Sunday, March 13, 2016

Di Persimpangan Kala Itu

Rintik hujan sudah berkali-kali mengecupku sejak jam besar di gedung kota menunjuk angka 3, angka kesukaanmu.
Hingga senja jatuh di pangkuan, aku masih berdiri di tempat yang sama, di persimpangan dekat kedai yang sering kita kunjungi dulu.

Hujan kali ini mengacak-acak loker memori yang sudah kususun rapi dan terstruktur sesuai urutan kedatangan. Menarik dengan paksa ingatan tujuh ratus dua puluh lima hari yang lalu, ingatan tentang persimpangan jalan dimana kakiku berdiri. Dan kita. Memecah kepingan hati yang susah payah kusulam dengan rindu dan tabah agar tak kepalang berantakan.