, lebih baik aku akhiri sekarang saja karna sekarang dan nanti akan sama saja. Sama-sama mengecewakan hatinya. Aku pikir, setelah aku akhiri hubunganku dengannya maka aku akan bisa bersama-sama denganmu lebih leluasa tanpa dianggap orang lain selingkuh. Mungkin jika kalian berada di posisiku, kalian akan melakukan hal yang sama, bukan? Ya, dan aku memutuskannya hari itu juga. Tak susah untuk mengungkapkan kata “putus” padanya. Meskipun sedikit kutangkap ekspresi kaget dari wajahnya, namun aku berusaha meyakinkannya bahwa aku sedang ingin sendiri. Ya, aku berbohong. Di usia semuda itu, pada seseorang.
Aku senang akhirnya bisa leluasa bersamamu tanpa sembunyi-sembunyi lagi. Tapi, hey ini bukan akhir. Aku merasa terbang terlalu tinggi saat bersamamu. Kau terlalu melambungkan mimpiku tanpa pernah sedikitpun menyiapkan matras untukku jika suatu saat aku terjatuh. Bukan aku yang sengaja jatuh, tapi kamu dengan sikap jailmu dan kesengajaanmu yang mematahkan segala harapanku hingga akhirnya aku terjatuh keras ke bumi. Keras, tanpa matras atau apapun itu. Keras, dan sakit. Itu yang kurasakan. Aku terjatuh, sendirian. Tanpamu. Karenamu. Sebabmu. Saat aku mencoba bangkit, aku tak kuasa menahan bebanku. Setelah aku telusuri setiap bagian diriku, kudapati ada satu bagian yang hancur. Hati. Ya, hatiku telah hancur. Remuk, lebih dari berkeping-keping tersebab olehmu. Lantas aku tak bisa berbuat apa-apa karena aku sudah tidak punya daya. Hatiku sakit, bagaikan ribuan mata pedang yang dengan sengaja dan seenaknya kau tancapkan begitu saja ke ulu hatiku. Sakit. Duniaku kelabu, mendung. Abu-abu.
Sumber gambar: Google
Aku ingin marah. Kenapa tak aku siapkan sendiri saja matras agar saat aku terjatuh olehmu, aku masih bisa melompat kembali dan mensejajari langkahmu. Tapi apa dayaku? Hei! Kenapa kamu setega itu menjatuhkan aku? Aku kira kamu adalah orang yang benar-benar tulus mencintaiku. Aku kira kamu adalah orang baik yang tak mungkin tega dengan sengaja mematahkan anganku. Aku kira kamu akan menyiapkan matras untukku saat aku terjatuh. Cuih! Omong kosong. Kamu bahkan dengan tanpa merasa bersalah melambaikan tangan ke arahku. Seakan mengucapkan “Selama tinggal, ya! Hati-hati jangan mudah dibodohi.” kearahku.aku tersenyum kecut. Sakit. Seperti luka yang disiram dengan air garam. Benar-benar sakit. Seharusnya aku sadar dari awal bahwa sikapku dan sikapmu itu salah. Seharusnya aku sadar aku dan kamu tidak boleh melukai hati orang lain jika ingin bersama. Seharusnya aku sadar dari awal.
Sumber gambar: Google
Ya, mungkin Tuhan ingin memberiku satu dari ribuan pelajaran berharganya. Mungkin Dia ingin menyampaikan bahwa "sesuatu yang berawal dari hal yang tidak baik tidak akan menjadi akhir yang baik". Satu pesanku, kalian yang membaca ini jangan suka bermain api, ya? Jika api itu membesar maka dia akan melahap kalian tanpa ampun. Seperti kamu dalam cerita ini, API.

Memorable (Part 1)


Pagi ini aku ingin menulis tentang kamu. Ya, kamu. Yang dulu pernah nenghiasi hatiku. Ya, kamu. Yang dulu pernah menjadi bagian dari hidupku. Ya, kamu. Yang dulu pernah menemani seperempat dari seperempat perjalanan hidupku. Haha. Seperempat dari seperempat? Iya. Singkat sekali. Bahkan tak sampai menahun. Tentang kamu, yang tak lagi ada disini, disisiku. Menemaniku. Tentang kamu, penghancur hatiku.
Hey, kamu apa kabar? Aku dengar, kamu sudah punya pacar baru ya? Iya? Oh.. Selamat, ya! Sebentar, akan aku interupsi perkataanku tadi. Aku tidak hanya mendengar, tapi melihat dengan mata kepalaku sendiri. Asal kamu tahu, tiap pagi dan malam aku memantau akun facebookmu. Merefresh kronologimu. Hingga aku shock saat menemukan sebuah foto yang kamu jadikan sampul halaman facebookmu. Ya, itu fotomu kan? Dengan pacar barumu? Mataku mengatakan itu adalah foto saat kamu dan pacar barumu merayaan ulang tahun. Entah siapa yang merayakan untuk siapa, aku tak mau tahu lagi keadaanmu sejak aku tahu kamu sudah punya kekasih baru. Sepertinya kamu tidak cocok dengan dia. Hah, ngomong apa aku ini? Haha maaf, ya? Apa? Kamu menganggapku cemburu? Jangan GR dulu! Aku tak akan lagi mencemburuimu dekat dengan wanita lain. Tidak akan. Karena, apa hakku mencemburuimu? Tapi akan aku kemukakan alasan lain. Karena aku sudah punya seseorang pengganti sosokmu. Nanti, nanti akan aku ceritakan seseorang yang telah mampu mengalihkan segala duniaku yang awalnya tertuju padamu hingga akhirnya duniaku berpaling dari kamu. Iya nanti akan aku ceritakan bagaimana dia, hidupnya, dan segala caranya untuk menarikku kembali ke alam sadar. Alam dimana aku sudah tidak punya daya untuk mendampingi hidupmu. Iya nanti saja ya? Sekarang aku kan sedang membahas kamu!
Mengenai kecocokanmu dengan pacar barumu itu…. Ya, aku mengakuinya. Kamu sangat cocok dengannya. Sepertinya kamu bahagia ya? Hey, kok aku seperti orang bodoh begini sih? Jelas kamu bahagia lah. Kalo tidak bahagia, kenapa sampai sekarang masih bertahan. Ya kan? Iya, maaf maaf. Mungkin aku grogi. Iya, grogi. Sudah tahunan kita kan sudah hilang komunikasi. Blaaaaassss. Mangkanya aku grogi tiap bercakap-cakap denganmu, hehe. Maaf ya.
Aaah apalah arti sebuah hubungan yang masih dipertahankan sampai sekarang. Mungkin saja kamu sebenarnya sudah ingin berpindah ke lain hati karena bosan dengan sikap pacarmu. Atau mungkin pacarmu sudah tidak tahan lagi menghadapi keegoisanmu. Atau kalian sama-sama ingin berpisah tapi tak ada yang berani memulai. Atau mungkin kalian sama-sama bosan, ingin mencari kesenangan dari orang lain tapi kalian takut untuk berkata saling jujur sehingga kalian sama-sama memutuskan untuk berselingkuh. Aaah rahasia hati, hanya Tuhan dan si pemilik hati itu kan yang tau?
Sumber gambar: Google
Hey, kamu masih ingat bagaimana dulu “kita” saat menjadi sepasang kekasih? Ya, “kita” yang sekarang tak lagi menjadi “kita”. Masih kan? Jangan, jangan tanya aku. Aku tentu tak hanya mengingatnya, aku bahkan menghafal setiap moment-moment ketika “kita” bersama-sama dulu. Kamu ingat? Dulu kamu sering menjahiliku dengan mencabut pita rambutku. Setelah berhasil meraih pita itu dariku, kaupun berlari menghindari kejaranku. Rasanya aku ingin menggaprek wajahmu saja saat itu. Tapi kamu dengan ketawa mengejek sambil menjulurkan lidah malah semakin gencar menggodaku. Mataku hampir mau berlari sendiri ketika aku dengan dada penuh kekesalan memelototimu. Tapi reaksimu? Kamu malah senyum-senyum sendiri. Mungkin itu kode darimu yang ingin melihatku tampil dengan rambut terurai. Hingga aku lelah meladeni kejailanmu dan berhenti mengejarmu, akhirnya kaupun mengembalikan ikat rambutku sambil mengucek-ucek poniku sampai berantakan. Satu kata, luluh. Kamu jail!
Aku ingat pertama kali kita berkenalan. Saat kamu dan aku ditakdirkan untuk menjadi satu kelompok dalam sebuah tugas bahasa Indonesia, tugas bermain drama. Saling bertukar nomor telepon dan mulai intens berbincang. Tentu saja berbincang masalah tugas itu. Mulai intens bersama-sama, tentu saja untuk mengerjakan tugas. Mulai dekat karna pacarku dulu adalah teman baikmu. Kebersamaan “kita” berlanjut di pesan singkat. Ya, kamu tak ragu mendekatiku walaupun kau tahu aku sudah punya pacar. Ya, kamu tak ragu mendekatiku walaupun kau tahu pacarku adalah teman baikmu. Kamupun tak segan-segan memberikan perhatian lebih kepadaku. Gurauan-gurauan aneh yang kau tunjukkan membuatku sedikit demi sedikit mulai memperhatikan ke’ada’anmu. Perhatian-perhatian kecilmu membuatku sedikit demi sedikit mulai memperhatikan sosokmu. Ya, wanita memang lemah jika sudah menyangkut perhatian dari seorang lelaki. Wanita akan dengan mudah luluh akan perhatian dan pengertian seorang lelaki. Bukankah memang wanita ingin dimengerti dan dikasihi?